Pengertian Sawah Bencah, Ciri, dan Contohnya

Diposting pada

Sawah Bencah Adalah

Sawah merupakan usaha pertanian yang dilaksanakan pada lahan basah dan membutuhkan air untuk irigasi. Jenis tanaman pangan yang utama untuk pertanian sawah adalah padi. Salah satu jenis sawah yang dikembangkan di negara kita yaitu yaitu sawah bencah. Kata bencah itu sendiri mengacu pada tanah yang berair dan berlumpur; paya.

Sawah bencah disebut juga sawah pasang surut. Salah satu karakteristik sawah pasang surut yaitu sumber airnya tergantung pada keadaan air permukaan yang dipengaruhi oleh kondisi pasang surutnya air sungai. Ketika pasang, sawah tergenang air, sedangkan pada saat surut sawah kering dan ditanami dengan padi. Contoh sawah bencah di Indonesia misalnya terdapat di Sumatera, Kalimantan, dan Papua.

Sawah Bencah

Sawah bencah (sawah pasang surut) merupakan sawah yang letaknya berdekatan dengan rawa atau muara sungai di daerah pantai landai.

Lahan sawah pasang surut sangat tergantung pada air sungai yang dipengaruhi oleh pasang surutnya air laut sebagai sumber pengairannya, sehingga lahan jenis pasang surut ini akan mengatur jumlah air masuk saat air laut mulai pasang biasanya pada malam hari.

Lahan sawah pasang surut biasanya mulai ditanami ketika musim kemarau, yaitu saat keaadaan air menyusut sekitar bulan Juli-Sepetember, sedangkan pada bulan Desember-Mei lahan tidak bisa ditanamai dikarenakan debit air mulai meninggi dan sulit untuk surut sebab bertepatan dengan musim hujan.

Berdasarkan kondisi tipologinya, lahan pasang surut bisa dibedakan menjadi 4, dengan karakteristik masing-masing, antara lain:

  1. Lahan potensial

Lahan potensial yaitu lahan yang memiliki kendala paling kecil dengan ciri lapisan pirit (2%) berada pada kedalaman lebih dari 30 cm. Tekstur tanahnya liat. Kandungan Nitrogen dan Fosfor tersedia dalam jumlah yang rendah. Kandungan pasir kurang dari 5%. Kandungan debu 20%. Derajat kemasaman 3,5-5,5.

  1. Lahan sulfat masam

Lahan sulfaat masam yaitu lahan yang lapisan piritnya berada pada kedalaman kurang dari 30 cm. Berdasarkan tingkat oksidadinya lahan sulfat masam bisa dibagi menjadi dua yaitu lahan sulfat masam potensial, yaitu lahan sulfat masam yang belum mengalami oksidasi dan lahan sulfat masam actual, yaitu lahan sulfat masam yang telah mengalami oksidasi.

  1. Lahan gambut/bergambut

Lahan gambut/bergambut yaitu lahan yang mempunyai lapisan gambut. Berdasarkan ketebalan gambutnya lahan jenis ini bisa dibagi ke dalam empat sub tipologi yaitu lahan bergambut, gambut dangkal, gambut dalam dan gambut sangat dalam. Pada umumnya lahan gambut kekurangan beberapa unsur hara mikro yang ketersediaannya sangat penting untuk pertumbuban dan perkembangan tanaman.

  1. Lahan salin

Lahan salin yaitu lahan pasang surut yang mendapatkan intrusi air laut dengan kandungan Na dalam larutan tanah sebesar > 8% selama lebih dari 3 bulan dalam setahun, sehingga memiliki daya hantar listrik 4 MS/cm. Kandungan Natrium dalam larutan tanah  8-15%. Lahannya dapat berupa lahan potensial, sulfat masam dan gambut.

Pengertian Sawah Bencah

Sawah bencah dapat didefinisikan sebagai sistem pertanian lahan basah yang dilakukan di daerah-daerah yang mempunyai rawa-rawa yang telah dikeringkan atau di muara sungai besar.

Daerah persebaran sistem pertanian sawah pasang surut diantaranya yaitu Kepulauan Riau, Jambi, Sumatera Selatan, dan beberapa wilayah Pulau Jawa, serta Kalimantan. Di wilayah Kalimantan Selatan, sawah pasang suerut dikenal juga dengan istilah sistem pertanian sawah banjar.

Dalam memanfaatkan lahan rawa pasang surut untuk kegiatan pertanian, terdapat beberapa faktor yang perlu dipertimbangkan, antara lain:

  1. Kedalaman lapisan mengandung pirit/bahan sulfidik, dan kondisinya masih tereduksi atau sudah mengalami proses oksidasi
  2. Ketebalan dan tingkat dekomposisi gambut serta kandungan hara gambut
  3. Pengaruh luapan pasang dari air salin/payau
  4. Lama dan kedalaman genangan air banjir
  5. Keadaan lapisan tanah bawah, atau substratum

Terdapat beberapa tipe luapan air pasang surut, antara lain:

  1. Tipe luapan A, yaitu jika lahan selalu terluapi air baik pada waktu pasang besar maupun pasang kecil. Lahan tipe ini selalu terluapi air pasang, baik pada musim hujan maupun musim kemarau.
  2. Tipe luapan B, yaitu jika lahannya hanya terluapi oleh air pasang besar. Lahan tipe ini hanya terluapi air pasang pada musim hujan saja.
  3. Tipe luapan C, yaitu tidak terluapi air pasang tetapi kedalaman muka air tanahnya kurang dari 50 cm.
  4. Tipe luapan D, yaitu jika lahannya tidak terluapi oleh air pasang baik pasang besar maupun pasang kecil, tapi permukaan air tanahnya berada pada kedalaman lebih dari 30 cm dari permukaan tanah.

Pengertian Sawah Bencah Menurut Para Ahli

Adapun definisi sawah bencah menurut para ahli, antara lain:

  1. Kamus Besar Bahasa Indonesia, Sawah bencah ialah sawah yang mendapatkan air dari selokan.
  2. Wikipedia,Sawah pasang surut ialah suatu jenis sawah yang lokasinya berada di sekitar muara-muara sungai dan rawa-rawa yang dekat dengan pantai.

Ciri Sawah Bencah

Berikut ini ciri-ciri sawah bencah atau sawah pasang surut, antara lain:

  1. Sawah pasang surut biasanya yang diupayakan oleh penduduk sekitar kawasan alluvial di muara sungai, sebagai hasil sedimentasi lumpur karena luapan air sungai saat air laut pasang
  2. Sawah pasang surut hanya diolah satu kali dalam satu tahun
  3. Kebutuhan air untuk tanaman padi dipegaruhi oleh pasang surut air laut
  4. Tanaman yang ditanam pada sawah jenis ini haruslah tanaman yang tahan dengan air payau atau asin dan memiliki batang yang tinggi, yaitu bisa menggunakan padi gogo, gogo rancah atau secara konvensional tergantung pada ketersediaan air saat pasang.

Padi gogo rancah merupakan salah satu jenis padi yang ditanam dengan cara ditugal seperti halnya padi ladang, tapi kemudian diairi seperti halnya padi sawah pada umur-umur sekitar 1 bulan sampai saat menjelang panen (Pary, 2010).

Contoh Sawah Bencah

Indonesia termasuk negara yang juga memiliki potensi untuk pengembangan lahan pertanian di wilayah rawa pasang surut. Pengembangan dan penggunaan lahan rawa untuk sumber lahan produksi pertanian atau pangan tentunya dengan mempertimbangkan kondisi agrofisik dari lahan rawa yang memiliki berbagai keunggulan komperatif sebagai wilayah pengembangan padi.

Keunggulan komperatif tersebut diantaranya yaitu ketersediaan air yang cukup berlimpah, topografi rawa relatif yang datar, sehingga mudah dalam hal penggarapan lahan. Selain itu, akses ke lokasi rawa cenderung menggunakan transportasi air/sungai sehingga diperkirakan lahan pangan rawa tidak mungkin beralih fungsi untuk nonpangan.

Kementerian Pertanian telah merencanakan untuk membangun sawah baru dengan memanfaatkan lahan pasang surut seluas 1 juta hektar di sejumlah wilayah di Indonesia pada tahun 2018-2019.

Menteri Pertanian Amran Sulaiman mengemukakan bahwa pada tahun 2017, sudah ada sawah lahan pasang surut di Musi Banyuasin Sumatera Selatan seluas 1.000 ha yang ditanami padi bahkan telah dipanen, sedangkan di Kalimantan selatan seluas 100 ribu ha dan 483 ribu ha di wilayah lain.

Beliau menuturkan bahwa terdapat sekitar 10 juta hektare lahan pasang surut di Indonesia yang potensial dimanfaatkan untuk pembukaan sawah baru guna pengembangan tanaman pangan seperti padi dan jagung. (Sumber: Republika.co.id, 24Novemver 2017).

Kekurangan tanah pasang surut:

Meskipun memiliki potensi yang cukup besaruntuk dikembangkan sebagai lahan pertanian, tanah pasang surut juga memiliki beberapa kekurangan, diantaranya yaitu:

  1. Perluasan wilayah pasang surut yang disebabkan oleh pendangkalan di tepian rawa, mengakibatkan wilayah rawa menyempit. Hal ini bisa dipercepat dengan kebiasaan membuang limbah sisa panen (jerami) ke dalam rawa.
  2. Terjadi peningkatan kadar keasaman lahan yang disebabkan pelapukan bahan organik dan kelarutan zat tertentu serta pencucian zat kimia dan penyemprotan pestisida, herbisida, zat pengatur tumbuh yang dipergunakan oleh petani.

Apabila residu atau senyawa yang ikut terlarut air dalam arti irigasi dan masuk dalam lingkungan perairan rawa, maka akan berpengaruh terhadap kualitas air rawa dan kehidupan di dalamnya termasuk populasi ikan.

  1. Penggarapan lahan pasang surut menjadikan lahan subur bukan hanya untuk tanaman budidaya, tapi juga untuk berbagai jenis tumbuhan liar.

Apabila kemudian lahan tersebut dibiarkan menjadi bero, dengan cepat akan tumbuh berbagai jenis tumbuhan liar. Spesies tumbuhan tersebut hadir secara bergantian melalui proses adaptasi dan suksesi, dan pada akahirnya bisa merubah lahan secara perlahan.

  1. Pengolahan lahan, pada dasarnya mengakibatkan partikel tanah lepas sehingga rawan terhadap erosi. Jika hal ini terjadi, erosi tersebut akan mempercepat proses penambahan sedimen ke dasar perairan rawa.

Nah, itulah tadi penjelasan secara lengkap kepada segenap pembaca terkait dengan pengertian sawah bencah menurut para ahli, ciri, kelebihan, kekuarangan, dan contohnya. Semoga melalui artikel ini bisa memberikan wawasan serta menambah pengetahuan bagi segenap pembaca sekalian. Trimakasih.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *