Contoh Sistem Pertanian Berkelanjutan

Diposting pada

Penerapan Sistem Pertanian Berkelanjutan

Sistem konvensional atau pertanian tradisional di kehidupan sehari-hari khususnya di daerah pedesaan masih banyak yang menggunakan sistem tersebut. Namun, pertanian secara konvensional hanya berkonsep pada bagaimana cara meningkatkan produksi sebanyak-banyaknya tanpa memikirkan dampak bagaimana dampak selanjutnya pada ekologi pertanian.

Akan tetapi pada saat ini penerapan sistem pertanian mulai berkembang dari sistem yang konvensional, hingga pertanian modern sampai pertanian berkelanjutan. Di dunia pertanian modern tidak hanya berpacu terhadap pengembangan teknologi yang pesat, tetapi juga bagaimana penerapan pertanian yang berwawasan lingkungan.

Pertanian Berkelanjutan

Pertanian berkelanjutan adalah menekankan bagaimana pengaruh sekaligus dampak terhadap lingkungan dalam jangka panjang, peningkatan hasil produksi, pengaruh terhadap sosial budaya dan pengembangan bisnis di sektor pertanian.

Pertanian Berkelanjutan Menurut Para Ahli

Menurut para ahli pengertian berkelanjutan adalah sebagai berikut;

  1. Menurut FAO (1989), pengertian pertanian berkelanjutan merupakan metode dalam pengelolaann konservasi lingkungan dan berorientasi dalam hal pengembangan teknologi dan kelembagaan yang dilakukan dengan tujuan untuk menjamin pemenuhan dan pemuasan kebutuhan manusia secara berkelanjutan bagi generasi sekarang dan mendatang.
  2. Menurut Deplu (2002), definisi pertanian berkelanjutan yaitu bagaimana upaya pemenuhan kebutuhan hidup manusia saat ini tanpa mengorbankan kemampuan pemenuhan kebutuhan hidup generasi yang akan datang.

Contoh Penerapan Sistem Pertanian Berkelanjutan

Selain pengertian, terdapat beberapa contoh penerapan dalam sistem pertanian berkelanjutan baik di Indoneisa maupun dunia, antara lain sebagai berikut:

  1. Pengendalian hama penyakit hayati

Pengendalian berabagi jenis hama tanaman dan penyakit merupakan salah satu hal yang penting untuk dijadikan perhatian terhadap produksi pertanian. Pengendalian hama dan penyakit pada beberapa tahun belakangan ini masih menerapkan pestisida dalam pengendalian hama, khususnya pada pertanian konvensional.

Namun, untuk saat ini kementrian pertanian mulai mengembangkan teknolgi yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan yaitu dengan pengendalian hayati. Metode ini dapat dilakukan dengan memanfaatkan sistem kerja alam seperti musuh alami, trap atau jebakan, serta antagonis dalam mengurangi serangan hama.

Musuh alami berperan sebagai predator atau pemangsa hama untuk menekan populasi. Tujuan dari pemanfaatan musuh alami yaitu untuk menekan populasi agar rantai makanan tetap stabildan tidak terjadi ledakan populasi hama.

Penggunaan jebakan seperti tanaman refugia juga dapat memerangkap hama golongan serangga karena bersifat atraktan atau menarik serangga, selain itu metode ini juga lebih ramah lingkungan daripada menggunakan insektisida. Insketisida yang mengendap pada tanaman tidak aman dikonsumsi oleh manusia.

Selain hama, dalam pengendalian penyakit dapat menggunakan antagonis seperti misalnya jamur fusarium yang dapat ditekan pertumbuhannya denga trichoderma sehingga kebusukan pada akar tidak terjadi.

  1. Pemanfaatan agen hayati

Kondisi tanah yang perlu diperhatikan saat ini adalah bagaimana cara menyuburkan tanah tanpa harus merusak sifat fisika kimia maupun biologi tanah. Salah satunya dengan memanfaatkan agen hayati pada pertanian.

Pemanfaatn agen hayati biasanya bertujuan memfiksasi arti unsur hara seperti unsur N maupun pelarut hara P dan K dan mengikat unsur hara lainnya. Agen hayati bermanfaat juga sebagai pelindung tanaman dengan mempertebal jaringan kulit tanaman sehingga tanaman resisten terhadap serangan hama penyakit.

  1. Pertanian organik

Semakin hari, kesadaran masyarakat mengenai lingkungan mulai meningkat, salah satunya dengan bertani organik. Bertani organik adalah suatu metode pertanian yang tidak menggunakan bahan kimia buatan dalam proses budidayanya. Semua unsur budidaya berupa alami dan organik.

Pertanian organik memiliki konsep “semua yang diambil dari alam harus dikembalikan ke alam untuk menjaga keseimbangan”. Konsep tersebut dimaksudkan apabila hasil atau sisa pertanian dapat diolah lagi dan dapat dimanfaatkan dalam pertanian.

Salah satunya adalah pemupukan. Pemupukan tanaman menggunakan sisa-sisa seresah tanaman. Pestisida yang digunakan juga menggunakan bahan-bahan alami yang bersifat toksik terhadap seranga.

  1. Agroforestri

Agroforestri merupakan budidaya tanaman pertanian yang dibarengi dengan tanaman kehutanan. Metode agroforesti adalah untuk pencegahan penebangan pohon sebagai pembukaan lahan hutan sebagai lahan pertanian.

Faktor sosial dan kebudayaan juga menjadikan agroforesti sebagai konsep pertanian berkelanjutan yang paling ramah dengan alam. Menjaga kelestarian pohon yang dilindungi sekaligus menerapkan pertanian untuk mensukseskan ketahanan pangan nasional.

Metode agroforesti dapat dilakukan dengan menggunakan tanaman yang tahan naungan sekaligus tanaman yang dapat dibudidayakan tanpa perawatan yang intensif. Selain itu, hutan yang masih ada tetap lestari karena adanya diversifikasi yang baik terhadap hubungan timbal balik lingkungan..

  1. Rotasi tanaman

Rotasi tanaman merupakan salah satu penerapan sistem pertanian berkelanjutan. Hal ini merupakan metode pergiliran tanaman agar tanaman dapat menyesuaikan dengan lingkungan. Dengan menyesuaikan kondisi di lapangan, maka input pada lahan pertanian dapat diminimalkan sehingga mengurangi adanya residu yang berlebih pada penerapan budidaya secara rotasi.

  1. Bioteknologi

Bioteknologi pertanian  merupakan salah satu solusi dalam pertanian masa depan yang memanfaatkan aktivitas suatu mikroorganisme untuk menghasilkan produk dari proses biologi.

Bioteknologi meskipun memiliki cakupan luas, namun dalam pertanian metode ini banyak dikembangkan untuk keperluan inovasi produksi. Dengan mengubah susunan genetika tanaman yang rentan serangan  hama mampu meminimalkan penggunaan pestisida tanaman.

Selain itu, bioteknologi yang menghasilkan produksi tanaman yang lebih tinggi juga memberikan dampak terhadap pengurangan input seperti pengolahan lahan yang tinggi. Sehingga sedikit banyak mampu menjaga lingkungan dari pengolahan yang berlebih.

  1. Pertanian terintegrasi

Pertanian terintegrasi merupakan pertanian yang saling berhubungan dan memiliki peran terhadap masing-masing sektor produksi. Integrasi sendiri memeiliki makna yaitu pembauran yang menciptakan satu kesatuan. Sehingga dalam sistemnya dilakukan penerapan pertanian yang saling terhubung dan menjadi satu dalam sistem pertanian.

Pertanian terintegrasi memiliki tautan antar sektor seperti peternakan, pertanian, pangan, energi, bahkan lingkuan. Pertanian ini dikelola dari hulu ke hilir dan kembali lagi hingga membentuk siklus pertanian yang berkesinambungan.

  1. Pemanfaatan tanaman penutup/cover crop

Tanaman sejenis rumput-rumputan sering diartikan sebagai gulma dan perlu dibasmi keberadaanya. Namun, sekarang tanaman rumput-rumputan memiliki peranan penting sabagai tanaman penutup.  Tanaman penutup biasanya merupakan tanaman yang lebih tahan terhadap kondisi stres air dan tahan kekeringan.

Tanaman penutup berperan untuk mengurangi penguapan pada permukaan tanah sehingga suplai air di dalam tanah tetap terjaga. Selain itu, tanaman ini dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak yang memiliki nilai gizi tinggi sekaligus tanaman pencegah erosi.

  1. Biofuel

Sisa-sisa atau limbah pertanian biasanya dibuang dan tidak dimanfaatkan. Padahal limbah-limbah pertanian dapat diolah kembali dan dijadikan bioenergy ataupun biofuel.

Pengolahan limbah pertanian dapat dijadikan bahan bakar atau bioenergy dengan bantuan dari bakteri dan melalui tahapan fermentasi. Proses fermentasi dari tanaman dapat menghasilkan gas metana sebagai bioenergy ataupun bioethanol sebagai biofuel.

Pengolahan limbah ini selain bermanfaat dalam hal energi terbarukan, limbah-limbah sisa dari produk pertanian mampu mengurangi dampak kerusakan lingkungan akibat pengolahan yang kurang tepat.

  1. Revegetasi

Istilah revegetasi merupakan istilah dalam perbaikan lingkungan dengan pengolahan lahan bekas tambang untuk dikembangkan kembali menjadi lahan pertanian. Revegetasi biasanya dilakukan untuk lahan-lahan yang fungsional tambang yang tidak aktif dan diperbaiki agar tanah menjadi subur kembali.

Perbaikan lahan bekas tambang yang diolah kembali merupakan salah satu langkah dalam pertanian berkelanjutan karena memikirkan jangka panjang mengenai dampak tambang terhadap lingkungan.

Solusi dari pertanian konvensional adalah dengan menerapkan konsep yang lebih berorientasi tidak hanya pada produksi tetapi juga pada ekologi lingkungan. Tanaman tidak hanya sehat dan aman dikonsumsi, namun juga mampu mecegah terjadinya kerusakan agroekosistem.

Itulah serangkain bentuk penjelasan serta pengulasan yang bisa kami bagikan pada semua pembaca berkaitan dengan contoh sistem pertanian dengan konsep berkelanjutan yang ada di Indonesia dan berbagai belahan dunia. Semoga mengedukasi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *