Jenis Lahan Pertanian dan Contohnya

Diposting pada

Macam Lahan Pertanian

Secara sederhana, lahan pertanian berarti tanah yang cocok untuk digunakan dalam pertanian dan akan dioperasikan untuk kegiatan dalam beragam arti pertanian, yaitu tanah dikhususkan untuk produksi komersial hortikultura, vitikultural, florikultural, susu, peternakan lebah, sayuran, atau produk hewani atau buah beri, biji-bijian, jerami, jerami, rumput, benih. Lahan pertanian biasanya banyak terdapat di negara-negara tropis.

Misalnya di Indonesia. Indonesia termasuk negara yang mempunyai luas lahan pertanian cukup besar, sekitar 15 juta hektar)Berdasarkan Data FAO, 2014). Terdapat beragam jenis lahan pertanian yang bisa dikembangkan, baik pertanian lahan basah, seperti sawah, rawa, hutan mangrove, dan lain-lain, maupun lahan kering seperti ladang, kebun, tegalan, dan lain-lain. Perlu diketahui bahwa lahan pertanian tidak termasuk lahan yang tidak bisa ditanami tanaman seperti hutan, perairan dan pegunungan curam.

Lahan Pertanian

Lahan pertanian merupakan tanah yang dikhususkan untuk kegiatan pertanian, penggunaan sistematis dari bentuk kehidupan lainnya-khususnya pemeliharaan ternak dan produksi jenis tanaman sirelia sehingga menghasilkan makanan bagi manusia.

Dalam konteks zonasi, lahan pertanian mengacu pada petak yang diizinkan untuk digunakan untuk kegiatan pertanian, tanpa memperhatikan penggunaannya saat ini atau bahkan kesesuaiannya.

Di beberapa daerah, lahan pertanian dilindungi sehingga dapat ditanami tanpa ancaman pembangunan. Misalnya, cadangan Lahan Pertanian di British Columbia di Kanada, misalnya, memerlukan persetujuan dari Komisi Lahan Pertaniannya (Agricultural Land Commission) sebelum tanahnya dapat dipindahkan atau dibagi lagi.

Pengertian Lahan Pertanian

Lahan pertanian dapat didefinsikan sebuah lahan yang mencakup kondisi tanah, iklim, hidrologi dan udara yang digunakan untuk memproduksi tanaman pertanian atau melakukan pertenakan hewan.

Lahan pertanian memiliki unsur-unsur yang bisa diukur seperti struktur tanah, tekstur tanah, distribusi curah hujan, temperatur, drainase, jenis vegetasi dan sebagainya. Lahan pertanian memiliki berberapa sifat, diantaranya yaitu karakteristik lahan, kualitas lahan, pembatas lahan, persyaratan penggunaan lahan dan perbaikan lahan.

Pengertian Lahan Pertanian Menurut Para Ahli

Adapun definisi lahan pertanian menurut para ahli, antara lain:

Wikpedia

Lahan pertanian ialah lahan yang ditujukan atau cocok untuk dijadikan sebagai lahan usaha tani untuk memproduksi tanaman pertanian maupun hewan ternak. Lahan pertanian termasuk salah satu sumber daya utama pada usaha pertanian.

Sumaryanto  dan  Tahlim  (2005) 

Manfaat  lahan  pertanian  bisa dibagi  menjadi  dua  kategori, yaitu:

  1. Use values atau nilai penggunaan bisa juga disebut personal use values, ialah manfaat yang dihasilkan dari hasil eksploitasi atau kegiatan usahatani yang dilakukan pada sumber daya lahan
  2. Non use values bisa juga disebut intrinsic values atau manfaat bawaan.

Yoshida (1994) dan Kenkyu (1996) dalam  Sumaryanto, dkk (2005) 

Ditinjau dari aspek lingkungan, keberadaan lahan pertanian bisa berkontribusi dalam 5 manfaat, yaitu:

  1. Pencegahan banjir
  2. Pengendali keseimbangan tata  air
  3. Pencegahan erosi
  4. Pengurangan pencemaran lingkungan yang berasal dari limbah rumah tangga
  5. Mencegah pencemaran udara yang berasal dari gas buangan

Jenis Lahan Pertanian

Berikut ini bermaca-macam jenis lahan pertanian, antara lain:

Berdasarkan Klasifikasinya

Berdasarkan klasifikasinya, lahan pertanian dapat dibedakan menjadi berberapa jenis, yaitu:

  1. Lahan garapan

Lahan garapan yaitu lahan yang ditanami tanaman tahunan seperti serealia, kapas, kentang, sayuran, dan sebagainya; termasuk “lahan tidur” yang bisa digarap tapi sedang tidak digarap.

  1. Lahan permanen

Lahan permanen yaitu lahan ini ditanami oleh tanaman permanen seperti pohon kacang atau pohon buah.

  1. Lahan penggembalaan

Lahan penggembalaan yaitu lahan yang digunakan untuk tujuan penggembalaan hewan (ternak).

Lahan garapan dan lahan tanaman permanen bisa dikatakan sebagai “lahan budidaya”. Sedangkan lahan usaha tani merupakan lahan yang merujuk pada lahan yang bukan hanya digunakan untuk budi daya tanaman saja, tapi juga mencakup struktur fisik seperti gudang pertanian dan kandang serta mempunyai struktur ekonomi yang lebih rumit.

Berdasarkan bentuk fisik dan ekosistemnya

Berdasarkan bentuk fisik dan ekosistemnya, lahan pertanian dapat dibedakan menjadi dua kelompok besar, yaitu Lahan basah dan Lahan kering, yang masing-masing diagi lagi menjadi beberapa bentuk lahan pertanian yang berbeda. Berikut penjelasannya:

Lahan Basah

Lahan basah (wetland) dapat didefinisikan sebagai suatu wilayah yang tergenang air, baik secara alami alami maupun buatan, tetap atau sementara, mengalir atau tergenang, tawar asin atau payau, termasuk di dalamnya wilayah laut yang memiliki kedalaman kurang dari 6 m ketika air surut paling rendah.

Jenis-jenis lahan pertanian yang termasuk kategori lahan basah, antara lain:

  • Sawah

Sawah adalah sebidang lahan pertanian yang selalu dalam kondisi basah dan kadar air yang dikandungnya selalu di atas kapasitas lapang. Indikator yang digunakan untuk mencirikan bahwa suatu lahan pertanian dikatakan sawah, antara lain:

  1. Topografi selalu rata
  2. Dibatasi oleh pematang
  3. Diolah selalu pada kondisi berair
  4. Ada sumber air yang kontinyu, kecuali sawah tadah hujan an sawah rawa
  5. Kesuburan tanahnya relative stabil meskipun diusahakan secara intensif, dan
  6. Tanaman yang utama diusahakan petani padi sawah

Ditinjau dari sumber air yang digunakan, secara garis sawah bisa dibedakan menjadi dua, yaitu sawah irigasi dan non-irigasi, misalnya sawah tadah hujan, sawah lebak, sawah bencah, dan lain-lain.

  • Rawa

Rawa adalah lahan yang tergenang air secara ilmiah yang terjadi terus-menerus atau musiman akibat drainase yang terhambat, serta memiliki ciri-ciri khusus secara fisika, kimiawi dan biologis.

Rawa juga bisa didefinisikan sebagai semua macam tanah berlumpur yang pembentukannya terjadi secara alami, atau buatan manusia dengan mencampurkan air tawar dan air laut, secara permanen atau sementara, termasuk daerah laut yang memiliki kedalaman air kurang dari 6 m ketika air surut.

Rawa-rawa menjadi gudang harta ekologis untuk kehidupan berbagai macam makhluk hidup. Selain itu, rawa-rawa juga disebut “pembersih alamiah”, sebab berfungsi untuk mencegah polusi atau pencemaran lingkungan alam.

  • Hutan mangrove

Hutan mangrove ialah tipe hutan yang terdapat di daerah pasang surut, terutama di pantai yang terlindung, laguna dan muara sungai yang tergenang ketika air laut pasang dan bebas dari genangan ketika air laut surut yang komunitas tumbuhannya memiliki toleransi tinggi terhadap garam.

Sedangkan kata mangrove dalam dalam bahasa inggris merujuk pada komunitas tumbuhan yang tumbuh di daerah jangkauan pasang surut maupun untuk individu-individu jenis tumbuhan yang menyusun komunitas tersebut. Istilah hutan mangrove dikenal juga dengan hutan bakau oleh masyarakat Indonesia dan negara Asia Tenggara lainnya yang berbahasa Melayu.

Vegetasi mangrove tersebar di seluruh lautan yang terdapat di wilayah tropik dan subtropik. Mangrove hanya bisa tumbuh pada pantai yang terlindung dari gerakan gelombang, jika pantai menunjukkan kondisi yang sebaliknya, maka benih tidak bisa tumbuh dengan sempurna dan menjatuhkan akarnya.

  • Terumbu karang

Terumbu karang merupakan sekumpulan hewan karang yang bersimbiosis dengan sejenis tumbuhan alga yang disebut zooxanhellae. Hewan karang bentuknya menyerupai batu dan memiliki warna dan bentuk beraneka rupa.

Hewan ini dinamakan polip, yaitu hewan pembentuk utama terumbu karang yang menghasilkan zat kapur. Polip-polip itulah yang pada akhirnya membentuk terumbu karang selama ribuan tahun.

  • Padang lamun

Padang lamun merupakan ekosistem khas laut dangkal di perairan hangat dengan dasar pasir dan didominasi tumbuhan lamun, sekelompok tumbuhan anggota bangsa Alismatales yang beradaptasi di air asin. Padang lamun hanya bisa terbentuk di perairan laut dangkal, dengan kedalaman kurang dari 3 meter, tapi dasarnya tidak pernah terbuka dari perairan (selalu tergenang).

Seringkali, vegetasi lamun dijumpai setelah vegetasi mangrove, yang berfungsi sebagai  filter lumpur /tanah yang hanyut bersama air ke pantai setelah mampu lolos tertahan oleh perakaran vegetasi mangrove.

  • Danau

Danau dapat didefinisikan sebagai suatu cekungan di permukaan bumi yang berisi air. Danau bisa dikanfaatkan untuk keperluan irigasi sawah dan kebun; sebagai objek wisata; sebagai Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA); sebagai tempat usaha perikanan darat; sebagai sumber penyediaan air untuk makhluk hidup yang terdapat di sekitarnya; dan juga sebagai pengendali banjir dan erosi.

  • Sungai

Sungai merupakan bagian permukaan bumi yang terbentuk secara alami dan letaknya lebih rendah dari tanah di sekitarnya dan menjadi tempat / saluran mengalirnya air tawar  dari darat menuju ke laut, danau, rawa atau ke sungai yang lain.

Lahan Kering

Lahan kering (dry land) yaitu lahan yang dimanfaatkan untuk usaha petanian dengan menggunakan air secara terbatas, yang biasanya berasal dari curah hujan. Lahan kering mempunyai kondisi agro-ekosistem yang beragam, umumnya berlereng dengan kondisi kemantapan lahan yang kurang atau peka terhadap erosi terutama jika pengolahannya tidak memperhatikan kaidah konservasi tanah.

Jenis-jenis lahan yang termasuk kategori pertanian lahan kering, antara lain:

  • Ladang

Ladang adalah jenis tanah tidur yang masih bisa digunakan untuk kegiatan pertanian dengan komoditi umumnya sejenis palawija, karena tanaman palawija tahan terhadap cuaca yang cenderung kering.

Ladang terbentuk dengan cara menebang hutan, lalu dibakara, setelah dibakar kemudian barulah ditanami tanaman palawija seperti jagung, kacang-kacangan, dan lain-lain, baik yang ditanam secara tersendiri maupun dengan cara tumpangsari.

Setiap ladang biasanya hanya digunakan untuk 4-6 musim tanam saja, kemudian ditinggalkan, dan akan dibuka setelah kembali subur.

Ketika akhir masa tanam, ladang biasanya ditanami tanaman tahunan, misalnya karet atau kopi. Hal itu dilakukan sebagai bukti bahwa ladang tersebut sudah ada yang menguasainya, dan berfungsi sebagai batas apabila di kemudian hari akan dibuka kembali.

  • Tegalan

Tegalan adalah salah satu jenis lahan kering yang pengairannya bergantung pada air hujan, yang biasanya ditanami tanaman musiman atau tahunan, dengan letak terpisah dari lingkungan dalam sekitar rumah. Tegalan sebagai kelanjutan dari sistem berladang. Hal tersebut terjadi jika hutan yang mungkin dibuka untuk kegiatan usaha pertanian tidak memungkinkan lagi.

Lahan usahatani tegalan sifatnya sudah menetap, dengan menerapkan pola tanam tumpang sari antara padi ladang dan palawija (jagung, kacang-kacangan, ubikayu, dan lain-lain). Tegalan biasanya hanya diusahakan ketika musim hujan saja, sedangkan ketika musim kemarau diberakan (dibiarkan) tidak ada tanaman.

  • Kebun

Kebun adalah lahan usahatani yang sudah menetap, yang ditanami tanaman tahunan secara permanen / tetap, baik sejenis maupun campuran. Tanaman yang biasanya ditanam di lahan kebun antara lain tanaman kelapa dan jenis buah-buahan, seperti mangga, rambutan, dan lain-lain.

  • Pekarangan

Pekarangan merupakan sebidang lahan usahatani yang terletak di sekitar rumah yang dibatasi oleh pagar tanaman hidup atau pagar mati.  Tanaman yang biasanya ditanam di pekarangan yaitu buah-buahan, sayur untuk memelihara contoh hewan unggas atau terbak kecil, seperti kambing dan biri-biri.

  • Kolam

Kolam merupakan lahan usaha basah tapi ada di lingkungan kering. Kolam bisa dibedakan menjadi dua jenis, yaitu kolam air diam dan kolam air deras (running water). Kolam biasanya digunakan untuk memelihara ikan atau katak hijau.

Usahatani di kolam biasanya dilakukan secara berkesinambungan dengan periode produksi sekitar 3 -6 bulan. Jadi dalam waktu satu tahun bisa empat atau dua kali panen. Ikan yang diternak di kolam biasanya secara campur atau secara tunggal/satu jenis ikan.

Contoh Lahan Pertanian

Berikut ini akan disajikan contoh kondisi lahan pertanian yang ada di Indonesia:

  1. Lahan Basah (Sawah)

Berdasarkan data dari BPS, Indonesia mempunyai luas lahan sawah pada tahun 2016 seluas 8,18 juta hektar, dengan rincian yaitu lahan sawa irigasi seluas 4,78 juta hektar dan sawah non irigasi seluas 3,40 juta hektar. Luasan tersebut mengalami peningkatan dari tahun sebelumnya sebesar 1,16% atau sekitar 100 ribu hektar.

Provinsi yang mempunyai luas lahan sawah terbesar yaitu Jawa Timur dengan luas lebih dari 1 juta hektar, Jawa Tengah dengan luas 0,96 juta hektar dan Jawa Barat dengan luas 0,91 juta hektar.

Rata-rata petani Indonesia hanya mempunyai luas lahan sekitar 0,2 hektar. Kondisi tersebut dapat dikatakan kurang, ditambah lagi masalah kondisi tanah yang kualitasnya tidak optimal yang disebabkan oleh penggunaan pupuk kimia dan pestisida.

  1. Lahan Kering (Ladang dan Tegalan)

Berdasarkan dari data BPS, luas lahan kering di Indonesia tahun 2016 totalnya 16,5 juta hektar. Luas tersebut terdiri atas lahan ladang 5 juta hektar dan lahan tegalan 11,5 juta hektar. Meskpun terlihat sangat luas, tapi total luas tersebut mengalami penurunan dari tahun sebelumnya 17 juta hektar.

Pembentukan lahan kering biasanya disebabkan karena kondisi topografi dan akses air yang sulit dan terbatas, sehingga tidak cocok untuk bercocok tanam padi yang memerlukan banyak air. Meskipun demikian, lahan kering juga memiliki peran penting untuk menghasilkan produk dalam arti hortikultura, perkebunan, peternakan, dan kehutanan.

Itulah tadi penjelasan dan pengulasan secara lengkap kepada segenap pembaca terkait dengan beragam jenis-jenis lahan pertanian, klasifikasi, dan contohnya. Semoga melalui materi ini bisa memberikan wawasan dan menambah pengetahuan bagi segenap pembaca sekalian. Trimakasih,

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *