Kelebihan dan Kekurangan Pertanian Tradisional

Diposting pada

Kelebihan dan Kekurangan Pertanian Tradisional

Di dalam penerapan untuk sistem pertanian tradisional pada dasarnya seringkali tergantung pada hasil panen yang dilakukan hanya sebatas untuk hanya dikonsumsi oleh keluarga ataupun masyarakat tertentu. Realitas ini disebabkan karena minimnya metode untuk arti budidaya komoditas pertanian sehingga hasil produksi yang diperoleh tergolong rendah.

Sehingga sistem pertanian tradisional ini sesungguhnya tidak sesuai lagi dengan keadaan dan ketersediaan berbagai jenis lahan pertanian yang semakin tinggi, lantaran meningkatnya pertumbuhan populasi penduduk di Indonesia tiap tahunnya. Meskipun dalam konsep penerapannya memiliki sejumlah kelebihan dan kekurangan.

Pertanian Tradisional

Pertanian tradisional adalah mekanisme pertanian yang bersahabat dengan lingkungan sebab tidak menggunakan produk pestisida. Namun, produksinya tidak dapat diimbangi dengan kebutuhan pangan penduduk dengan jumlah yang masih terus bertambah.

Untuk bisa menyeimbangkan kebutuhan pangan tersebut, perlu dilakukan peningkatan produksi hasil yang nantinya akan berkembang pada sistem pertanian tradisional menuju sistem pertanian modern.

Kelebihan dan Kekurangan Pertanian Tradisional

Adapun untuk keunggulan dan kelemahan dalam sistem pertanian tradisional, antara lain;

Kelebihan Pertanian Tradisional

Yakni;

  1. Menjamin kelestarian dan terus berkembang

Pelestarian alam bisa terus ikut berjalan karena pertanian tradisional sesuai dengan kondisi periode tanam komoditas dan akan memperoleh produksi yang sesuai dengan adanya rata- rata konstan.

Lahan pertanian adalah faktor utama untuk memenuhi ketersediaan pangan yang tak dapat diahli fungsikan dengan bantuan alat. Lahan yang berhubungan dengan suhu, udara, cahaya matahari, air, dan mikroorganisme di dalam tanah.

  1. Tidak ada kerusakan maupun pencermaran lingkungan yang terjadi

Pemakaian input yang efisien pada proses budidaya mengakibatkan keadaan tanah dan lingkungan yang tidak begitu terpengaruhi oleh pemakaian input sebab umumnya dengan memakai produk pupuk organik dan tidak memakai produk pestisida sehingga tak akan ada terjadinya kerusakan ekosistem yang bisa mengurangi hasil produksi komoditas pertanian.

  1. Menjaga kelestarian budidaya pertanian

Indonesia populer dengan sebutan sebagai negara agraris dan kaya terhadap kebudayaan. Kebudayaan tersebut tergolong ke dalam sistem pertanian yang berada di Indonesia salah satunya yaitu kegiatan pertanian tradisional. Budidaya pertanian merupakan kebanyakan kegiatan yang dilakukan oleh masyarakat Indonesia misalnya di Bali yang mayoritas berprofesi sebagai petani di daerah persawahan.

Tetapi, sebab kebutuhan akan adanya ekonomi yang tinggi mayoritas berahli profesi sehingga banyak bidang yang berkembang misalnya bidang industri dan pariwisata sebab dipercaya lebih memperoleh penghasilan yang cukup tinggi.

Oleh sebab itu, sistem pertanian tradisional mempunyai peran penting bagi melestarikan kebudayaan pertanian yang ada di negara Indonesia.

  1. Komoditas yang diproduksi sehat dan aman

Dalam sistem pertanian tradisional dengan minimnya pemakaian input misalnya pupuk umumnya hanya dengan memakai produk pupuk organik misalnya pupuk kandang dan kompos dan tidak memakai produk pestisida yang bisa mencemari lingkungan dan tanaman.

Oleh sebab itu, tanaman yang diproduksi dari menggunakan sistem pertanian tradisional ini berkualitas kandungan gizi yang sehat dan baik sebab tidak adanya kandungan bahan kimia yang berbahaya dan berasal dari produk pestisida ataupun pupuk.

  1. Modal yang dibutuhkan sedikit

Di dalam sistem pertanian tradisional membutuhkan biaya modal dalam kegiatan budidaya tanaman sangat sedikit. Prinsip dasar dari sistem pertanian tradisional ini yaitu bergantung pada sumber daya alam yang sebagai bahan utama sehingga tidak membutuhkan input yang berlebihan bagi pertumbuhan dan perkembangan untuk tanaman.

Tetapi, di jaman sekarang sistem pertanian tradisonal diyakini kurang efektif sebab ketersediaan lahan dan pangan tidak sesuai. Contohnya kebutuhan akan beragam macam komoditas pangan yang semakin meningkat tetapi kondisi lahan yang tiap tahun mulai menipis sebab banyak pemakaian lahan sebagai industri perumahan, perkantoran, supermarket ataupun hal lainnya.

Hal ini menjadikan input bagi lahan pertanian yang sudah ada akan dioptimalkan agar cepat menghasilkan produk komoditas pangan.

  1. Membuka ketersediaan lapangan pekerjaan

Di dalam sistem pertanian tradisional masih memakai peralatan yang sederhana dari kegiatan pengolahan lahan sampai pasca panen. Peralatan tradisional umumnya digerakkan oleh petani sehingga akan membuat ketersediaan lapangan pekerjaan dalam pertanian tradisional bagi para burh pekerja sebab memerlukan tenaga manusia dalam tiap kegiatannya.

Tiap perkembangan zaman pemakaian tenaga manusia yang berlebihan menjadikan pengeluaran meningkat sehingga alat teknologi bagi budidaya sampai pasca panen bisa dilakukan oleh mesin atau peralatan tertentu. Oleh sebab itu, pertanian tradisional telah diyakini kurang efektif bagi kegiatan budidaya yang cepat.

  1. Menghasilkan secara stabil dalam sepanjang tahun

Dalam sistem pertanian tradisional mempunyai sifat yang ramah terhadap lingkungan sehingga dalam kegiatan budidaya menghasilkan tanpa kendala. Kondisi seperti ini akan menstabilkan pada sektor ekonomi sebab tak ada pasang surut jenis produk tanaman yang signifikan. Kebutuhan komoditas pangan dapat dikontrol dan dikelola dengan adanya kegiatan intensifikasi lahan.

  1. Menjaga kesuburan tanah

Pemakaian dalam penggunaan produk pupuk organik contohnya pupuk kandang di sistem pertanian tradisional dan tidak ada pemakaian produk pestisida bisa mempertahankan kualitas dan struktur tanah sehingga tak akan mengalami peristiwa degradasi lahan yang dapat menurunkan potensi kesuburan tanah.

Sistem pengairan yang bergantung pada kondisi curah hujan yang dapat juga mempertahankan kondisi tanah dan mikroba yang terdapat di dalam tanah dapat mengalami pertumbuhan dan perkembangan.

  1. Untuk menyediakan kebutuhan hidup bagi petani

Di dalam sistem pertanian tradisional umumnya dimanfaatkan dalam penyediaan kebutuhan pangan para petani sebab hasil produksinya tak dapat ditentukan. Hal ini sebab bergantung pada alam sehingga ketika panen hasil tersebut akan disimpan dan dikelola untuk ketersediaan atau kebutuhan pangan bagi para petani contohnya berbagai jenis tanaman padi.

Oleh sebab itu, jarang para petani yang memakai sistem pertanian tradisional yang memperoleh pendapatan dan keuntungan bahkan tak sama sekali.

  1. Tidak memakai produk pestisida dan hanya bergantung pada alam

Dalam sistem pertanian tradisional tidak memakai pestisida sebab bisa membahayakan komoditas dan lingkungan alam sekitar sehingga hanya bergantung pada alam untuk kegiatan budidaya tanaman misalnya cahaya matahari, curah hujan, mikroba, dan musuh alami.

Kekurangan Pertanian Tradisional

Yaitu;

  1. Pemakaian teknologi yang belum modern dan berkembang

Dalam hal ini umumnya pada sistem pertanian tradisional memakai peralatan dan teknologi yang masih rendah atau belum modern/ berkembang. Dimana hal ini bisa memperlambat hasil yang diperoleh dan membuang waktu dalam kegiatan budidaya.

Contohnya pada sistem tradisional masyarakat dalam membajak sawah  masih memanfaatkan kerbau hal ini dirasa kurang efisiensi dalam penggunaan waktu dan tenaga. Namun, dari sektor ekonomi lebih rendah dan minim pengeluaran dalam mengelola lahan untuk memproduksi produk.

  1. Tenaga kerja yang digunakan cukup banyak

Dalam sistem pertanian tradisional umumnya memanfaatkan banyak tenaga kerja dalam mengelola lahan agar memproduksi produk. Hal ini disebabkan minimnya peralatan teknologi yang berada sehingga kegiatan memakai SDM yang ada.

Pertanian tradisional juga masih bergantung pada sumber daya tenaga manusia yang berada namun dari bidang ekonominya lebih murah.

  1. Modal masih minim

Dalam sistem pertanian tradisional membutuhkan biaya modal yang sangat sedikit bagi pengeolaan produk pertanian sebab kebutuhan yang tidak memerlukan biaya modal lebih. Umumnya hanya membutuhkan biaya modal untuk keperluan barang dan tenaga kerja yang rata- rata masih minim.

Kesimpulan

Dari penjelasan yang dikemukakan, dapatlah dikatakan bahwa dalam penerapan untuk sistem pertanian tradisional memiliki kelebihan dan kelemahan. Alasannya karena untuk hasil yang diperoleh hanya sebatas hanya untuk dikonsumsi keluarga ataupun masyarakat tertentu. Hal ini disebabkan minimnya budidaya tanaman sehingga menghasilkan produk hasil yang rendah sehingga tidak memberikan kecukupan bagi hasil berbagai tanaman pangan untuk masyarakat.

Sementara itu, pertanian tradisional memiliki sifat tak menentu. Hal ini dapat ditunjukkan dengan fakta bahwa mayoritas petani yang menerapkan sistem pertanian ini seolah-olah hidup dengan diatas tonggak. Hal itu disebabkan petani dengan lahan pertanian yang sempit dengan menanam bergantung pada kondisi curah hujan yang tidak bisa dipastikan sehingga hasil pertanian rata-rata akan menjadi sangat rendah di dalam kondisi tahun yang buruk atau mengalami kegagalan panen sehingga petani dan keluarga tersebut akan mengalami kekrisisan ekonomi dan kelaparan.

Dalam kondisi demikian sehingga kefokusan petani dapat meningkatan pendapatan akan berkurang sebab akan lebih berkonsentrasi dalam menjaga kehidupan bagi keluarganya sehingga kesejahteraan hidup petani akan susah untuk bisa dicapai.

Contohnya saja dalam sistem pertanian ladang yang berganti tempat atau pindah sesungguhnya mempunyai ciri khusus yakni mengerjakan lahan pertanian secara berpindah di lahan hutan.

Itulah saja artikel lengkap yang bisa kami kemukakan pada semua pembaca berkenaan dengan kelebihan dan kekurangan dalam penerapan sistem pertanian tradisional. Semoga memberikan wawasan bagi kalian semuanya yang sedang membutuhkan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *