Jenis Irigasi dan Contohnya

Diposting pada

Macam Irigasi

Irigasi membantu menumbuhkan tanaman pertanian, memelihara lanskap, dan menanam kembali tanah yang terganggu di daerah kering dan selama periode curah hujan yang kurang dari rata-rata. Irigasi juga memiliki kegunaan lain dalam produksi tanaman, termasuk menekan pertumbuhan gulma di dalam arti ladang tanaman gandum dan mencegah konsolidasi tanah. Hal inilah setidaknya menjadi penting peranan irigasi dalam sistem pertanian.

Irigasi

Irigasi adalah penyediaan, pengambilan, pembagian, pemberian dan pengaliran air menggunakan sistem, saluran dan bangunan tertentu dengan tujuan sebagai penunjang produksi pertanian, persawahan dan perikanan. Istilah irigasi berasal dari bahasa Belanda, yaitu irrigate dan dalam bahasa Inggris, yaitu irrigation yang artinya pengairan atau penggenangan.

Kunci untuk memaksimalkan upaya irigasi adalah keseragaman. Produsen memiliki banyak kendali atas berapa banyak air yang akan disediakan dan kapan harus menerapkannya, tetapi sistem irigasi menentukan keseragaman.

Memutuskan sistem irigasi mana yang terbaik untuk diterapkan membutuhkan pengetahuan tentang peralatan, desain sistem, spesies tanaman, tahap pertumbuhan, struktur akar, komposisi tanah, dan pembentukan tanah.

Sistem irigasi harus mendorong pertumbuhan tanaman sambil meminimalkan ketidakseimbangan garam, daun terbakar, erosi tanah, dan kehilangan air. Kehilangan air akan terjadi karena penguapan, limpasan dan air (dan nutrisi) tenggelam jauh di bawah zona akar.

Jenis Irigasi

Berikut ini bermacam-macam jenis irigasi, diantaranya yaitu sebagai berikut;

Irigasi Permukaan (Surface irrigation)

Irigasi permukaan adalah metode pengairan yang paling awal dikembangkan. Irigasi jenis ini merupakan irigasi cakupannya paling luas di seluruh dunia terutama di Asia. Teknik dalam menerapkan sistem irigasi permukaan yaitu dengan mengambil air dari sumbernya, biasanya sungai, menggunakan bangunan berupa bendungan maupun melalui  bangunan pengambilan bebas (free intake).

Air tersebut kemudian disalurkan ke lahan-lahan pertanian menggunakan pipa atau selang dengan memanfaatkan daya gravitasi, sehingga tanah yang lebih tinggi akan terlebih dahulu mendapat asupan air. Penyaluran air dengan cara tersebut terjadi secara terjadwal dan volume yang telah ditentukan.

Irigasi Bawah Permukaan (Sub-surface irrigation) 

Irigasi bawah permukaan merupakan irigasi yang menerapkan sistem pengairan di bawah untuk meresapkan air ke dalam tanah di bawah daerah akar dengan menggunakan pipa bawah tanah (pipa porous) atau saluran terbuka.

Atau dengan kata lain, irigasi bawah permukaan adalah irigasi yang menyuplai air langsung ke daerah akar tanaman yang membutuhkannya melalui aliran air tanah. Adanya gaya kapiler meggerakkan lengas tanah menuju zona perakaran yang selanjutnya dimanfaatkan oleh beragam jenis tanaman outdor.

Irigasi Pancaran (Sprinkler Irrigation)

Irigasi pancaran atau siraman atau curah bisa diterbilang lebih modern dibandingkan irigasi permukaan dan irigasi bawah permukaan, karena memang irigasi ini baru dikembangkan belakangan. Cara kerja irigasi pancaran adalah dengan menyalurkan air dari sumbernya ke daerah sasaran menggunakan pipa.

Pada lahan yang menjadi sasaran pengairan, ujung pipa disumbat menggunakan tekanan khusus dari alat pencurah, sehingga muncul pancaran air layaknya hujan yang membasahi bagian atas tumbuhan kemudian bagian bawah dan barulah bagian di dalam tanah.

Irigasi pancaran disamping untuk memenuhi kebutuhan air pada tanaman, juga digunakan untuk mencegah pembekuan, mengurangi erosi angin, memberikan pupuk dan lain-lain. 

Irigasi Pompa Air

Irigasi pompa air merupakan sistem irigasi yang menggunakan tenaga mesin untuk mengalirkan berbagai jenis air dari sumber air, biasanya dari sumur ke lahan pertanian menggunakan pipa atau saluran.

Apabila sumber air yang digunakan dalam jenis ini dapat diandalkan, atau dengan kata lain tidak surut pada musim kemarau, maka kebutuhan air pada musim kemarau bisa di-backup dengan jenis irigasi ini.

Irigasi Lokal

Irigasi lokal merupakan sistem irigasi yang melakukan kerja distribusi air dengan menggunakan pipanisasi atau pipa yang dipasang di suatu area tertentu, sehingga air hanya akan mengalir di area tersebut saja. Prinsip kerja dari sistem irigasi jenis ini hamper sama dengan sistem irigasi permukaan, yaitu menggunakan prinsip gravitasi sehingga lahan yang lebih tinggi terlebih dahulu mendapat air.

Irigasi dengan Ember atau Timba

Irigasi jenis ini dilakukan dengan memanfaatkan tenaga manusia, yaitu tenaga dari para petani yang mengairi lahannya dengan menggunakan ember atau timba. Mereka mengangkut air dari sumber air dengan ember atau timba kemudian disiramkan secara manual pada lahan pertanian yang mereka tanami.

Sistem irigasi jenis ini memang kurang efektif karena memakan banyak waktu dan tenaga. Meskipun demikian, jenis irigasi ini masih menjadi pilihan sebagian petani utamanya petani di pedesaan yang tidak mempunyai cukup modal untuk membeli pompa air atau alat irigasi yang lebih efektif.

Irigasi Tetes (Drip irrigation atau Trickle irrigation) 

Irigasi tetes merupakan sistem irigasi yang pendistribusian air ke lahan pertanian dilakukan dengan menggunakan selang atau pipa yang berlubang dan diatur dengan tekanan tertentu. Dengan pengaturan yang demikian, air yang muncul dari pipa berbentuk tetesan dan langsung pada bagian akar tanaman.

Penerapan teknik tersbeut bertujuan agar air langsung menuju ke akar sehingga tidak perlu membasahi lahan dan mencegah terbuangnya air karena terjadinya penguapan yang berlebih. Kelebihan irigasi tetes adalah efisiensi dan penghematan air, menghindari akibat penguapan dan inflitrasi.

Irigasi tetes juga sangat cocok untuk digunakan pada tanaman di masa-masa awal pertumbuhannya sebab bisa memaksimalkan fungsi hara bagi tanaman, juga bisa mempercepat proses penyesuaian bibit dengan tanah sehingga bisa menyuburkan tanaman dan menunjang keberhasilan proses penanamannya.

Selain jenis-jenis irigasi yang telah disebutkan di atas, ada pula jenis irigasi yang diklasifikasikan berdasarkan cara pengaturan pengukuran aliran air dan lengkapnya fasilitas, antara lain:

Irigasi Sederhana

Jaringan irigasi sederhana biasanya diupayakan secara mandiri oleh suatu kelompok petani pennguna air, sehingga kelengkapan maupun kemampuan dalam mengukur dan mengatur masih sangat terbatas.

Pada sistem irigasi ini, ketersediaan air biasanya melimpah, dengan kemiringan wilayah sedang hingga curam, sehingga mudah untuk mengalirkan dan membagi air. Jaringan irigasi sederhana mudah diorganisasikan sebab menyangkut pengguna air dari latar belakang sosial yang sama.

Akan tetapi, kelemahannya adalah terjadi pemborosan air sebab banyak air yang terbuang, karena air tidak selalu mencapai lahan di bagian bawah yang lebih subur. Selain itu, bangunan penyadap juga bersifat sementara, sehingga tidak bisa bertahan lama.

Irigasi Semi Teknis 

Jaringan irigasi semi teknis mempunyai bangunan sadap yang permanen ataupun semi permanen. Bangunan sadap tersebut pada umumnya sudah dilengkapi dengan bangunan pengambil dan pengukur.

Pada jaringan saluran sudah terdapat beberapa bangunan permanen, tapi sistem pembagiannya belum sepenuhnya bisa mengatur dan mengukur dengan baik, sistem pengorganisasian biasanya lebih rumit.

Sistem pembagian air sama dengan irigasi jaringan sederhana, yaitu pengambilan digunakan untuk mengairi daerah yang lebih luas daripada daerah layanan jaringan sederhana.

 Irigasi Teknis

Jaringan irigasi teknis memiliki bangunan sadap yang permanen. Bangunan sadap serta bangunan bagi sudah mampu untuk mengatur dan mengukur. Selain itu, terdapat pemisahan antara saluran pemberi dan pembuang. Pengaturan dan pengukuran air dilakukan dari bangunan penyadap hingga ke petak tersier.

Petak tersier berfungsi sentral dalam jaringan irigasi teknis. Untuk memudahkan sistem pelayanan irigasi pada lahan pertanian, maka disusunlah suatu organisasi petak yang terdiri atas petak primer, petak sekunder, petak tersier, petak kuarter dan petak sawah sebagai satuan terkecil. Baca juga; Pengertian Sawah Irigasi, Ciri, dan Contohnya

Contoh Penerapan Sistem Irigasi

Contoh penerapan irigasi dalam pertanian yaitu sistem irigasi permukaan, terutama irigasi alur (furrow irrigation) yang banyak dimanfaatkan untuk mengairi tanaman palawija, sebab penggunaan air oleh tanaman palawija lebih efektif.

Sistem irigasi alur bisa diartikan sebagai kegiatan pemberian air di atas lahan melalui alur, alur kecil atau melalui selang atau pipa kecil dan megalirkannya sepanjang alur dalam lahan (Michael,1978).

Contoh lainnya yaitu penerapan sistem irigasi tetes pada berbagai jenis tanaman yang ditanam berderet dan mempunyai nilai ekonomi tinggi. Hal tersebut dikarenakan harga perangkat drip irigasi yang lumayan mahal, sehingga bisa menutupi biaya penyusutan perangkat irigasi tetes.

Contoh tanaman yang sesuai untuk diairi dengan menggunakan sistem irigasi tetes dan memiliki nilai ekonomi tinggi, diantaranya yaitu semangka, paria, mentimun, kacang panjang (seperti yang saya terapkan ini), cabai, tomat, melon dan lain-lain.

Aplikasi sistem irigasi tetes sangat efesien dilakukan ketika musim kemarau, pada lahan datar, tanah kering dan persediaan air terbatas.

Itulah tadi serangkaian penjelasan serta pengulasan secara lengkap kepada segenap pembaca terkait dengan macam-macam sistem irigasi pertanian dan contohnya. Semoga melalui materi ini bisa memberikan wawasan serta menambah edukasi bagi pembaca sekalian. Trimakasih,

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *