Hama dan Penyakit Tanaman Padi serta Cara Pengendaliannya

Diposting pada

Hama dan Penyakit Padi

Padi dengan nama latin Oryza sativa adalah salah satu tanaman pangan yang banyak dibudidayakan oleh petani. Di dalam melaksanakan penanaman berbagai jenis tanaman padi tersebut, tidaklah bebas dari ancaman serangan hama atau penyakit. Oleh sebab itu, sangat dibutuhkan penanggulangan atau pengendalian.

Hal ini tentusaja sangat wajar mengingat arti hama dan penyakit tanaman padi perlu untuk dikenali supaya dapat diurusi. Apabila tidak segera diatasi bahwa dapat menyebabkan tanaman padi mengalami kerugian besar disebabkannya.

Tanaman Padi

Produktivitas dan produksi yang ada pada arti padi di negara Indonesia yang telah mengalami pengurangan bahkan hingga terjadi puso disebabkan adanya ancaman serangan hama. Hal ini dikarenakan selain iklim Indonesia sangat mendukung perkembangan populasi hama juga sangat ditentukan oleh perilaku petani yang dibudidaya tanaman padi secara terus menerus tanpa adanya pergiliran atau pergantian tanaman.

Keadaan seperti ini dapat memberikan ketersediaan inang bagi hama dan penyakit tanaman padi secara kontinyu tanpa berhenti. Selain itu, perkembangan akan populasi hama diakibatkan oleh kematian musuh- musuh alami yang disebabkan dari pemakaian bahan pestisida kimiawi yang kurang tepat dan bijaksana.

Hama dan Penyakit Tanaman

Berikut beberapa jenis hama dan penyakit tanaman padi beserta cara pengendaliannya antara lain:

  1. Penggerek Batang

Penggerek Batang Padi
Penggerek Batang

Di negara Indonesia dapat diketahui terdapat lima jenis hama tanaman penggerek batang yang seringkali menganggu tanaman padi yakni penggerek padi kuning (Scripophaga incertulas Walker), penggerek batang padi putih (S. innotata Walker), penggerek batang padi bergaris (Chilo suppressalis Walker), dan penggerek batang padi merah jambu (Sesamia inferens Walker).

Hama penggerek struktur batang tergolong hama terpenting pada tanaman padi yang dapat menganggu tanaman bermulai dari fase vegetatif ataupun generatif. Gangguan di awal pertumbuhan tanaman atau fase vegetatif dapat mengakibatkan pucuk tanaman padi menjadi mati atau kering disebabkan batangnya digerek oleh ulat atau larva dari hama penggerek batang dari bagian di dalam batang.

Serangan hama penggerek batang pada fase vegetatif ini secara umum oleh petani disebut hama sundep. Larva dari hama penggerek ini dapat hidup di bagian dalam dari batang maka akan menyebabkan pengendalian melalui insektisida yang bersifat kontang kurang efektif.

Oleh sebab itu, pengendalian pada fase awal yakni ketika serangga hama penggerek ini menempatkan kelompok telur di permukaan pelepah daun yang lebih efektif atau dapat dipakai insektisida sistemik berupa insektisida berbahan efektif karbofurant.

Serangan hama penggerek batang pada fase generatif disebut dengan hama beluk. Jika serangan pada fase generatif ini cukup berat dapat mengakibatkan kegagalan panen disebabkan tanaman yang terganggu sundep malainya mati dan kering.

Pengendalian penggerek batang terdapat empat cara yaitu pengaturan pola tanam, pengendalian secara mekanik dan fisik, pengendalian hayati dan pengendalian kimiawi. Pengaturan pola tanam dilakukan dengan menanam serentak untuk dapat membatasi nutrisi bagi penggerek batang padi dan pergiliran tanaman padi dengan tanaman bukan padi untuk dapat memutuskan siklus hidup bagi hama penggerek batang padi.

Pengendalian secara mekanik dan fisik dilakukan dengan menempatkan kelompok telur di dalam persemaian dan di pertanaman (secara mekanik) serta melakukan penyabitan tanaman serendah mungkin dan menggenangi tanaman padi dengan air setinggi 10 cm supaya jerami dapat cepat membusuk sehingga pupa ataupun larva akan mati.

Pengendalian hayati dilakukan dengan penggunaan musuh alami parasitoid sedangkan pengendalian secara kimiawi menggunakan insektisida berupa Dimehipo atau Dipho, Bensultap (spontan), Fipronil atau Regent.

  1. Wereng coklat

Wereng coklat Padi
Wereng coklat

Wereng coklat dengan nama latin Nilaparvata lugens adalah salah satu hama yang penting bagi tanaman padi disebabkan serangan yang sangat hebat karena dapat mengakibatkan puso atau kegagalan panen. Wereng coklat suka terhadap tanaman yang dipupuk dengan unsur hara N berdosis tinggi dengan jarak tanam rapat. Hama ini menyerap cairan tanaman terhadap sistem vaskuler atau pembuluh.

Tanaman padi yang terganggu oleh hama wereng coklat menampakkan gejala menguning dan mengering secara cepat. Biasanya gejala nampak menempatkan pada satu lokasi dan melingkar. Hama wereng coklat adalah vektor atau penular penyakit virus kerdi rumput terhadap tanaman padi.

Pengendalian tanaman padi dilakukan dengan cara menanam varietas tahan, menanam tanaman padi serentak, dengan adanya perangkap lampu, menggunakan insektisida berupa imidacloprid, fipronil, theametoxam, dan buprofexin.

  1. Wereng hijau

Wereng hijau padi
Wereng hijau

Wereng hijau adalah hama dari familia Hemiptera, terdapat empat macam hama wereng hijau yang umumnya menganggu tanaman padi yakni Nephotettix virescens, N. nigropictus, N. cincticeps, dan N. Malayanus. Biasanya hama ini dapat dijumpai di padi sawah irigasi dan tadah hujan namun tidak di padi gogo. Wereng hijau sebagai vektor (penular) virus tungro. Siklus hidup pada hama ini berlangsung selama 23- 30 hari.

Tanaman ini akan menyerap tanaman di daun bagian pinggir dan menyukai pada tanaman yang dipupuk dengan nitrogen yang berdosis tinggi. Akibat dari hama ini adalah tanaman kerdil, anakan berkurang, daun berwarna kuning sampai kuning orange. Pengendalian pada hama ini yaitu penanaman varietas yang tahan serangan hama ini seperti tukad balian dan tukad petanu. Pengendalian dilakukan apabia telah nampak gejala tungro.

  1. Tikus sawah

Tikus merupakan hama yang sangat menganggu dan mergikan bagi macam tanaman pangan. Hama ini adaptif terhadap kondisi lingkungan seperti tempat gelap dan semak- semaki di sekitar sumber nutrisi. Hama ini mengerat tanaman padi untuk menghambat pertumbuhan giginya yang bisa mencapai 12 sampai dengan 15 cm per tahun. Hama ini berwarna kelabu gelap pada punggung dengan bagian dada dan perut berwarna putih serta berat badannya mencapai 130 gram.

Pengendalian hama tikus sawah yaitu dengan melakukan perpaduan berbagai cara antara lain gropyokan, pengemposan, penanaman serempak, sanitasi habitat, musuh alami dan penggunaan rodentisida dan pengendalian menggunakan TBS- LTBS.

  1. Kepinding Tanah

Hama ini mempunyai nama latin yaitu Scotinopharacoarctata. Hama ini menyebabkan berbagai masalah disebabkan menganggu tanaman padi bermulai dari fase pembibitan sampai dewasa.

Hama ini mempunyai siklus hidup selama 28 hingga 35 hari. Hama menganggu tanaman padi dengan menyerap cairan tanaman. Daun pada tanaman padi menjadi menggulung membujur dan kering. Gabah yang terkena hama ini akan terbentuk biasanya setengah atau hampa.

Pengendalian hama kepinding tanah yaitu penggunaan Beauveria bassiana atau Metarhizium aniopliae, pemasangan lampu petromak yang diletakkan mengantung di atas bejana yang sudah diisi dengan minyak tanah maka kepinding akan jatuh dari lampu yang dapat diisi di dalam bejana, dan melakukan penggenangan lahan hingga mencapai 15 cm selama semalam.

  1. Walang Sangit

Walang sangit merupakan hama yang dapat menyerang dan menganggu bulir padi terhadap fase pemasakan. Jika terdapat serangan yang akan mengeluarkan bauk untuk menjaga diri dan menarik sesamanya. Walang sangit akan menyerap butiran gabah yang sedang masak susu atau mengisi. Kerusakan juga akan terjadi yakni beras akan berubah warna dan mengapur serta gabah hampa.

Pengendalian pada hama ini antara lain pembersihan gulma di pertanaman dan sekitar tanaman padi, pemasangan bangkai bianatang, dan memakai bahan kimia seperti regent atau BPMC jika populasi telah mencapai ambang ekonomi.

  1. Penyakit Hawar Daun Bakteri

Penyakit hawar daun yang merupakan jenis bakteri yang menyebar dan dapat mengurangi hasil panen cukup berat. Penyakit ini menganggu ketika keadaan musim hujan atau musim kemarau yang basah terkhusus lahan sawah yang sering tergenang dengan kandungan pupuk N yang tinggi. Penyakit ini diakibatkan oleh adanya bakteri xanthomonas campestris pv oryzae.

Penyakit ini memberikan dua gejala yakni hawar dan kresek. Kresek merupakan gejala yang nampak pada tanaman yang telah berumur 30 hari setelah semai. Daun yang terserang oleh bakteri akan berubah warna menjadi hijau kelabu, menggulung, dan melipat. Sedangkan hawar yakni gejala yang biasanya pada tanaman yang sudah pada fase tumbuh anakan sampai fase pemasakan.

Pengendalian hawar daun dilakukan dengan mengatur air yang cukup dan menghindari penggenangan air secara terus menerus. Pengendalian juga dengan memakai pola tanam yang memiliki sirkulasi udara yang lebih baik misalnya jajar legowo.

  1. Busuk Batang

Busuk batang adalah penyakit yang telah menginfeksi terhadap bagian tanaman seperti di bagian kanopi dan mengakibatkan tanaman menjadi mudah rebah. Untuk dapat mengamati penyakit ini dapat dengan membuka daerah kanopi pertanaman terlebih dahulu. Oleh sebab itu, perlu diperhatikan jika terjadi rebah terhadap pertanaman tanpa sebelumnya telah berlangsung hujan dan angin yang kencang.

Pengendalian pada penyakit busuk batang yaitu dengan cara menggeringkan petakan dan membiarkan tanah sampai retak sebelum diberikan aliran air lagi. Di samping itu terdapat tunggul padi setelah panen harus dibakar ataupun didekomposisi.

  1. Penyakit Tungro

Penyakit tungro yang berasal dari virus akan ditularkan dengan bantuan wereng hijau. Wereng hijau menyebabkan perubahan tanaman sehingga tanaman menjadi kerdil, daun menguning, malai kecil, anakan menurun dan padi hampa atau separo. Pengendalian dapat dilakukan dengan penanaman tanaman padi tahan wereng misalnya kelara dan mengontrol vektor virus tersebut.

  1. Penyakit bercak daun

Penyakit bercak daun diakibatkan oleh adanya serangan jamur Helmintosporium oryzae. Jamur ini akan menganggu tanaman padi yang bermulai dari biji baru kecambah, pelepah daun, malai, dan bauh yang telah tumbuh.

Pengendalian pada penyakit ini yaitu dengan merendam benih dengan air hangat sesudah dengan air dingin untuk menghambat pertumbuhan jamur yang akan muncul.

  1. Penyakit busuk pelepah daun

Busuk pelepah daun diakibatkan oleh serangan jamur Rhizoctonia sp. Jamur ini menganggu daun dan pelepah daun yang telah membentuk anakan tanaman padi. Hal ini akan menyebabkan pengurangan jumlah produksi dan kualitas panen padi. Pengendalian pada penyakit ini yaitu dengan penanaman tanaman padi yang toleran terhadap serangan penyakit busuk pelepah daun.

  1. Penyakit Fusarium

Penyakit Fusarium padi
Penyakit Fusarium

Penyakit fusarium yang diakibatkan oleh adanya serangan jamur Fusarium moniliforme. Penyakit ini akan menganggu malai dan biji muda yang sudah mengalami perubahan warna menjadi kecoklatan, daun terkulai, dan pembusukan bagian akar. Pengendalian pada penyakit ini dengan memberikan jarak tanam yang renggang misalnya pola tanam jajar legowo.

Kesimpulan

Dari penjelasan yang dikemukakan, dapatlah dikatakan bahwa hama dan penyakit tanaman padi menjadikan pertumbuhan dan pekermbangnya tidak dapat optimal. Hama ini merupakan organisme menggangu tanaman padi sehingga menyebabkan tanaman tersebut tidak dapat tumbuh dan berkembang dengan maksimal.

Sedangkan penyakit tanaman padi biasanya diakibatkan oleh adanya mikroorganisme seperti bakteri, virus, dan jamur. Terdapat beberapa macam hama dan penyakit tanaman padi yang menjadi masalah untuk petani ataupun pembudidaya.

Nah, demikinalah artikel yang bisa kami kemukakan pada segenap pembaca berkenaan dengan jenis hama dan penyakit yang menyerang tanaman padi beserta dengan cara mengendalikannya. Semoga memberikan wawasan bagi kalian yang membutuhkan.

Rate this post

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *