Fungsi Rimpang Tanaman Jahe dan Manfaatnya

Diposting pada

Rimpang Tanaman Jahe

Di kawasan Asia, jahe telah dimanfaatkan sebagai bahan bumbu masakan dan bahan obat tradisional sejak ribuan tahun yang lalu. Di Indonesia, tiga jenis jahe (jahe sunti, jahe gajah dan jahe emprit) banyak dibudidayakan secara intensif baik dalam skala rumah maupun industri untuk dimanfaatkan sebagai bumbu masakan, tanaman herbal rempah-rempah dan untuk minuman. Bagian pada tanaman jahe yang dimanfaatkan adalah rimpang.

Rimpang Jahe

Rimpang secara fisiologi tumbuhan merupakan bagian dari modifikasi struktur batang pada tumbuhan yang mampu menjalar di dalam tanah dan menghasilkan tunas maupun akar-akar baru. Selain itu, fungsi lain dari rimpang adalah sebagai bagian penyimpanan metabolit atau fotosintat pada tumbuhan.

Kandungan pada rimpang khususnya pada tanaman jahe memiliki banyak kandungan senyawa kimia organik seperti minyak atsiri mauapun anti oksidan yang banyak digunakan dalam pengobatan maupun pemanfaatan tanaman herbal. Selain minyak atsiri dan anti oksidan terdapat juga senyawa seperti flavonoid, gingerol dan juga zingeron yang berguna untuk kesehatan.

Rimpang tanaman jahe sebelum dimanfaatkan harus diolah terlebih dahulu dengan cara diekstrak ataupun dibuat sebagai campuran minuman sebelum dikonsumsi. Di sisi lain konsumsi jahe bisa dibuat menjadi bubuk untuk campuran suplemen kesehatan.

Selain digunakan sebagai olahan konsumsi, tanaman jahe juga digunakan sebagai gel ataupun olahan minyak untuk pemakaian di luar tubuh. Salah satu contohnya adalah dibuat sebagai gel atau salep untuk mengobati nyeri atau anti analgesik dan juga pereda pernapasan dengan diolah menjadi minyak karena jahe memiliki aroma yang khas.

Rimpang Tanaman Jahe

Dan berikut ini adalah fungsi-fungsi rimpang pada tanaman jahe yang dapat dimanfaatkan di kehidupan sehari-hari yaitu:

  1. Meningkatkan imunitas

Beberapa jenis jahe mengandung senyawa bermanfaat pada tubuh manusia seperti gingerol, zingeron, shogaol. Dalam beberapa penelitian zat aktif ini diyakini mampumenyembuhkan beragam penyakit dan membunuh bakteri berbahaya di dalam tubuh sehingga menstimulasi sistem imun pada tubuh menjadi lebih baik.

Kandungan gingerol dan shogaol dalam jahe telah terbukti memiliki efek antioksidan yang bermanfaat bagi tubuh manusia melawan stress oksidasi. Senyawa antioksidan yang berasal dari jahe inilah yang dapat membantu meningkatkan sistem imun tubuh sehingga tubuh tidak mudah terinfeksi penyakit.

Bahkan pada kondisi seperti perubahan musim yang cukup ekstrim, ataupun kondisi seperti pandemi sekarang ini banyak peneliti yang mengembangkan jahe sebagai jenis tanaman obat untuk menjaga kekebalan tubuh atau meningkatkan imunitas

  1. Menghangatkan badan

Rimpang pada tanaman jahe memang sudah terkenal di kawasan Asia bahkan di indonesia sendiri sebagai tanaman herbal yang memiliki banyak khasiat khususnya pada kesehatan dan kebugaran tubuh.

Hasil olahan dari jahe memiliki khasiat sebagai minuman yang tepat untuk menjaga kondisi tubuh agar tetap hangat. Beberapa kandungan jahe seperti oleoresin yang banyak didapat dari hasil olahan memberikan efek hangat ketika diminum karena merespon jaringan reseptor rasa hangat pada tubuh.

  1. Anti ulserogenik

Jahe telah terbukti memiliki efek sebagai anti ulserogenik karena mengandung Gingerol, Zingerone, Flavonoid, Aseton, Metanol dan minyak atsiri. Gingerol dan zingerone dapat melindungi mukosa lambung dengan cara menghambat -ATPase sehingga dapat menghambat sekresi asam lambung.

Flavonoid yang terkandung dalam jahe dapat meningkatkan prostaglandin yang merupakan faktor defensif dari lambung. Aseton dan methanol dapat melindungi lambung dengan cara menurunkan asam lambung dan mencegah iritasi pada mukosa lambung.

  1. Anti inflamasi

Inflamasi merupakan respon normal yang diberikan terhadap luka pada jaringan yang disebabkan oleh trauma fisik dan biasanya menyebabkan cidera. Respon ini merupakan tanda pada tubuh apabila terjadi serangan pada lapisan kulit dan hal ini ditandai dengan peradangan. Dan salah satu upaya untuk meredakan adalah dengan pemberian obat anti inflamasi dan salah satunya adalah dengan ekstrak jahe.

Pada umumnya jahe yang digunakan sebagai obat adalah jahe merah karena memiliki senyawa minyak atsiri dan oleoresin sebagai senyawa anti inflamasi. Kandungan senyawa ini sebagai mediator inflamasi pada jaringan menyebabkan kurangnya rasa nyeri dan pembengkakan sehingga fungsi otot dan sendi membaik.

Mekanisme pemberian jahe dipakai sebagai obat anti inflamasi adalah dengan mengubah ekstrak jahe menjadi gel sehingga jaringan mampu merespon senyawa dalam mengaktifkan senyawa dalam tubuh seperti dalam megurangi inflamasi.

  1. Meningkatkan gairah seksual

Tanaman jahe pada dasarnya memang digunakan sebagai tanaman herbal tradisional seperti campuran jamu, minuman penyegar maupun sebagai campuran obat tradisional. Dan di era Kerajaan China sudah banyak digunakan sebagai bahan pengobatan untuk meningkatkan gairah seksual pada orang dewasa.

Kandungan senyawa kimia organik yang terkandung dalam rimpang jahe sangat berperan dalam meningkatkan vitalitas dan juga kebugaran pada tubuh orang dewasa. Hal ini yang dipercayai bahwa penggunaan rimpang tanaman jahe sebagai campuran bahan obat tradisional sangat berperan penting dalam proses pengembalian stamina.

Menurut beberapa penelitian kadar kolestrol pada ekstrak tanaman jahe memberikan hasil yang berpengaruh pada peningkatan hormon testosteron yang mampu meningkatan gairah seksual pada pria dewasa. Namun, perlu digaris-bawahi bahwa kandungan dari campuran ekstrak jahe sebagai suplement alami perlu dosis yang tepat untuk memberikan hasil yang tidak membahayakan kesehatan.

  1. Anti Mikroba

Penggunaan pengawet alami sekarang sudah banyak dikembangkan oleh beberapa peneliti dan salah satunya dengan menggunakan tanamann-tanaman herbal. Salah satu tanaman herbal yang bisa digunakan sebagai bahan pengawet atau anti mikrobia adalah jahe. Jahe juga dimanfaatkan sebagai pengawet oleh masyarakat, cara pemanfaatannya yaitu dengan cara jahe dibersihkan lalu dihaluskan dan dimasukkan ke masakan.

Ekstrak jahe memiliki aktivitas antimikroba terhadap bakteri pathogen dan perusak pangan yaitu Salmonella typi, Vibrio cholera dan Escherichia coli. Senyawa yang terkandung pada ekstrak jahe seperti flavonoida, fenolik, terpenoid dan minyak atsiri pada jahe ini merupakan senyawa bioaktif yang dapat menghambat pertumbuhan bakteri.

Beberapa penelitian tentang uji antimikroba ekstrak segar jahe-jahean (Zingiberaceae) terhadap Staphylococcus aureus, Escherichia coli dan Candida albicans di peroleh hasil pada ekstrak jahe dapat menghambat pertumbuhan dari Staphylococcus aureus, Escherichia coli dan Candida albican.

  1. Bahan baku makanan

Pada dasarnya ciri jahe merupakan produk tanaman rempah yang digunakan sebagai bahan obat. Di samping itu, tanaman jahe juga digunakan sebagai penyedap rasa pada masakan mauapun minuman. Rasa pedas dan pahit yang khas memberikan sensasi yang unik pada makanan yang disajikan. Rasa pedas dan pahit ini dihasilkan dari senyawa aktif yaitu oleoresin.

Beberapa jenis jahe biasa digunakan sebagai bahan baku minuman maupun sebagai penyedap makanan. Jahe diolah menjadi ekstrak jahe dan dicampurkan pada adonan minuman maupun makanan sebagai penguat aroma. Salah saru senyawa yang banyak dihasilkan oleh rimpang jahe adalah minyak atsiri. Kandungan minyak atsiri pada jahe memberikan aroma khas pada jahe.

Beberapa makanan biasanya memiliki rasa dan aroma jahe yang memberikan kesegaran maupun rasa khas ketika dikonsumsi. Contoh dari campuran hasil dari olahan rimpang jahe adalah susu jahe, permen jahe dan sebagainya.

  1. Sebagai bibit tanaman

Di sisi lain, rimpang tanaman jahe yang digunakan sebagai bahan utama dalam obat-obatan tradisional maupun bahan makanan, rimpang juga dapat digunakan sebagai bahan pembibitan dan perkembangbiakan pada budidaya tanaman jahe.

Pengembangan jahe memerlukan dukungan ketersediaan bebit unggul bermutu sesuai kebutuhan dan waktu tanam. Keterbatasan benih jahe bermutu menyebabkan petani menggunakan benih asalan (klade-stine), benih produksi sendiri dan tidak bersertifikat.

Padahal penggunaan benih tidak bermutu dapat menurunkan produktivitas dan kualitas jahe. Akibatnya, produk jahe kurang mampu bersaing di pasar, baik pasar lokal maupun ekspor, karena mutunya kurang memenuhi standar.

  1. Mampu menjaga kadar kolestrol

Jahe dalam beberapa hal juga mampu menjaga kolestrol jahat pada tubuh manusia apabila dikonsumsi dengan kadar sekitar 50 mg atau sekitar 1 sendok makan setiap harinya. Khasiat dari menjaga kolestrol jahat dengan mengonsumsi jahe mampu memperbaiki sirkulasi darah yang akan berdampak pada peningkatan atau menjaga fungsi jantung agar tetap baik.

Kolestrol pada tubuh dapat ditekan dengan kadar flavonoid yang dimiliki oleh rimpang tanman jahe. Kandungan flavonoid mampu mengurangi kolestrol LDL yang cukup berbahaya pada sirkulasi darah sehingga apabila tidak dilakukan pencegahan dapat berbahaya bagi kesehatan kardiovaskuler.

Itulah tadi artikel yang bisa kami berikan pada segenap pembaca berkenaan dengan fungsi rimpang yang ada dalam tanaman jahe dan manfaatnya bagi manusia dalam kehidupan sehari-hari. Semoga melalui postingan ini bisa memberi edukasi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *