Jenis Bakteri dan Cara Penanganannya

Diposting pada

Macam Bakteri dan Penangannya

Bakteri adalah organisme pertama yang muncul di bumi, sekitar 4 miliar tahun yang lalu. Fosil tertua yang diketahui adalah organisme mirip bakteri. Bakteri dapat ditemukan di lahan pertanian, tanah, air, tanaman, hewan, limbah radioaktif, jauh di dalam kerak bumi, es dan gletser Arktik, dan mata air panas. Bakteri  ada yang bermanfaat bagi manusia tapi ada pula yang merugikan seperti menyebabkan masalah bagi lingkungan manusia, seperti korosi, pengotoran, masalah dengan kejernihan air, dan bau busuk.

Selain pada manusia, bakteri juga menyerang tumbuhan dan hewan, sehingga menyebabkan penyakit. Artikel ini akan secara khusus membahas beragam jenis bakteri yang merugikan tanaman dan hewan serta cara penanganannya.

Bakteri

Bakteri adalah organisme hidup mikroskopis, biasanya bersel satu, yang dapat ditemukan di mana-mana. Mereka bisa berbahaya, seperti ketika mereka menyebabkan infeksi, atau bermanfaat, seperti dalam proses fermentasi (seperti dalam anggur) dan proses penguraian.

Jenis Bakteri

Berikut adalah uraian singkat tentang jenis-jenis bakteri yang menyebabkan penyakit pada tumbuhan dan hewan beserta cara penangannya, antara lain:

Erwinia amylovora

Bakteri ini merupakan bakteri menyebabkan penyakit menyebabkan penyakit wilt pembuluh atau nekrotik kering pada tanaman, misalnya pada buah pear. Gejala serangan yang ditimbulkan berupa bercak dan bercak (blight) pada daun, ranting, cabang dan sebagainya, busuk lunak pada buah, akar dan bagian-bagian tempat penyimpanan zat makanan, layu.

Cara penanganannya yaitu:

  1. Sistem irigasi yang baik, pemangkasan pohon yang teratur, desinfeksi alat (pemangkasan gunting) dengan klorin atau alkohol. Tidak menanam kultivar rentan.
  2. Pengendalian secara kimiawi menggunakan bahan kimia yang mengandung senyawa tembaga, antibiotik, pengatur pertumbuhan dan e

Liberibacter asiaticum 

Bakteri ini menyebabkan penyakit CVPD (Citrus Vein Phloem Degeneration), yaitu penyakit pada tanaman jeruk yang mengakibatkan daun jeruk kuning serta rusaknya pembuluh tapis, sehingga pertumbuhan terhambat dan secara perlahan tanaman akan mati.

Gejala yang ditimbulkan berupa terdapat belang-belang berwarna kuning pada daun dengan pola tidak teratur dan tidak simetris antar setengah bagian kanan dan kiri daun.

Cara penanganannya yaitu:

  1. Penegndalian bisa dilakukan dengan menanam bibit jeruk yang sehat dan bersertifikat.
  2. Pengendalian serangga vector/penular penyakit CVPD, yaitu serangga kutu loncat (Diaphorina citri), salah satunya dengan menggunakan musuh alaminya yaitu kepik merah.
  3. Penyemprotan insektisida kontak bahan aktif dimethoat atau sipermetrin

 Pseudomonas savastanoi glycinea

Bakteri ini menyebabkan penyakit hawar pada kedelai. Gejala awal serangan berupa bintik atau bercak kecil berwarna coklat pada daun. Noda tersebut terus melebar sehingga bentuknya mirip sudut, tembus ke permukaan bawah daun, dan muncul warna kekuningan.

Bercak yang melebar bisa bergabung sehingga membentuk bercak lebih besar dan akhirnya daun menguning, kering, dan akhirnya rontok. Penyakit ini muncul lebih parah dalam cuaca dingin dan hujan.

Cara penanganannya yaitu:

  1. Melakukan sanitasi lahan, yaitu dengan Membakar dan membenam sisa tanaman sakit pada kegiatan persiapan lahan.
  2. Melakukan pergiliran tanaman, misalnya Kedelai dirotasi tanaman dengan jenis bukan inang bakteri misalnya jagung, padi, dan serealia lain.
  3. Pengendalian secara hayati dan kimiawi.

Pseudomonas solanacearum

Bakteri ini menyebabkan penyakit layu pada kacang tanah, yang dapat menurunkan tingkat produksi mencapai 30 sampai 60%.

Gejala serangan yang muncul pada tanaman muda yaitu mengakibatkan layu mendadak pada batang dan daun, tapi daun lainnya tetap berwarna hijau. sedangkan pada tanaman tua mengakibatkan daun menguning, layu atau mati satu cabang atau seluruh tanaman. Akar tanaman yang terinfeksi akan membusuk dan warnanya menjadi coklat.

Cara penanganannya yaitu: Dilakukan secara terpadu yaitu secara kultur teknis dengan rotasi tanaman dan sanitasi tanaman, penggunaan varietas tahan serta benih sehat (tidak terinfeksi).

Ralstonia solanacearum (Pseudomonas solanacearum) 

Bakteri ini menyebabkan penyakit layu bakteri pada tanaman kentang. Gejala serangan yang ditimbulkan berupa daun tanaman kentang yang muda layu (pada umumnya terjadi pada tanaman yang berumur kurang dari 6 minggu). Pembuluh batang kentang menjadi berwarna cokelat.

Cara penanganannya yaitu:

  1. Mengusahakan agar lahan tetap bersih dari gulma dan mempunyai sistem drainase yang baik.
  2. Mengusahakan agar tanahh tidak terlalu lembab dan tidak menampung air dalam waktu yang lama.
  3. Menghindari mengocor Pupuk NPK maupun pupuk kimia lain langsung pada akar tanaman, karena akan menyebabkan luka pada akar tanaman.

Xanthomonas axonopodis pv. glycines

Bakteri ini menyebabkan penyakit pustul atau bisul pada kedelai. Gejala serangan yang muncul pada daun yang terinfeksi yaitu adanya bercak atau bisul kecil. Pada awalnya bercak berwarna hijau pucat kemudian berubah menjadi kecoklatan.

Gejala pustul seringkali muncul ketika fase berbunga pada umur sekitar 40 hari, dan daun muda paling rentan infeksi. Bakteri bukan hanya menyerang daun, tapi juga menyerang polong dan biji kedelai. Arti biji yang terinfeksi biasanya tidak menunjukkan gejala kerusakan yang khas atau masih nampak normal.

Cara penanganannya yaitu hampir sama dengan penyakit hawar pada kedelai:

  1. Menanam varietas yang tahan (Varietas Anjasmoro berdasarkan pengamatan lapangan ada indikasi agak rentan penyakit pustul).
  2. Melakukan sanitasi lahan, yaitu dengan Membakar dan membenam sisa tanaman sakit pada kegiatan persiapan lahan.
  3. Melakukan pergiliran tanaman, misalnya Kedelai dirotasi dengan jenis bukan inang bakteri misalnya jagung, padi, dan beragam jenis tanaman serealia lain.
  4. Pengendalian secara hayati dan kimiawi.

Xanthomonas campestris Campestris

Bakteri ini menyebabkan penyakit busuk hitam (black rot) pada tanaman kubis. Gejala serangan yang ditimbulkan diantaranya berupa timbul pada tepi daun, berlanjut hingga klorosis membentuk huruf V. Gejala yang timbul tersebut mengering dan seperti terbakar (nekrotis), kemudian masuk melalui hidatoda, luka alami & luka mekanis.

Cara penanganannya yaitu:

  1. Perlakuan (treatment) dengan air panas.
  2. Pengendalian tanaman.
  3. Pergiliran tanaman.
  4. Menanam varietas tahan.
  5. Menyemprotkan beragam bakterisida Kode &&WP.

Xanthomonas oryzae

Bakteri ini menyebabkan penyakit pada beragam jenis tanaman padi, yang dapat menurunkan tingkat produksi sampai 50%.

Gejala serangan yang muncul berupa bercak kuning sampai putih yang berawal dari terbentuknya garis lebam berair pada bagian tepi helaian daun. Terjadinya bercak dimulai dari salah satu atau kedua tepi helaian daun, atau bisa juga pada setiap bagian helaian daun yang rusak dan berkembang hingga menutupi seluruh bagian helaian daun.

Cara penanganannya yaitu: Diperlukan pengendalian hama secara terpadu yang mencangkup cara budidaya dengan perlakuan bibit secara baik, jarak tanam yang tidak terlalu rapat, pengairan secara berselang (intermiten), pemupukan sesuai kebutuhan tanaman dan varietas tanaman.

Bakteri pada Hewan

Sedangkan jenis bakteri yang bisa menyebabkan penyakit pada hewan, diantaranya yaitu:

Bacillus anthracis 

Bakteri ini merupakan bakteri gram positif berbentuk tangkai berukuran sekitar 1×6 mikrometer, yang menyebabkan penyakit penyakit anthrak atau sapi gila yang menyerang sapi, kerbau, domba dan lain sebagainya. Gejala klinis yang muncul pada penyakit anthrak tergantung tipe infeksi dan bisa dimulai kapan saja, dari 1 hari hingga lebih dari 2 bulan untuk muncul.

Berdasarkan jenis infeksinya, penyakit ini bisa dibedakan menjadi 3, yaitu anthrax kulit, anthrax inhalasi, anthrax gastrointestinal.

Cara penanganannya yaitu: Upaya pencegahan dan penanganan dapat dilakukan dengan terapi antibiotik. Orang yang terpapar anthrax bisa diberikan antibiotik minum, biasanya amoksisilin, ciprofloxacin atau doksisiklin.

Brucella 

Bakteri ini menyebabkan penyakit Brucellosis pada hewan ternak, seperti kambing dan sapi. Penyakit ini bisa menular pada manusia melalui konsumsi hewan ternak yang terkontaminasi. Bakteri Brucella bisa keluar dari tubuh sapi atau kambing melalui susu, urine, cairan plasenta, dan cairan lainnya dari tubuh hewan dalam arti ternak.

Gejala yang muncul jika tertular yaitu tubuh merasa lemas, pusing, berat badan turun, nafsu makan menurun, sakit punggung, seluruh sendi tubuh terasa sakit, demam, menggigil, dan berkeringat di malam hari.

Cara penanganannya yaitu: Penderita (pasien) diberi antibiotic, seperti doxycycline atau rifampicin, untuk dikonsumsi selama minimal 6 minggu.

Chlamydophila psittaci

Bakteri ini merupakan bakteri yang menyebabkan Psittacosis atau Ornithosi. Gejala klinis yang ditimbulkan berupa demam dan anoreksia. Setelah 2 minggu, bakteri tersebut dapat  ditemukan dalam air ludah.

Akibat yang ditimbulkan yaitu adanya bintik peradangan pada paru. Infeksi bisa mengakibatkan terjadinya diare, gangguan pernafasan, konjungtivitis dan sekresi hidung, enteritis, hepatitis dan splenitis.

Cara penanganannya yaitu:

  1. Dilakukan upaya pencegahan dan pengendalian melalui tindakan biosekuriti dengan peningkatan sanitasi dan kebersihan kandang.
  2. Pengobatan psittacosis bisa dilakukan dengan menggunakan khlortetrasiklin dengan dosis 2 mg/hari selama 21 hari. Pada burung kalkun dosis 40 mg/L air minum selama 3 minggu.

Haemophilus equgenetalis atau Taylorella equigenitalis 

Bakteri ini merupakan bakteri yang menyebabkan penyakit contagious equine metritis (CEM) pada kuda betina. Penyakit ini menyerang sistem reproduksi yang bersifat sangat menular dan menimbulkan kemajiran (majer /gabuk /kegagalan kebuntingan) sementara. Gejala klinis yaitu sedikit keputihan mukopurulen berlebihan dan bervariasi servisitis  dan vaginitis

Cara penanganannya yaitu: Pencucian dengan disinfektan dikombinasikan dengan pengobatan antibiotik lokal dan sistemik untuk menghilangkan bakteri T. equigenitalis.

Hemophilus gallinarum 

Bakteri ini merupakan bakteri yang menyebabkan penyakit Coryza, yaitu penyakit menular pada unggas yang menyerang sistem pernapasan.

Gejala klinis yang ditumbulkan berupa dari hidung keluar eksudat yang mula-mula warnanya jernih dan encer, tapi lama kelamaan berubah menjadi kuning kental dan bernanah dengan bau khas. Di sekitar lubang hidung ada kerak eksudat yang berwarna kuning. Sinus inftraorbital mengalami pembengkakan sangat besar, unilateral maupun birateral.

Cara penanganannya yaitu:

  1. Melakukan sanitasi dan manajemen peternakan yang baik.
  2. Direkomendasikan pengobatan pada suatu flok dengan sulfonamide atau antibiotik. Terdapat bermacam-macam sulfonamide seperti sulfadimethoxine, sulfaquinoxaline, sulfamethazine semuanya efektif, tetapi sulfadimethoxine adalah obat yang paling aman.

Pasteurella multocida (P.multocida) 

Bakteri ini menyebabkan penyakit kolera unggas, yaitu penyakit menular yang menyerang unggas peliharaan dan unggas liar dengan angka morbiditas dan mortalitas tinggi. Gejala klinis yang ditimbulkan pada permulaan wabah terjadi yaitu angka mortalitas tinggi, terutama kalkun. Bentuk akut dari penyakit ini ditandai dengan konjungtivitis dan keluar kotoran dari mata.

Cara penanganannya yaitu:

  1. Pencegahan dan pengendalian bisa dilakukan dengan jalan vaksinasi, sanitasi peternakan, dan adanya hewan sakit harus segera dipisahkan dan diobati.
  2. Pengobatan bisa menggunakan antimikroba ; Sulfaquinoxalin 0,05%, Sulfametasin dan sodium sulfametasin 0,5-1,0%, Streptomycin000 mg, Terramisin.

Salmonella 

Bakteri ini menyebabkan Infeksi paratifoid (paratifoid) merupakan suatu penyakit pada unggas (tapi tidak termasuk bakteri Salmonella pullorum dan Salmonella gallinarum). Penyakit ini disebut juga dengan nama salmonellosis.

Gejala infeksi yang ditimbulkan pada ayam dewasa umumnya tidak memperlihatkan gejala klinis tertentu. Infeksi akut yang menyerang ayam dara atau ayam dewasa jarang terjadi pada kondisi alami.

Gejala klinis yang nampak pada ayam yang terinfeksi dengan Salmonella typhimurium, diantaranya yaitu diare yang disertai oleh depresi dan kelemahan umum, sayap menggantung dan bulu berdiri.

Cara penanganannya yaitu:

  1. Mencegah masuknya kuman Salmonella sp. ke dalam suatu kelompok ayam dengan praktek manajemen pemeliharaan yang optimal.
  2. Menggunakan obat-obatan yang bisa dipergunakan untuk ayam yang terserang salmonelosis yaitu antibiotik ataupun antibakteri.

Itulah tadi penjelasan dan pengulasan secara lengkap yang bisa kami berikan terkait dengan jenis bakteri pada tanaman, hewan, dan cara penanganan yang bisa manusia lakukan. Semoga melalui artikel ini memberikan wawasan dan menambah pengetahuan bagi segenap pembaca sekalian. Trimakasih,

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *