Pengertian Pertanian Menurut Para Ahli, Sejarah, dan Contohnya

Diposting pada

Pengertian Pertanian Menurut Para Ahli

Manusia dalam melangsungkan kehidupannya membutuhkan bahan pangan sebagai sumber energi. Pertanian merupakan salah satu kegiatan yang dapat dilakukan untuk menghasilkan bahan pangan dan bertahan hidup. Pertanian dapat dilakukan manusia dengan memanfaatkan sumber hayati di alam dan mengelolanya dengan baik. Oleh sebab itulah berikut merupakan penjelasan lengkap mengenai pertanian;

Pertanian

Pertanian sebagai serangkaian kegiatan yang saat dibutuhkan oleh manusia dengan banyak mengandung makna secara sempit dan luas. Sehingga secara spesifiknya banyak pendapat dan pandangan yang muncul terkait dengan bidang ini.

Pengertian Pertanian

Pertanian dalam arti luas mencakup pertanian rakyat. Sedangkan petanian dalam arti sempit dapat disebut dengan arti perkebunan termasuk didalamnya berbagai jenis perkebunan rakyat dan perkebunan besar, kehutanan, peternakan dan perikanan.

Misalnya saja, untuk Indonesia merupakan negara pertanian yang artinya pertanian memegang peranan penting dari keseluruhan perekonomian nasional. Hal ini dapat ditunjukkan dari jumlah penduduk yang hidup dan bekerja pada sektor pertanian atau dari produk nasional yang berasal dari bidang pertanian.

Pengertian Pertanian Menurut Para Ahli

Sedangkan pendapat ahli mengenai arti pertanian, antara lain adalah sebagai berikut;

Van Aarsten (1953)

Pertanian merupakan kegiatan manusia yang dilakukan untuk memeproleh hasil yang berasal dari tumbuh-tumbuhan dan hewan yang apda mulanya dicapai dengan jalan sengaja untuk menyempurnakan segala kemungkinan yang telah diberikan oleh alam guna mengembangbiakan tumbuhan dan hewan tersebut.

Mosher (1966)

Pertanian merupakan bentuk produksi yang khas didasarkan pada proses pertumbuhan tanaman dan hewan. Petani mengelola dan merangsang pertumbuhan tanaman dan hewan dalam suatu usaha tani dimana kegiatan produksi merupakan bisnis sehingga pengeluaran dan pendapatan mempunyai arti yang sangat penting.

Pantjar Simatupang (2003)

Pertanian bukan sekedar sebuah aktivitas ekonomi untuk menghasilkan pendapatan bagi petani saja. Lebih dari itu pertanian dapat menjadi sebuah cara hidup atau way of life sebagian besar petani. Oleh karena itu sistem dan sektor pertanian harus menempatkan subjek petani sebagai pelaku sektor pertanian secara utuh.

Konsekuensi pandangan ini adalah dikaitkannya unsur-unsur nilai sosial dan budaya lokal yang memuat aturan dan pola hubungan sosial, politik, ekonomi dan budaya kedalam kerangka paradigma pembangunan sistem pertanian secara menyeluruh.

Karwan A. Salikin

Pertanian adalah salah satu bagian dari agroekosistem yang tidak dapat dipisahkan dengan subsistem kesehatan dan lingkungan alam, manusia dan budaya saling mengait dalam suatu proses produksi demi kelangsungan hidup bersama.

Y.W Wartaya Winangun

Pertanian adalah hal yang memiliki sifat substansial dalam hal pembangunan karena dapat berlaku sebagai pemenuhan kebutuhan pangan, penyedia bahan mentah untuk industri, penyumbang devisa negara dan penyedia lapangan pekerjaan.

Dwi Haryanti

Pertanian memiliki pengertian sebagai suatu usaha manusia dalam bercocok tanam dimana objeknya merupakan sebuah lahan kosong.

Sri Sulestari

Pertanian merupakan jenis usaha yang bertumpu pada pengolahan tanah dan tanaman yang ditanam berupa tanaman pangan.

Sejarah Pertanian

Sejarah pertanian merupakan bagian dari sejarah kebudayaan manusia. Pertanian mulai muncul ketika suatu masyarakat mampu untuk menjaga ketersediaan pangan bagi kehidupannya. Pertanian seolah memaksa suatu kelompok manusia uuntuk menetap dan dengan demikian dapat mendorong munculnya peradaban.

Terjadi perubahan dalam sistem kepercayaan, pengembangan alat-alat yang dapat mendukung kehidupan dan juga munculnya kesenian akibat diadopsinya teknologi pertanian. Kebudayaan masyarakat yang menggantungkan hidupnya pada aspek pertanian disebut sebagai kebudayaan agraris.

Pertanian di Indonesia bermula sejak abad 19 dalam naungan penjajahan Belanda

Pertanian di Indonesia mulai muncul pada abad 19 atau sekitar tahun 1811-1816 melalui sistem pajak tanah yang dikenalkan oleh Raffles telah membawa beberapa persoalan terhadap kaum feodal Jawa dan mendorong pemberontakan yang dikenal dengan Perang Jawa.

Selanjutnya pada tahun 1830-1870 masyarakat pribumi telah mengenal kegiatan bercocok tanam melalui tanam paksa yang diterapkan oleh penjajah yang kala itu bertujuan mensejaterakan penjajah. Sebelum era kemerdekaan di tahun 1918 terbentuk Balai Besar Penyelidikan Pertanian (Algemeen Proefstation voor den Landbouw) yang mengalami pergantian nama beberapa kali.

Pada masa setelah kemerdekaan lahir UU No. 5/1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-pokok Agraria (UUPA) yang bertujuan meletakkan dasar-dasar bagi penyusunan hukum agraria nasional, mengadakan kesatuan dan kesederhanaan dalam hukum pertanahan, dan meletakkan dasar-dasar kepastian hukum hak-hak atas tanah bagi seluruh rakyat.

Semua yang dilakukan untuk mewujudkan kebahagiaan, kemakmuran, keadilan bagi rakyat dan negara, khususnya rakyat tani, dalam menuju masyarakat adil dan makmur.

Pada Tahun 1974 telah dibentuk Badan Litbang Pertanian berdasarkan Keputusan Presiden tahun 1974 dan 1979 yang memutuskan bahwa Badan Litbang Pertanian sebagai unit Eselon I yang membawahi 12 unit Eselon II yang meliputi:

  1. Sekretariat dan 4 Pusat (Pusat Penyiapan Program, Pusat Pengolahan Data Statistik, Pusat Perpustakaan Biologi dan Pertanian, dan Pusat Karantina Pertanian)
  2. Pusat Penelitian (Tanah dan Agro-Ekonomi), serta 5 Pusat Penelitian Pengembangan (Puslitbang Tanaman Industri, Puslitbang Tanaman Pangan, Puslitbang Kehutanan, Puslitbang Perikanan, dan Puslitbang Peternakan).

Sejarah perkembangan pertanian pada tahun 1980 ditandai dengan berdirinya Departemen koperasi secara khusus yang bertujuan membantu golongan petani dengan ekonomi kurang di luar jawa dan bali untuk membangun usaha tani berskala lebih besar.

Setelah koperasi diterima sebagai satuan ekonomi yang mendasar pada msyarakat, koperasi mulai dikembangkan disemua desa sebagai koperasi primer. Namun ada beberapa masalah yang muncul sehingga koperasi dirasakan seperti “paksaan” sehingga namanya mulai tercemar dan dirubah menjadi BUUD.

Pada tahun 1983 terjadi reorganisasi pada Badan Litbang Pertanian sehingga mengalami beberapa nama unit didalamnya kemudian pada tahun 1993 sesuai Keppres No.83 tahun 1993 dibentuk Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) dan Loka Pengkajian Teknologi Pertanian (LPTP) yang tersebar di seluruh propinsi di Indonesia.

Di era reformasi (1998) Departemen Pertanian kehilangan arah. Pada era ini rakyat mengalami krisis kepercayaan terhadap pemerintahan yang sangat mendominasi. Dampak yang ditimbulkannya cukup besar sehingg kegiatan-kegiatan penyuluhan dan intensifikasi pertanian melambat.

Dampak yang ditimbulkannya adalah rendahnya produktivitas pertanian tanaman pangan dan hortikultura. Kemudian pada tahun 2005 muncul rencana Pemerintah dalam melakukan revitalisasi pertanian di Indonesia. Hal ini ditindak lanjuti dengan UU No.16 Tahun 2006 mengenai Sistem Penyuluhan Pertanian, Peternakan dan Kehutanan. Kemudian ditindaklanjuti dengan Peraturan Menteri Pertanian No.273 Tahun 2007 terkait dengan penjabaran Penyuluhan Pertanian. Konsentrasi peningkatan produksi dan produktivitas komoditas pertanian ini mengantarkan Indonesia mencapai swa sembada beras ke 2 pada tahun 2008.

Di tahun 2010 pertanian di Indonesia membaik dengan mengarahnya kepada sistem organik yang efektif mengurangi penggunaan pupuk kimia dan mulai digalakan dibeberapa daerah. Hingga saat ini pertanian terus mengalami perkembangan yang berdampak positif dan ada kalanya harus menghadapi beberapa masalah.

Contoh Petanian di Indonesia

Adapun untuk beragam contoh jenis pertanian yang ada di Indonesia, antara lain;

Sawah

Sawah adalah bentuk pertanian yang banyak dijumpai di Indonesia. Sawah adalah bentuk pertanian yang dilakukan pada lahan basah dan membutuhkan banyak air. Sawah di Indonesia terdiri dari beberapa jenis yaitu sawah irigasi, sawah lebak, sawah pasang surut dan sawah tadah hujan.

Indonesia yang masyarakatnya mempunyai bahan pangan pokok berupa padi menyebabkan jumlah sawah yang ada lebih banyak agar dapat mencukupi kebutuhan. Sawah indentik dengan komoditas khasnya yang dapat hidup pada lahan yang basah.

Komoditas tersebut adalah padi dengan sistem perakaran khusus sehingga tetap dapat melakukan pertumbuhannya pada lahan yang tergenang. Seiring berkembangnya teknologi dan ilmu pengetahuan telah banyak dikembangakan kultivar padi yang tidak hanya dapat ditanam pada lahan basah melainkan dilahan kering juga.

Tegalan

Tegalan adalah salah satu contoh areal pertanian kering yang jumlahnya cukup banyak di Indonesia. Tegalan bergantung pada pengairan air hujan yang biasanya ditanami tanaman musiman dan terpisah dari lingkungan sekitar rumah atau pemukiman.

Tanah pada tegalan sulit dibuat irigasi karena permukaan yang tidak rata. Saat kemarau tiba, tegalan akan sulit untuk ditanami tanaman karena tanahnya kering. Komoditas yang biasanya ditanam pada lahan ini adalah tanaman yang tidak banyak membutuhkan air selama pertumbuhannya dan cukup tahan terhadap kekeringan sehingga tetap dapat memberikan hasil panen yang baik.

Ladang Berpindah

Ladang berpindah adalah kegiatan pertanian yang dilakukan dimana lahannya berpindah-pindah. Jika tanah sudah tidak subur lagi maka akan berpindah ke lahan yang lain dengan kondisi tanah yang subur atau tanah yang sudah lama tidak ditanami tanaman. Sistem ini banyak dilakukan pada zaman mulai dikenalnya pertanian oleh manusia.

Nah, itulah tadi artikel yang dapat dituliskan kepada segenap pembaca terkait dengan pengertian pertanian menurut para ahli, sejarah, dan contohnya di Indonesia. Semoga melalui tulisan ini bisa memberikan kajian yang berarti kepada segenap pembaca sekalian. Trimakasih,

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *