Pengertian Ketahanan Pangan, Aspek, Tujuan, Manfaat, dan Contohnya

Diposting pada

Ketahanan Pangan

Ketahanan pangan hakekatnya dianggap sebagai suatu kondisi dimana semua orang memiliki akses fisik, sosial, dan ekonomi ke pangan yang cukup, aman, dan bergizi yang memenuhi preferensi pangan dan kebutuhan pangan, hal ini tentusaja dapat menunjang hidup yang aktif dan sehat.

Konsep ketahanan pangan tersebut mencakup empat hal yaitu ketersediaan pangan, akses makanan, pemanfaatan tanaman pangan, dan stabilitas. Untuk mencapai ketahanan pangan tersebut tentunya terdapat beragam faktor yang berpengaruh, termasuk faktor fisik atau kondisi alamnya dan faktor manusianya, seperti perkembangan teknologi. Di Indonesia sendiri, sesuai amanat UU No. 7 Tahun 1996, ketahanan pangan salah satunya bertujuan untuk  terpenuhinya kebutuhan pangan bagi rumah tangga.

Ketahanan Pangan

Hingga pertengahan 1970-an, diskusi tentang ketahanan pangan terutama difokuskan pada kebutuhan untuk menghasilkan lebih banyak pangan dan mendistribusikannya dengan lebih baik. Diskusi memprioritaskan ketersediaan total kalori makanan di tingkat nasional dan global sebagai sarana utama untuk mengatasi malnutrisi (terutama kekurangan gizi) .

Seiring waktu, konsep ketahanan pangan telah diperluas secara signifikan untuk mencakup berbagai faktor yang dapat mempengaruhi malnutrisi (dari semua bentuk) yang mencakup seluruh sistem pangan dalam beberapa penerapan termasuk pengakuan akan pentingnya sosial dan budaya sehingga menunjang peran yang dimainkan makanan.

Saat ini, konsep ketahanan pangan secara umum dipahami untuk memasukkan empat komponen utama: ketersediaan, akses, pemanfaatan, dan stabilitas; meskipun beberapa melihat stabilitas sebagai faktor lintas sektor yang terpisah. Agar kondisi ketahanan pangan ada, semua komponen ini harus tersedia secara memadai.

Pengertian Ketahanan Pangan

Ketahanan pangan adalah semua orang setiap saat memiliki akses fisik dan ekonomi ke makanan bergizi, aman, dan sesuai budaya dalam jumlah yang memadai, yang diproduksi dengan cara yang berkelanjutan secara lingkungan dan berkeadilan sosial, dan bahwa orang dapat membuat keputusan yang tepat tentang makanan mereka. pilihan makanan.

Ketahanan Pangan juga berarti bahwa orang-orang yang memproduksi pangan kita dapat memperoleh penghasilan yang layak, upah yang layak tumbuh, menangkap, memproduksi, mengolah, mengangkut, menjual eceran, dan menyajikan makanan.

Pengertian Ketahanan Pangan Menurut Para Ahli

Adapun definisi ketahanan pangan menurut para ahli, antara lain:

  1. United Nations’ Committee on World Food Security Komite PBB tentang Ketahanan Pangan Dunia), Ketahanan pangan adalah semua orang, setiap saat, memiliki akses fisik, sosial, dan ekonomi ke pangan yang cukup, aman, dan bergizi yang memenuhi preferensi pangan dan kebutuhan pangan mereka
  2. FAO (1997), Arti ketahanan pangan alah sebagai suatu kondisi dimana semua rumah tangga memiliki akses secara fisik maupun ekonomi untuk mendapatkan pangan bagi seluruh anggota keluarganya, dimana rumah tangga tidak beresiko mengalami kehilangan kedua akses tersebut.

Aspek Ketahanan Pangan

Aspek-aspek ketahanan pangan melitputi:

  1. Ketersediaan pangan

Pangan bergizi yang cukup dengan kualitas yang cukup harus tersedia bagi masyarakat untuk dikonsumsi. Ketersediaan dapat dipengaruhi oleh:

  1. Produksi: berapa banyak dan jenis makanan apa yang tersedia melalui makanan yang diproduksi dan disimpan secara lokal.
  2. Distribusi: bagaimana makanan tersedia (dipindahkan secara fisik), dalam bentuk apa, kapan, dan kepada siapa.
  3. Pertukaran: berapa banyak makanan yang tersedia dapat diperoleh melalui mekanisme pertukaran seperti barter, perdagangan, pembelian, atau pinjaman.
  1. Akses makanan

Individu dan rumah tangga harus dapat memperoleh makanan yang cukup untuk dapat makan makanan yang sehat, bergizi, atau memiliki akses ke sumber daya yang cukup yang dibutuhkan untuk menanam makanan mereka sendiri (misalnya tanah). Akses dapat dipengaruhi oleh:

  1. Keterjangkauan: kemampuan individu, rumah tangga atau komunitas untuk membayar harga pangan atau tanah untuk memproduksi makanan, relatif terhadap pendapatan mereka.
  2. Alokasi: mekanisme ekonomi, sosial dan politik yang mengatur kapan, dimana, dan bagaimana pangan dapat diakses oleh konsumen dan dengan istilah apa. Misalnya, makanan mungkin dialokasikan secara tidak merata menurut usia dan jenis kelamin dalam rumah tangga.
  3. Preferensi: norma dan nilai sosial, agama, dan budaya yang memengaruhi permintaan konsumen akan jenis makanan tertentu (misalnya, larangan agama atau keinginan untuk mengikuti pola diet tertentu seperti vegetarianisme).
  1. Pemanfaatan Pangan

Orang harus memiliki akses ke makanan dalam jumlah dan keragaman yang cukup untuk memenuhi kebutuhan nutrisinya, tetapi juga harus dapat makan dan memetabolisme makanan tersebut dengan benar. Pemanfaatan dapat dipengaruhi oleh:

  1. Nilai gizi: nilai gizi yang diberikan oleh makanan yang dikonsumsi, yang diukur dalam kalori, vitamin, protein, dan berbagai mikronutrien (misalnya zat besi, yodium, vitamin A).
  2. Status kesehatan: pengaruh penyakit (misalnya HIV / AIDS atau diare) pada kemampuan untuk mengonsumsi makanan dan menyerap serta memetabolisme nutrisinya.
  3. Keamanan pangan: akses ke pangan yang bebas dari pembusukan pangan atau pengenalan kontaminasi racun selama produksi, pengolahan, pengemasan, distribusi atau pemasaran pangan; dan dari penyakit yang ditularkan melalui makanan seperti salmonella.
  4. Persiapan dan konsumsi: sumber daya (misalnya peralatan memasak dan bahan bakar), pengetahuan dan kemampuan untuk menyiapkan dan mengonsumsi makanan dengan cara yang sehat dan higienis.
  1. Stabilitas

Makanan mungkin tersedia dan bisa diakses oleh orang-orang yang memiliki kemampuan untuk memanfaatkannya secara efektif, tapi untuk menghindari terjadinya peningkatan malnutrisi dan agar orang-orang tidak merasa tidak aman, keadaan yang demikian harus berlangsung lama daripada sementara waktu atau berubah-ubah.

Tujuan Ketahanan Pangan

Sesuai dengan amanat Undang-Undang No.7 Tahun 1996, secara tersirat dapat kita katakana bahwa tujuan ketahanan pangan di Indonesia, yaitu:

  1. Terpenuhinya pangan dengan kondisi ketersediaan yang cukup: Hal ini diartikan sebagai ketersediaan pangan dalam arti luas, yaitu meliputi semua jenis pangan yang berasal dari tanaman, ternak, dan ikan untuk memenuhi kebutuhan karbohidrat, protein, lemak, vitamin dan mineral beserta turunannya, yang sangat bermanfaat bagi pertumbuhan dan kesehatan manusia.
  2. Terpenuhinya pangan dengan kondisi yang aman: Hal ini berarti bahwa pangan yang tersedia harus bebas dari pencemaran biologis, kimia, dan benda lain yang bisa mengganggu, merugikan, dan membahayakan kesehatan manusia, serta aman sesuai dengan kaidah agama.
  3. Terpenuhinya pangan dengan kondisi yang merata: Hal ini berarti bahwa pangan harus tersedia setiap saat dan merata di seluruh tanah air.
  4. Terpenuhinya pangan dengan kondisi terjangkau: Hal ini berarti bahwa pangan harus mudah diperoleh rumah tangga dengan harga yang terjangkau.

Manfaat Ketahanan Pangan

Pertumbuhan di sektor pertanian ditemukan rata-rata setidaknya dua kali lebih efektif dalam mengurangi kemiskinan dibandingkan dengan pertumbuhan di sektor lain. Kerawanan pangan sering kali berakar pada kemiskinan serta menurunkan kemampuan negara-negara untuk mengembangkan pasar pertanian dan ekonomi mereka.

Akses ke makanan berkualitas dan bergizi sangat penting bagi keberadaan manusia. Akses yang aman terhadap pangan dapat menghasilkan dampak positif yang luas, termasuk:

  1. Pertumbuhan ekonomi dan penciptaan lapangan kerja
  2. Pengurangan kemiskinan
  3. Peluang perdagangan
  4. Peningkatan keamanan dan stabilitas global
  5. Peningkatan kesehatan dan perawatan Kesehatan

Dari beberapa dampak positif tersebut, dapat kita katakana bahwa pada dasarnya ketahanan pangan tidak hanya membawa manfaat yang signifikan bagi kesehatan manusia, tetapi juga menjadi landasan untuk mencapai pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.

Untuk alasan ini, penting bagi kita untuk memahami bahwa strategi ketahanan pangan perlu dilihat lebih dari sekedar masalah sektor tunggal; itu membutuhkan kombinasi tindakan terkoordinasi di berbagai sektor. Kita berbicara tentang tindakan di bidang keuangan, pertanian, kesehatan dan gizi, infrastruktur, dan sektor lainnya.

Demikian pula, pertumbuhan ekonomi saja tidak akan menyelesaikan masalah gizi buruk kronis dan stunting. Dalam salah satu publikasi terbaru The Lancet, sebuah jurnal ilmiah terkemuka di bidang kesehatan dan gizi global, diketahui bahwa peningkatan 10 persen dalam pertumbuhan ekonomi mengurangi malnutrisi kronis hanya 6 persen.

Asimetri tersebut menggambarkan bahwa pertumbuhan ekonomi dengan sendirinya tidak akan menyelesaikan masalah malnutrisi kronis, yang merupakan variabel kunci dalam strategi ketahanan pangan apa pun.

Mencapai ketahanan pangan dan mengurangi malnutrisi kronis memerlukan kebijakan multi-sektor tambahan yang bertujuan untuk mengurangi ketidaksetaraan dan menargetkan populasi yang rentan. Misalnya, negara-negara Amerika Latin memiliki kesenjangan pendapatan terbesar dibandingkan kawasan mana pun di dunia. Tetapi ada beberapa kisah sukses dari wilayah tersebut juga.

Di Brasil, stunting turun dari 37,1 persen menjadi hanya 7,1 persen selama 33 tahun terakhir. Sebagian besar pengurangan stunting ini terjadi antara tahun 1996 dan 2007, ketika kesenjangan antara keluarga miskin dan kaya dengan anak di bawah 5 tahun berkurang dalam hal daya beli serta akses ke pendidikan, perawatan kesehatan, layanan air dan sanitasi, dan perawatan kesehatan reproduksi. .

Tanpa ketahanan pangan yang stabil dan tahan lama, akan ada efek negatif yang berkelanjutan pada modal manusia dan ini akan meningkatkan biaya fiskal pemerintah, dengan konsekuensi negatif pada belanja publik pemerintah. Hal ini juga akan menyebabkan pertumbuhan ekonomi menjadi stagnan dalam jangka panjang.

Dengan demikian, ketahanan pangan sangat penting bagi pertumbuhan ekonomi jangka pendek dan panjang dan perlu menjadi bagian sentral dalam strategi lintas sektoral yang lebih besar di tingkat nasional, regional dan global.

Faktor Yang Mempengaruhi Ketahanan Pangan

Pasokan pangan global tidak merata. Beberapa tempat menghasilkan lebih banyak makanan daripada tempat lain. Faktor fisik (seperti iklim, kualitas dan gradien tanah) dan faktor manusia (seperti teknologi) secara historis mengontrol jumlah dan jenis makanan yang diproduksi di lokasi mana pun.

Saat ini, ada banyak faktor lain yang menjelaskan mengapa beberapa negara menghasilkan lebih banyak makanan daripada yang lain, diantarannya yaitu:

  1. Iklim

Pemanasan global meningkatkan suhu sekitar 0,2 ° C setiap 10 tahun. Curah hujan meningkat di beberapa tempat, tetapi menurun di tempat lain. Temperatur yang lebih tinggi dan curah hujan yang tidak dapat diandalkan membuat pertanian menjadi sulit, terutama bagi mereka yang bertani di lahan marjinal, yang sudah berjuang untuk bertahan hidup.

Bahkan negara maju pun bisa terkena dampak kekeringan. Negara-negara seperti Rusia dan Australia masing-masing adalah pengekspor besar gandum dan barley. Ketika mereka menderita kekeringan, ketersediaan pangan secara global berkurang dan harga pangan global meningkat, membuat orang miskin menjadi yang paling rentan.

  1. Teknologi

Peningkatan teknologi telah meningkatkan jumlah makanan yang tersedia. Teknologi dapat mengatasi kekurangan suhu, air dan hara berupa rumah kaca, irigasi, dan pupuk. Ini dapat menimbulkan biaya ekonomi atau lingkungan. AC mengimpor makanan dari seluruh dunia, sepanjang tahun.

  1. Hilangnya lahan pertanian

Pertumbuhan pasar biofuel mengambil alih lahan pertanian yang berharga yang kemudian tidak digunakan untuk makanan.

  1. Hama dan penyakit

Pestisida telah meningkatkan hasil panen. Petani di AC dapat membeli pestisida, sedangkan sebagian besar petani di negara berkembang berpenghasilan rendah (LIDC) tidak mampu membelinya.

  1. Tekanan air

Sistem dalam arti irigasi menyediakan air untuk negara-negara dengan curah hujan yang tidak dapat diandalkan atau rendah. Irigasi dapat menggandakan hasil panen, tetapi mahal untuk menerapkan sistem ini. Air dapat diambil dari akuifer bawah tanah atau langsung dari sungai. Keduanya memiliki konsekuensi lingkungan.

  1. Konflik

Perang memaksa petani untuk meninggalkan tanah mereka atau berperang dalam konflik. Makanan dapat digunakan sebagai senjata, dengan musuh memotong persediaan makanan untuk mendapatkan tanah. Tanaman juga bisa dihancurkan selama pertempuran.

Kekurangan pangan menyebabkan kerusuhan dan konflik. Wilayah Sudan Selatan telah menghadapi konflik selama bertahun-tahun, dengan 4 juta orang menghadapi rawan pangan. Di kawasan Darfur konflik telah berlangsung bertahun-tahun karena perselisihan hak atas tanah dan penggembalaan.

  1. Kemiskinan

Ketika orang memiliki lebih sedikit uang, mereka tidak mampu membeli makanan dan mereka menjadi tidak dapat bekerja. Keluarga di negara berkembang menghabiskan sebagian besar pendapatan mereka untuk makanan.

Contoh Ketahanan Pangan

Berikut adalah contoh proyek ketahanan pangan yang membantu menghidupkan kembali dan menopang komunitas rawan pangan, misalnya;

  1. Menumbuhkan keadilan pangan padarakyat biasa: Community Services Unlimited (CSU)

Sejak 1977, CSU yang berbasis di Los Angeles telah memerangi kerawanan pangan melalui serangkaian program yang efektif, termasuk From the Ground Up, magang pelatihan pemuda yang membantu mengembangkan generasi penerus pemimpin pangan dan keadilan sosial; Growing Healthy, yang mengajarkan anak-anak yang lebih muda tentang nutrisi dan dasar-dasar keamanan dan keadilan pangan.

Ada pula program Village Market Place, yang menawarkan kesempatan pelatihan kerja sambil membeli produk organik dari keluarga kecil petani kulit berwarna dan menjualnya ke koki lokal, pasar, sekolah, dan banyak lagi.

Nah, demikinalah artikel yang bisa kami kemukakan pada segenap pembaca berkenaan dengan pengertian ketahanan pangan menurut para ahli, aspek, tujuan, manfaat, faktor yang mempengaruhi, dan contohnya. Semoga memberikan wawasan bagi kalian.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *