Pengertian Organisme Pengganggu Tanaman (OPT), Jenis, dan Contohnya

Diposting pada

OPT adalah

Setiap arti tumbuhan tidak selamanya bisa hidup tanpa gangguan. Dalam pertumbuhannya banyak kendala yang dapat terjadi salah satunya adalah adanya serangan dari organisme yang dapat menyebabkan kerugian pada tanaman tersebut. Organisme ini tergolong kedalam organisme penganggu tanaman yang dikenal dalam arti pertanian sebagai OPT.

Organisme penganggu tanaman atau OPT dapat berupa arti hewan maupun mikroorganisme yang merugikan atau disebut dengan patogen. Selain itu beberapa tumbuhan juga dilaporkan sebagai organisme pengganggu tanaman atau biasa disebut gulma.

Organisme Penganggu Tanaman (OPT)

Organisme pengganggu tanaman yang akrab dengan dunia pertanian merupakan semua jenis organisme yang menyebabkan menurunnya hasil panen secara langsung akibat dari kerusakan fisik yang terjadi, sehingga dengan adanya gangguan fisiologi dan biokimia tanaman akan terjadi kompetisi unsur hara terhadap tanaman budidaya inilah dianggap sebagai penggangu.

Terkait dengan hal tersebut diperlukan penanggulangan yang tepat terhadap serangan organisme tersebut karena perkembangan serangan organisme pengganggu tanaman yang tidak dapat dikendalikan akan berdampak kepada timbulnya masalah-masalah lain yang bersifat ekonomi, ekologi dan sosial.

Pengertian Organisme Pengganggu Tanaman

Organisme pengganggu tanaman adalah bentuk hewan atau tumbuhan baik berukuran mikro ataupun makro yang dapat menghambat, mengganggu, bahkan mematikan tanaman yang sedang dibudidayakan dan diharapkan hasil pemanenannya.

Pengertian Organisme Pengganggu Tanaman Menurut Para Ahli

Adaoun definisi organisme pengganggu tanaman menurut para ahli, antara lain;

  1. Ditlin (1992), Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) adalah hama, penyakit, dan gula yang menjadi faktor  dalam menghambat usaha untuk peningkatan produksi pertanian.
  2. Djojosumarto (2008), Pengertian organisme pengganggu tanaman (OPT) adalah semua jenis organisme yang menjadi penyebab atas penurunan hasil pertanian.

Jenis Organisme Penganggu Tanaman

Berdasarkan jenis seranganya OPT dibagi menjadi 3 kelompok, yaitu hama, vektor penyakit, dan gulma. Penjelasannya adalah sebagai berikut;

  1. Hama

Hama adalah semua organisme khususnya mikroorganisme yang dalam aktivitas hidupnya dapat menimbulkan kerusakan hasil tanaman atau bagian-bagian tertentu tanaman dan menurunkan kuantitas maupun kualitasnya, sehingga menimbulkan kerugian ekonomis bagi yang mengusahakannya. Hama juga dapat diartikan sebagai hewan yang merusak secara langsung pada tanaman.

Sehingga berbagai jenis hama tanaman dapat berasal dari beberapa golongan hewan antara lain dianttara lain dari golongan serangga, moluska, rodent,  mamalia, dan nematode. Serangan hama dapat memberikan kerugian yang besar apabila terjadi secara massif. Serangan hama pada dasarnya tidak memberikan efek menular kecuali jika hama tersebut juga berperan sebagai vektor suatu penyakit.

  1. Penyakit Tanaman

Penyakit tanaman merupakan suatu peristiwa yang mengakibatkan terganggunya proses fisiologis yang dapat berakibat pada pertumbuhan abnormal dari pertumbuhan tanaman atau bagian-bagian tertentu tanaman yang disebabkan oleh rangsangan secara terus-menerus pada tanaman oleh suatu penyebab biotik primer. Hal ini ditunjukkan oleh aktivitas sel sakit dan dinyatakan dalam keadaan morfologis dan histologis yang disebut gejala.

Penyakit tanaman dapat diartikan juga sebagai organisme yang memberikan gejala sakit, menurunkan imunitas, atau mengganggu metabolisme tanaman sehingga terjadi gejala abnormal pada sistem metabolisme tanaman tersebut.

Beberapa penyakit masih dapat ditanggulangi dan tidak memberikan efek serius apabila imunitas tanaman dapat ditingkatkan atau varietas tersebut toleran terhadap penyakit yang menyerangnya. Namun terdapat pula penyakit yang memberikan efek serius pada tanaman dan bahkan menyebabkan kematian.

Beberapa contoh penyakit tanaman adalah patogen  yang meliputi jamur, bakteri, virus, dan mikoplasma. Umumnya gejala penyakit memiliki efek menular yang sangat cepat dan sulit dibendung.

  1. Gulma

Gulma adalah sekelompok tumbuhan bertahan hidup dengan mengadakan asosiasi pada tanaman budidaya dan memberikan efek persaingan negatif terhadap tanaman budidaya tersebut. Gulma dapat berupa tumbuhan liar yang tidak dikehendaki tumbuhnya dan bersifat mengganggu pertumbuhan dan perkembangan tanaman yang dibudidayakan.

Gulma bisa disebut juga sebagai kompetitor yang penyerap nutrisi daerah perakaran tanaman. Apabila pertumbuhan gulma lebih cepat dibandingkan tanaman, maka sudah dapat dipastikan tanaman yang dibudidayakan akan mengalami pertumbuhan yang tidak optimal.

Beberapa contoh gulma bahkan ada yang memberikan efek racun pada perakaran tanaman, seperti kandungan metabolit sekunder yang berupa cairan pada akar alang-alang.

Penyebab Organisme Penganggu Tanaman

Munculnya organisme pengganggu tanaman dapat dipicu oleh beberapa hal yang berkaitan langsung dengan proses budidaya tanaman maupun faktor lingkungan yang mendukung. Berikut beberapa hal yang dapat menjadi penyebab munculnya organisme pengganggu tanaman, antara lain;

  1. Varietas Unggul yang Rentan

Arah pemuliaan tanaman sering tidak memasukkan unsur daya tahan varietas terhadap serangan hama, yang diutamakan adalah sifat-sifat yang berhubungan langsung dengan potensi hasil yang maksimal, seperti umur pendek, daun-daun tegak, tahan rebah dan responsif terhadap pupuk.

Masalah hama yang timbul dianggap dapat ditanggulangi dengan aplikasi pestisida. Keterbatasan varietas unggul merupakan salah satu kelemahan yang selalu menyebabkan timbulnya masalah serangan hama.

  1. Pola Tanam yang Kurang Tepat

Akibat adanya tujuan ingin mencapai hasil yang maksimum, terdapat beberapa petani yang berusaha menanam suatu varietas tanaman secara terus menerus sepanjang tahun tanpa diikuti dengan penerapan pola tanam. Dengan demikian dalam hamparan lahan yang luas hanya terdapat satu varietas tanaman dengan semua tingkatan umur dari semaian sampai tanaman siap panen.

Agroekosistem seperti ini dapat menjadi penyebab kemunculan OPT karena tersediaanya makanan dalam jumlah yang cukup dan terus menerus sehingga OPT dapat tumbuh dan berkembang biak dengan baik hingga mencapai jumlah populasi yang merusak atau merugikan secara ekonomis.

Cara Mengatasi Organisme Pengganggu Tanaman

Mengatasi Organisme Pengganggu Tanaman
Mengatasi Organisme Pengganggu Tanaman

Adapun untuk upaya dalam mengatasi adanya OPT (organisme pengganggu tanaman) antara lain;

  1. Dilakukan dengan cara pencegahan atau preventif

Pencegahan bertujuan untuk melindungi tanaman sebelum terserang oleh OPT. Contohnya perlakuan benih padi sebelum disemai dilarutkan pada fungsida Dithane M-45 untuk mencegah adanya bibit patogen jamur atau penyakit yang mengakibatkan penyakit bercak daun.

  1. Pemberantasan atau eradikas

Pemberantasan dilakukan dengan cara memusnahkan atau mematikan tanaman yang terserang OPT agar tanaman yang tidak terserang tidak terkena bibit penyakit atau serangan hama. Dengan pemberantasan atau eradikasi dapat menekan jumlah OPT bahkan menghentikan kerusakan tanaman. Eradikasi diupayakan secara fisik, mekanik, dan kimia.

  1. Pengobatan atau kuratif

Pengobatan atau kuratif dilakukan dengan memberikan obat atau bahan kimia lainnya seperti pestisida, insektisida, fungsida terhadap tanaman yang sakit disebabkan oleh infeksi patogen, Contohnya penyakit bercak coklat padi dengan fungsisida.

  1. Pengelolaan atau pengendalian

Pengendalian atau pengelolaan dilakukan dengan mengelola OPT yang menganggu tanaman sehingga kerusakan dapat ditekan bahkan terhenti kerusakannya. Pengendalian ini bersasaran pada tanaman yang belum terserang oleh OPT.

  1. Menggunakan Pestisida

Penggunaan pestisida bisa dilakukan untuk mencegah OPT, meskipun demikian pestida ini seringkali menimbulkan masalah baru seperti membunuh organisme bukan sasaran seperti parasitoid dan predator, peristiwa resistensi dan resurgensi hama, serta perubahan fisiologi tanaman.

Penggunaan pestisida yang ebrlebihan dan dilakukan secara terus menerus dapat menyebabkan tingginya populasi hama di lapangan.

Adapun untuk dampaknya sendiri atas penggunaan pestida, antara lain;

  1. Tingkat Keragaman Ekosistem

Tingkat keragaman ekosistem ditandai dengan beragamnya spesies tanaman yang diusahakan pada suatu areal agroekosistem dan pada waktu yang sama. Dalam agroekosistem yang beragam, spesies monophage mengalami kesulitan untuk menemukan inangnya sehingga dapat berdampak pada menurunnya laju imigrasi dan kolonisasi.

Faktor-faktor lain seperti kegemaran OPT terhadap tanaman inang tertentu, kecepatan memilih tanaman inang, adanya musuh alami juga sangat berpengaruh. Populasi spesies predator dan parasitoid cenderung lebih tinggi pada pola pertanaman polikultur dibandingkan dengan monokultur.

Hal ini berkaitan dengan ketersediaan nektar, mangsa bagi predator dan inang bagi parasitoid serta habitat mikro pada pertanaman polikultur.

  1. Keanekaragaman Genetik

Dalam ekosistem alami, terjadi interaksi antara tanaman inang dengan OPT. Varietas tanaman yang dibudidayakan dari hasil pemuliaan memiliki ketahanan genetic yang sempit atau ditentukan oleh gen tunggal, sehingga daya tahan varietas tersebut terhadap hama tertentu menjadi rentan.

Tekanan seleksinya terhadap populasi hama memaksa hama tersebut untuk beradaptasi dan menyeleksi dirinya dan berkembang menjadi rasa tau biotipe baru dan dapat merontokkan daya tahan tanaman inang hasil pemuliaan tadi.  Dengan demikian timbullah masalah serangan hama yang bersangkutan yang kadang-kadang sulit dikendalikan.

Contoh Organisme Penganggu Tanaman

Adapun untuk beragam contoh yang ada di dalam OPT ini, antara lain sebagai berikut;

  1. Cyperacceae

Cyperacceae adalah tumbuhan yang berperan sebagai gulma dari kelompok teki-tekian dengan ciri utamanya yaitu memiliki bantang yang berbentuk segitiga dan sebagian besar sistem perakarannya terdiri dari akar rimpang atau rhizome dan umbi atau tuber.

Cyperacceae memiliki daya tahan luar biasa terhadap pengendalian mekanik. Cyperacceae memiliki umbi batang di dalam tanah yang mampu bertahan berbulan-bulan dan mampu mencapai kedalaman satu meter sehingga dapat lolos dari pengendalian mekanik yang baisanya dilakukan hanya sampai kedalaman 30 cm.

Gulma jenis ini memiliki jalur fotosintesis C4 yang menjadikannya sangat efisien dalam menguasai areal pertanian secara cepat. Contoh dari kelompok cyperacceae adalah teki ladang (Cyperus rotundus) dan udelan (Cyperus kyllingia). Namun demikian, kelompok Cyperacceae selain merugikan tanaman budidaya juga memiliki banyak manfaat.

  1. Wereng batang cokelat (WBC)

Wereng batang cokelat merupakan salah satu hama penting pada pertanaman padi karena mampu menimbulkan kerusakan baik secara langsung maupun tidak langsung. Kerusakan secara langsung terjadi karena hama ini mempunyai kemampuan mengisap cairan tanaman yang menyebabkan daun menguning, kering dan akhirnya mati yang dikenal dengan gejala hopperburn.

Kerusakan secara tidak langsung terjadi karena wereng batang coklat adalah vektor penyakit yang menyebabkan kerdil rumput dan kerdil hampa. Wereng batang cokelat merupakan hama penting tanaman padi di Indonesia yang sejak tahun 1985 telah mengancam target swasembada beras.

Faktor utama yang berkontribusi terhadap meningkatnya populasi dan serangan wereng batang cokelat dalam beberapa tahun terakhir ini adalah potensi biotik wereng batang cokelat yang tinggi, faktor abiotik dan sistem budidaya padi yang mendukung berkembangnya populasi wereng batang cokelat. Predator untuk mengendalikan wereng ini adalah Cyrtorhinus lividipennis dari ordo Hemiptera dan famili Miridae.

  1. Hemileia vastratrix

Hemileia vastratrix termasuk dalam filum Basidomycetes. Basidimycotina mempunyai bentuk uniseluler dan multiseluler serta dapat bereproduksi secara generatif dan vegetatif. anaman sakit ditandai oleh adanya bercak – bercak berwarna kuning muda pada sisi bawah daun, kemudian berubah menjadi kuning tua, menghitam, lalu mengering.

Di bagian bawah daun terbentuk tepung berwarna oranye, daun yang parah akan rontok, sehingga lambat laun tanaman menjadi gundul. Akibat timbulnya gejala tersebut pertumbuhan tanaman dapat terganggu dan akan kehabisan cadangan amilum dalam akar dan rantingnya, yang akan berakibat kematian pada tanaman. Pada tanaman kopi Arabica, penyakit ini menjadi masalah utama.

Kesimpulan

Dari penjelasna yang dikemukakan, dapatlah dikatakan bahwa masih banyak berbagai permasalahan OPT yang belum tuntas penanganannya dan perlu kerja keras untuk mengatasinya dengan berbagai upaya dilakukan, seperti lalat buah pada berbagai produk buah dan sayuran buah dan virus gemini pada tanaman cabai.

Selain itu, dalam kaitannya dengan terbawanya OPT pada produk yang akan diekspor dan dianalis potensial masuk, menyebar dan menetap di suatu wilayah negara, akan menjadi hambatan yang berarti dalam perdagangan internasional.

B

Nah, itulah tadi serangkaian artikel yang telah menjelaskan kepada segenap pembaca terkait dengan pengertian organisme pengganggu tanaman (OPT) menurut para ahli, jenis, penyebab, cara mengatasi, dan contohnya dalam berbagai tumbuhan/tanaman.

5/5 - (1 vote)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *