Pengertian Pertanian Tradisional, Jenis, Manfaat, dan Contohnya

Diposting pada

Pertanian Tradisional Adalah

Pertanian tradisional merupakan suatu kegiatan yang sudah lama dikenal oleh sebagian besar masyarakat di Indonesia yang erat kaitannya dengan bercocok tanam. Indonesia yang dikenal sebagai negara agraris memiliki subsektor pertanian yang cukup menjanjikan. Di Indonesia faktor pendukung yang ada sangat penting untuk kemajuan bidang pertanian seperti kondisi Iklim yang teratur, curah hujan, aliran sungai serta kondisi tanah yang subur menjadi kekayaan tersendiri yang dimiliki negara Indonesia.  Keadaan geografis yang baik dan mendukung menjadikan kegiatan bertani sejak zaman dahulu dipilih sebagai mata pencaharian utama bangsa Indonesia.

Pertanian Tradisional

Pertanian tradisional merupakan pertanian yang masih bersifat ekstensif dan belum memaksimalkan input yang ada. Pertanian tradisional mempunyai sifat tak menentu karena tempat untuk melakukan cocok tanam yang masih berpindah-pindah. Pertanian tradisional merupakan pertanian yang akrab dengan lingkungan karena tidak ada penggunaan pestisida selama proses produksi.

Namun produksi dari pertanian tradisional tidak mampu mengimbangi kebutuhan pangan penduduk yang jumlahnya terus bertambah. Pada pertanian tradisional pada umumnya lebih ditujukan untuk memenuhi kebutuhan hidup petani namun tidak dilakukan untuk memenuhi kebutuhan ekonomi petani sehingga hasilnya tidak dapat mengimbangi kebutuhan penduduk yang terus meningkat.

Pertanian tradisional juga masih banyak mengandalkan alam dan sangat tergantung dengan iklim. Pada pertanian ini juga belum digunakan teknologi untuk membantu kelancaran proses produksi dan masih banyak mengandalkan tenaga manusia selama mengerjakan kegiatan pertaniannya. Karena sistemnya yang masih sederhana menyebabkan biaya atau modal yang diperlukan dalam produksi pertanian masih tergolong rendah atau tidak butuh banyak modal.

Tujuan Pertanian Tradisional

Pertanian tradisional ditujukan hanya untuk memenuhi kebutuhan hidup petani pada zaman dahulu sehingga tidak dapat diandalkan untuk memenuhi kebutuhan pangan masyarakat. Kebutuhan manusia pada pangan telah membawa manusia mulai belajar tentang bertanam meskupun dengan alat yang sederhana. Hal tersebut yang menjadi ciri dari pertanian tradisional.

Dari alur pemikiran yang sangat sederhana sebenarnya telah membuktikan naluri manusia untuk bertahan hidup. Namun seiring bertambahanya jumlah penduduk dibutuhkan sistem pertanian yang dapat memenuhi kebutuhan pangan sehingga sistem yang ada mulai berkembang menjadi pertanian konvensional.

Manfaat Pertanian Tradisional

Adapun manfaat yang dapat diperoleh dengan metode pertanian tradisional ini, antara lain sebagai berikut;

Kelestarian Lingkungan Terjaga

Sumber daya lahan pertanian merupakan komponen utama dalam industri bahan pangan yang tidak dapat digantikan oleh peralatan atau mesin modern. Lahan pertanian tetap diperlukan sepanjang masa, karena lahan bersama-sama dengan air, sinar matahari, gas karbon, dan tanaman adalah merupakan komplek mesin industri pangan yang diciptakan oleh Tuhan Yang Maha Pemurah.

Namun keberadaan dan mutu lahan atau tanah pertanian dapat menjadi rusak oleh keteledoran manusia, karena sifat tidak acuh atau kurang memahami. Tugas para ilmuwan dalam bidang pertanian adalah untuk memandu dan membimbing masyarakat guna melestarikan mutu sumber daya lahan pertanian yang luasnya terbatas dan sangat riskan terhadap kerusakan oleh pengaruh iklim tropis.

Melestarikan Budaya dalam Sistem Bertani

Budaya agraris sangat kental di Indonesia beberapa daerah di Indonesia dikenal karena budaya pertaniaannya yang kental seperti di daerah Bali yang sebagian besar mayoritas jenis mata pen!aharian masyarakatnya adalah bertani disawah.

Namun mata pencaharian pokok tersebut kini mulai bergeser pada jenis mata pencaharian lainnya yang tidak berkaitan dengan bidang pertanian. Terjadinya pergeseran ini karena semakin berkembangnya industri khususnya pariwisata di daerah tersebut yang menyebabkan sebagian masyarakat menganggap bertani bukan lagi sebagai sektor utama dalam mata pencahariannya.

Kondisi tersebut semakin diperparah dengan mulai dijualnya lahan pertanian untuk dialih fungsikan sebagai indutri pariwisata yang dinilai lebih menguntungkan.Seni bertani secara tradisional sudah mulai ditinggalkan sehingga perlu adanya dobrakan pada pertanian tradisional yang dapat memberikan kesejahteraan nyata bagi petani. Berdasarkan contoh kasus tersebut, pertanian tradisional memegang peranan penting untuk dapat mempertahankan budaya bertani pada masyarakat.

Contoh Pertanian Tradisional

Pertanian tradisonal dapat dicirikan dengan masih digunakannya alat tradisional yang digunakan untuk memudahkan proses produksi. Beberapa contoh pertanian tradisional berkaitan erat dengan penggunaan alatnya. Alat tradisional umumnya hanya digunakan pada sistem pertanian tradisional. Berikut merupakan contoh pertanian tradiisionl yang dapat diketahui:

Pemanenan Padi Menggunakan Ani-Ani

Ani-ani yang memiliki nama lain ketam adalah sebuah pisau kecil yang dipakai untuk memanen padi. Alat ani-ani digunakan untuk memotong tangkai bulir padi satu persatu sehingga proses ini memakan banyak pekerjaan dan waktu. Meskipun demikian penggunaan alat ini sebagai ciri pertanian tradisional memberikan keuntungan yaitu tidak semua batang padi ikut terpotong sehingga jika terdapat bulir padi yang belum masak tidak ikut terpotong.

Ani-ani terbuat dari bambu yang digunakan sebagaialat panen padi yang memiliki diameter 10 – 20 mm dengan panjang ± 10 cm dan pisau baja tebal 1,5 – 3 mm. Berikut merupakan langkah dalam memanen padi dengan menggunakan ani-ani yang pertama adalah menekan mata pisau pada malai padi yang akan dipotong kemudian menempatkan malai diantara jari telunjuk dan jari manis tangan kanan dan dengan kedua jari tersebut tarik malai padi ke arah pisau, sehingga malai terpotong setelah itu tangkai bulir terpotong dikumpulkan di tangan kiri atau masukkan kedalam keranjang.

Pemanenan dengan menggunakan alat ani-ani sudah mulai ditinggalkan, akan tetapi tidak semua petani meninggalkan cara pemanenan tradisional ini. Salah satu lokasi yang masih menggunakan cara tersebut adalah subak Juwuk desa Sudaji di Kecamatan Sawan.

Proses pemanenan tersebut dilakukan pada padi lokal dan juga untuk melestarikan tradisi proses pemanenan secara tradisional.

Alu dan Lesung Sebagai Penumbuk Padi Tradisional

Lesung merupakan salah satu alat tradisional sebagai ciri pertanian tradisional dalam pengolahan padi atau gabah menjadi beras. Fungsi dari lesung adalah untuk memisahkan kulit gabah atau biasa disebut sekam dari beras secara mekanik. Lesung terbuat dari kayu yang memiliki bentuk seperti perahu berukuran kecil dengan panjang sekitar 2 meter dan lebar 0,5 meter serta kedalaman sekitar 40 cm.

Lesung merupakan hanya wadah cekung yang biasanya dari kayu besar dan dibuang bagian dalamnya. Gabah yang akan diolah sebelumnya ditaruh dalam lubang tersebut kemudian gabah ditumbuk dengan alu yang berupa tongkat tebal dari kayu secara berulang-ulang sampai beras terpisah dari sekamnya.

Alu atau biasanya disebut antan merupakan alat pendamping lesung atau lumpang dalam proses pemisahan sekam dari beras. Alu pada umumnya terbuat dari kayu dengan bentuk memanjang seperti tabung dengan diameter sekitar 7 cm atau tergantung besarnya lesung. Alu digunakan sebagai penumbuk gabah sehingga beras dapat  terpisah dari sekam secara mekanik.

Menumbuk padi dilakukan untuk memisahkan kulit padi sehingga menjadi beras dengan menggunakan tangan manusia. Tanaman padi yang akan ditumbuk sebelumnya harus dijemur terlebih dahulu sampai kering dibawah cahaya matahari dengan tujuan agar kulit padi mudah dipisahkan dan beras yang dihasilkan tidak patah.

Demikianlah artikel yang memberikan penjelasan terkait dengan pengertian pertanian tradisional, jenis, tujuan, manfaat, dan contohnya. Semoga melalui tulisan ini bisa menjadi referensi serta menambah pengetahuan bagi segenap pembaca sekalian. Trimakasih,

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *