Manfaat Pertanian Tradisional dan Contohnya

Diposting pada

Manfaat Sistem Pertanian Tradisional

Pertanian tradisional merupakan sistem pertanian yang tetap bersifat ektensif dan pengunaan input pada kegiatan tradisional tidak dimaksimalkan. Dalam sistem pertanian tradisional salah satu contohnya adalah adanya sistem dalam arti ladang yang berpindah. Namun, untuk di era sekarang sistem ladang berpindah sudah tidak diterapkan karena kebutuhan akan tanaman pangan yang meningkat berakibat pada kebutuhan lahan yang meningkat pula.

Dalam sistem pertanian Indonesia umumnya sebagai pemenuhan kebutuhan pangan petani dan tidak diperuntukkan kebutuhan ekonomi (diperjual belikan) petani sehingga terkadang keuntungan para petani dari kegiatan pertanian konvensional tidak terlalu tinggi.  Bahkan, beberapa tidak mendapat keuntungan sama sekali dari pertanian tradisional.

Pertanian Tradisional

Sistem pertanian tradisional adalah sistem yang mempunyai tujuan dalam peningkatan hasil produksi tanaman dengan pemberian tambahan unsur eksternal (pupuk dan pestisida kimia) maka akan menghasilkan produksi panen yang tinggi. Teknologi yang digunakan masih dalam tahap berkembang. Namun, dalam kegiatannya terdapat dampak negatif yaitu produksi meningkat tetapi tidak bertahan lama.

Hal tersebut karena adanya degradasi kualitas tanah dan residu yang menumpuk di dalam tanah karena penggunaan pupuk dan pestisida kimia yang berlebihan sehingga tanaman dapat teracuni maka sistem ini dapat dibilang tidak arif lagi.

Perkembangan dalam sistem untuk arti pertanian tradisional menerapkan pasca usaha tani untuk acuan dalam pengembangan program yang dikerjakan.

Pertanian tradisional mempunyai sifat tak menentu. Hal tersebut yag membuat bahwa manusia seakan-akan hidup di atas tonggal. Di daerah yang memiliki lahan pertanian yang sempit dan budidaya tanaman bergantung pada curah hujan yang tidak dapat dipastikan, produksi tanamannya rata-rata sangat rendah dan saat kondisi tahun-tahun yang buruk, petani akan mengalami tidak mendapat pendapatan dan bahkan bahaya kelaparan.

Pengertian Pertanian Tradisional

Pertanian tradisional merupakan sistem pertanian yang ramah lingkungan karena tidak menggunakan pestisida. Namun, produksinya tidak dapat mengimbangi untuk pemenuhan kebutuhan pangan masyarakat yang kian bertambah. Supaya dapat mengimbangi kebutuhan masyarakat maka diperlukan upaya peningkatan produksi panen.

Pertanian tradisional umumnya menggunakan prinsip yang hanya berfokus pada pemenuhan kebutuhan hidup untuknya sekarang, contohya masyarakat melakukan budidaya tanaman tanaman padi dengan hasil yang didapatkan akan diproduksi dan diolah menjadi beras yang bakal dikonsumsi oleh keluarga petani.

Pertanian Tradisional Menurut Para Ahli

Adapun menurut para ahli, definisi atas pertanian tradisional ini antara lain sebagai berikut;

  1. Pracaya (2007), Pertanian tradisional adalah pertanian yang ramah dengan lingkungan karena dalam budidaya tanaman tidak menggunakan pestisida. Namun, produksinya tidak seimbang dengan kebutuhan pangan masyarakat yang populasinya bertambah terus menerus. Dalam keseimbangan kebutuhan pangan maka diperlukan upaya dalam meningkatkan produksi panen.
  2. Djojosumarto (2000), Pertanian konvesional yang ada di Indonesia telah mengalami beberapa peristiwa yang merugikan karena menggunakan pestisida misalnya serangan hama tertentu meningkat setelah dilakukan penyemprotan insektisida terhadap tanaman padi.

Disamping itu, adanya ledakan munculnya hama sekunder seperti hama ganjur setelah dilakukan penyemprotan secara intensif melalui fosfamidon yang berfungsi pengendali hama penggerek padi di daerah Pantai Utara, Jawa Barat (1960/1970).

Manfaat Pertanian Tradisional

Pertanian tradisional memiliki manfaat antara lain:

  1. Pelestarian alam akan terjamin dan terus berkembang

Pelestarian alam akan terus berjalan sebab pertanian tradisional berjalan sesuai dengan musim tanam dan akan menghasilkan produksi yang sesuai dengan rata-rata konstan.

Lahan pertanian adalah bahan utama dalam pemenuhan kebutuhan pangan yang tidak bisa dialih fungsikan oleh alat atau mesin. Lahan berkaitan dengan cahaya matahari, suhu udara, air, mikroorganisme yang diciptakan oleh Tuhan Yang Maha Esa.

  1. Tidak ada pencemaran atau kerusakan yang terjadi

Efisien dalam penggunaan input terhadap proses penanaman menyebabkan kondisi tanah dan lingkungan tidak akan terlalu terespon oleh pengunaan input karena biasanya menggunakan pupuk organik dan tidak menggunakan pestisida sehingga tidak akan ada kerusakan ekosistem yang dapat menurunkan hasil produksi pertanian.

  1. Pelestarian budidaya pertanian

Indonesia dikenal sebagai negara agraris dan kaya akan kebudayaan. Kebudayaan tersebut juga termasuk dalam sistem pertanian di Indonesia salah satunya adalah pertanian tradisional. Budidaya pertanian terbilang sebagai mayoritas kegiatan yang dijalani oleh masyarakat Indonesia seperti halnya di Bali yang kebanyakan berprofesi sebagai petani di sawah.

Namun, karena kebutuhan ekonomi yang tinggi banyak masyarakat yang berahli profesi sehingga banyak sektor yang berkembang seperti sektor industri dan pariwisata karena diyakini lebih mendapatkan pendapatan yang cukup tinggi.  Oleh karena itu, pertanian tradisional memiliki peran penting dalam menjaga kebudayaan pertanian di Indonesia.

  1. Tanaman yang dihasilkan sehat

Dalam pertanian tradisional minim penggunaan input seperti pupuk biasanya hanya menggunakan pupuk organik (kandang, kompos) dan tidak menggunakan pestisida yang dapat mencemari lingkungan dan tanaman. Oleh karena itu, tanaman yang dihasilkan dari sistem pertanian tradisional memiliki kualitas kandungan gizi yang baik dan sehat karena tidak mengandung zat kimia yang berasal dari pupuk maupun pestisida.

  1. Kebutuhan modal yang dikeluarkan sedikit

Dalam pertanian tradisional mengeluarkan modal untuk proses budidaya tanaman sangat minim. Prinsip dasar dalam sistem pertanian tradisional adalah mengandalkan sumber daya alam sebagai bahan utama sehingga tidak memberikan input yang berlebihan untuk pertumbuhan dan perkembangan tanaman.

Namun, di era sekarang sistem pertanian tradisonal dirasa kurang efektif karena kebutuhan lahan dan pangan tidak sejalan.

Misalnya kebutuhan berbagai jenis tanaman pangan yang kian meningkat namun keadaan lahan yang setiap tahun mulai berkurang karena banyak penggunaan lahan sebagai industri perumahan, supermarket atau perkantoran dan lain-lain. Hal ini membuat input untuk lahan pertanian yang ada sering dimaksimalkan supatya cepat memproduksi hasil pangan.

  1. Membuka lapangan pekerjaan

Dalam sistem pertanian tradisional masih menggunakan alat-alat sederhana dari proses pengolahan lahan hingga pasca panen. Alat-alat tradisonal biasanya digerakkan oleh para petani atau buruh sehingga pertanian tradisional dapat membuka lapangan pekerjaan untuk buruh bekerja karena membutuhkan tenaga dalam setiap prosesnya.

Namun, berkembangnya zaman penggunaan tenaga kerja yang berlebih membuat pengeluaran menjadi meningkat sehingga teknologi untuk penanaman hingga pasca panen dapat dikerjakan oleh mesin atau alat tertentu. Oleh karena itu, pertanian tradisional sudah dirasa kurang efektif dalam pengerjaan budidaya yang cepat.

  1. Memproduksi secara stabil sepanjang tahun

Pertanian tradisional memiliki sifat yang ramah lingkungan sehingga dalam pelaksanaan budidaya memproduksi tanpa kendala. Keadaan seperti ini akan menstabilkan ekonomi karena tidak ada pasang surut komoditas tanaman yang signifikan. Kebutuhan pangan pun bisa dikontrol dengan adanya intensifikasi lahan.

  1. Kesuburan tanah terjaga

Penggunaan dalam pemanfaatan pupuk organik (kandang) pada sistem pertanian tradisional dan tidak adanya penggunaan pestisida dapat menjaga kualitas dan struktur tanah sehingga tidak akan terjadi degradasi lahan yang menurunkan kesuburan tanah.

Pengairan yang mengandalkan curah hujan yang ada juga turut menjaga keadaan tanah dan mikooroganisme yang berada di dalam tanah bisa hidup dan berkembang.

  1. Untuk memenuhi kebutuhan hidup petani

Dalam pertanian tradisional biasanya digunakan untuk pemenuhan kebutuhan pangan bagi para petani karena hasil produksi yang tidkak bisa ditentukan karena mengandalkan alam maka saat panen hasil tersebut disimpan dan diolah untuk kebutuhan pangan petani misalnya saja berbagai macam tanaman padi.

Oleh karena itu, jarang petani yang menggunakan sistem pertanian tradisional yang mendapatkan keuntungan bahkan tidak sama sekali.

  1. Tidak menggunakan pestisida dan mengandalkan alam

Pertanian tradisional tidak menggunakan pestida karena dapat membahayakan tanaman dan lingkungan sekitar sehingga hanya mengandalkan alam untuk budidaya tanaman seperti curah hujan, cahaya matahari, mikroorganisme, dan adanya musuh alami.

Contoh Pertanian tradisional

Sebagai penjelas untuk sistem pertanian tradisional ini misalnya saja;

Penggunaan Pacul/Cangkul

Penggunaan alat-alat tradisional seperti pacul atau cangkul yang berfungsi dalam menggemburkan tanah. Pacul juga dapat memecah/ membelah/ membalikkan tanah sehingga sebelum tanah ditanami oleh benih maka sebaiknya dicangkul terlebih dahulu supaya tanah lebih gembur dan memudahkan untuk proses penanaman.

Selain, pacul atau cangkul juga ada alat bernama garu tanah yang digunakan untuk mengolah tanah. Setelah dipacul biasanya dilakukan penggarukan tanah supaya tanah lebih gembur dan rata. Penataan kelola air juga lebih baik dan tanaman liar yang menganggu dapat disanitasi menggunakan garu supaya tidak merusak hasil. Garu tanah dibedakan menjadi tiga jenis yaitu garu sisir, garu piring, dan garu paku.

Demikianlah uraian lengkap yang bisa kami tuliskan pada segenap pembaca. Berkenaan dengan manfaat pengelolaan dalam sistem pertanian tradisional dan contohnya yang bisa dilihat dalam kehidupan sehari-hari. Semoga mengeduskasi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *