Contoh Rotasi Tanaman dalam Pertanian

Diposting pada

Contoh Penerapan Rotasi Tanaman

Dalam arti pertanian banyak sekali proses-proses usaha yang dilakukan sebagai bentuk dari upaya untuk meningkatan produksi di bidang pertanian. Banyak para petani melakukan upaya-upaya dalam menigkatkan hasil produksi seperti penggunaan varietas unggul, pemupukan, pemeliharaan, dan juga penggunaan pola rotasi tanaman untuk menghindari kegagalan panen dan juga sekaligus menyesuaikan dengan kondisi cuaca.

Salah satu upaya dalam mengatasi krisis pada hasil produksi pada lahan pertanian adalah dengan memanajemen buidadaya tanaman dengan menggunakan sistem rotasi. Tanaman yang dilakukan rotasi adalah tanaman yang sesuai dengan kondisi cuaca yang sedang terkjadi saat itu. Hal ini berlaku juga untuk menjaga agar terhindar dari serangan hama yang menyerang tanaman.

Rotasi Tanaman

Rotasi tanaman sendiri secara garis besar adalah suatu upaya melakukan pergantian tanaman pada suatu areal lahan pertanian baik pada jenis lahan pertanian seperti arti sawah, definisi kebun, maupun pertanian pekarangan. Penggunaan sistem rotasi pada umumnya sering dilakukan pada tanaman yang memiliki umur tanaman yang relatif pendek atau pada tanaman semusim.

Dalam istilah lain sistem rotasi pertanian di beberapa daerah sering disebut dengan istilah tumpang gilir. Tumpang gilir secara bahasa berasal dari Bahasa Jawa yang berarti pergiliran pertanaman pada suatu lahan atau waktu tanam digilir disesuaikan dengan mangsa atau waktu budidaya.

Contoh Rotasi Tanaman

Dan dari banyaknya istilah tersebut dapat kita gambarkan beberapa contoh sistem rotasi tanaman yang sering dilakukan di dunia pertanian;

  1. Tanaman sayuran daun

Gambar Rotasi Tanaman sayuran
Rotasi Tanaman Sayuran

Tanaman sayuran khusunya tanaman sayur daun merupakan tanaman yang sering ditanam oleh para petani. Hal ini dikarenakan tanaman ini merupakan tanaman yang memiliki umur panen yang relatif singkat daripada tanaman yang banyak dibudiaya oleh petani pada umumnya.

Tanaman sayur daun merupakan tanaman yang memiliki umur panen yang relatif singkat yakni berkisar antara 30-45 hst (hari setelah tanam). Daya panen cepat tanaman juga memiliki korelasi yang positif terhadap penyerapan unsur hara pada tanah di areal lahan pertanian.

Dalam mengatur kondisi seperti ini perlu dilakukan rotasi tanaman seperti pergantian jenis tanaman seperti dilakukan penanaman kacang-kacangan atau jenis tanaman leguminase. Alternatif lain, penggunaan tanaman lain seperti tanaman sayur rambat untuk mengurangi serangan berbagai jenis hama tanaman pada areal kebun.

  1. Tanaman buah-buahan

Gambar Rotasi Tanaman Buah
Rotasi Tanaman Buah

Jenis tanaman buah-buahan pada umunya dirotasi atau ditumpang-sarikan dengan tanaman sayuran atau sayuran buah. Hal ini karena kebutuhan untuk tanaman buah lebih kepada penyerapan unsur K dan unsur P karena unsur tersebut berperan penting dalam proses pembungaan dan juga pembuahan dari tanaman.

Beberapa tanaman buah memang dapat dibudidayakan dalam kurun waktu singkat atau dapat dikatakan tanaman buah semusim. Tanaman buah ini biasanya mmerupakan tanaman merambat seperti melon, semangka dan sejenisnya. Tanaman ini dapat dipanen sekali sehingga dapat dilakukan pergantian dengan tanaman lain.

Pergantian tanaman sayur dengan tanaman buah ini cukup efektif untuk perbaruan produksi atau sebagai salah satu strategi pemasaran karena hakikatnya harga buah lebih tinggi daripada sayur. Selain itu, pencegahan hama karena tanaman buah dan tanaman sayur cukup berdampak untuk mengurangi ledakan populasi serangan hama.

  1. Tanaman pangan

Gambar Rotasi Tanaman Pangan
Rotasi Tanaman Pangan

Tanaman pangan merupakan tanaman yang memiliki hasil produksi yang dapat diolah hasilnya sebagai kebutuhan utama pangan di kehidupan sehari-hari. Jenis tanaman pangan ini biasanya memerlukan perawatan dan pemeliharaan yang cukup intensif agar hasil yang diperoleh cukup optimal dan kualitas dari hasil produksi cukup baik untuk dipasarkan.

Pengaruh unsur tanaman seperti unsur N sangat mempengaruhi pertumbuhan pada tanaman pangan karena petumbuhan vegetatif yang cepat jug berdampak terhadap proses penyerapan unsur hara. Dan karena hal itu perlu dilakukan pemupuka tambahan pupuk yang terkandung unsur N di dalamnya.

Tanaman pangan seperti padi pada umumnya ditanam pada musim awal musim penghujan hingga pertengahan musim penghujan untuk pemenuhan kebutuhan air karena proses vegtatif tanaman ini cukup. Dan setelah musim hujan, pada lahan sawah tadah hujan biasanya ditanami tanaman umbi atau jenis tanaman palawija yang memiliki

  1. Tanaman umbi

Gambar Rotasi Tanaman Umbi
Rotasi Tanaman Umbi

Tanaman umbi-umbian merupakan tanaman yang menghasilkan modifikasi dari bagian vegetatifnya menjadi umbi sebagai bagian untuk menyimpan hasil dari fotosintesis atau fotosintat sebagai cadangan makanan. Tanamann ini masuk kedalam tanaman palawija yang menjadikan tanaman ini menjadi hasil panen kedua setelah tanaman utama pangan seperti padi.

Tanaman umbi merupakam tanamam yang meskipun rakus akan hara, namun tanaman ini memiliki daya toleransi yang paling tinggi dibandingkan tanaman lain yang dibudidayakan di areal lahan pertanian marjinal. Alasan penggunaan rotasi tanaman jenis umbi setelah tanaman pangan adalah kemampuan daya hidup tanaman ini tanpa perlakuan perawatan dapat tumbuh.

Namun, tidak semua jenis tanaman umbi memiliki daya tahan terhadap kekeringan maupun tumbuh tanpa perawatan. Seperti tanaman bawang-bawangan atau tanaman umbi sayur lainnya. Pada tanaman umbi yang direkomendasikan adalah tanaman umbi pangan seperti singkong, ketela pohon dan tanaman umbi pangan lainnya.

  1. Tanaman kacang-kacangan

Gambar Rotasi Tanaman Kacang
Rotasi Tanaman Kacang

Tanaman kacangan-kacangan atau jenis tanaman leguminase merupakan merupakan tanaman spesial yang mampu memfiksasi nitrogen di udara bebas. Tanaman ini memiliki kelebihan apabila ditanam di tanah yang lemah akan unsur hara atau tanaman marjinal masih memiliki toleransi untuk mengikat unsur N untuk keperluan pertumbuhan vegetatif tanaman tersebut.

Tanaman kacang-kacangan atau tanaman leguminase mampu memperbaiki unsur hara pada tanah sehingga suplai nutrisi khususnya unsur N dapat tersedia atau dengan kata lain unsur N tanah sudah mampu atau cukup, apabila ditanami tanaman lain untuk proses produksi maupun budidaya tanaman.

Tanaman yang mampu dijadikan rotasi atau pergiliran tanaman antara lain adalah tanaman sayur atau tanaman pangan karena tanaman ini cukup dan perlu unsur hara N untuk pertumbuhan vegetatif.

Manfaat Rotasi Tanaman

Dalam implementasi tujuan rotasi tanaman secara umum memiliki beragam manfaat diantaranya;

  1. Mencegah Hama

Rotasi tanaman bermanfaat untuk pencegahan arti hama hal ini dikarenakan tumbuhan yang biasanya diserang oleh hama dilakukan perubahan sehingga kesesuian objek tanaman yang tidak sesuai mengurangi intensitas serangan.

  1. Penyesuaian Kondisi dan Musim

Penyesuaian kondisi dan musim tanaman berupakan manfaat dari sistem rotasi ini kaena setiap tanaman pada dasarnya memiliki kondisi musim yang dapat mengoptimalkan potensi hasil dari tanaman yang dibudidayakan. Dengan kondisi yang tepat tanaman juga akan tumbuh dengan baik dengan hasil produksi yang memeiliki kualitas dan kuantitas yang cukup tinggi.

  1. Ekologi Lingkungan

Rotasi tanaman juga memiliki benefit atau keuntungan terhadap ekologi lingkungan dan juga ekosistem. Dengan pertanaman yang tidak monoton kondisi tanah pada lahan pertanian dapat dijaga kesuburannya. Dan salah satu upaya dari perbaikan kondisi tanah adalah dengan penanaman jenis tanaman leguminase atau kacang-kacangan sebagai tanaman yang mensuplai arti unsur hara di dalam tanah.

  1. Menajemen Produksi Tanaman

Dan terakhir adalah manajemen produksi tanaman. Dengan sistem rotasi tanaman yang dapat diatur produksi tanaman juga dapat dikelola sesuai dengan ketentuan pasar. Selain itu, rotasi tanaman juga bertujuan untuk mengisi lahan pertanian yang kosong akibat kondisi yang tidak sesuai dengan kondisi lapangan pada saat itu.

Dengan penggunaan tanaman yang sesuai dengan kondsi riil akan ada kemungkinan untuk mengisi lahan kosong yang tidak terpakai menjadi terpakai sehingga lahan yang terisi oleh tanaman memiliki nilai untuk dipasarkan. Konsep ini mampu mengurangi kerugian akibat kondisi cuaca yang tidak memugkinkan sehingga tanaman yang bisa dimanfaatkan sesuai dengan kondisi saat ini menjadi solusi terbaik pada sistem rotasi.

Sistem rotasi memang lebih banyak diterapkan pada sistem pertanian monokultur dalam skala besar atau industri, sebab secara benefit tanaman dalam sistem monokultur memiliki kelebihan. Oleh sebab itu pertanian secara monokulur lebih dianjurkan dalam pergantian dan rotasi tanaman sesuai ketentuan kementrian pertanaian.

Kesimpulan

Dapat dikatakan bahwa rotasi tanaman dilakukan dengan menanam tanaman sayur atau tanaman buah yang memang memerlukan unsur hara yang cukup kaya untuk berbagai arti budidaya. Tanaman ini merupakan tanaman yang cukup cepat dalam pemanenan.

Kemudian tanaman pangan dengan pemberian pupuk sebagai upaya peningkatan produksi kemudian tanaman umbi apabila kondisi tanah sudah terlalu miskin hara karena tanaman ini cukup tahan dan memiliki toleransi tinggi. Dan terkahir dapat ditanami tanaman kacang-kacangan agar kondisi unsur pada tanah lebih kaya dan subur.

Demikianlah materi yang bisa saya tuliskan pada segenap pembaca tentang contoh rotasi tanaman dalam pertanian dan fungsi melakukannya. Semoga bisa memberi edukasi bagi segenap pembaca yang sedang membutuhkan literasi terkait ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *