Pengertian Sawah Irigasi, Ciri, dan Contohnya

Diposting pada

Sawah Irigasi Adalah

Sawah merupakan salah satu bentang lahan pertanian buatan yang sangat bermanfaat dalam menunjang kehidupan kita, karena di tempat inilah makanan pokok yang menjadi kebutuhan primer bagi diri kita ditanam, padi. Meskipun padi juga bisa ditanam di tegalan, yang biasanya dikenal dengan padi gogo, tapi kebanyakan ditanam di swah. Sawah yang ditanami padi harus mampu menyangga genangan air sebab padi membutuhkan penggenangan pada periode tertentu dalam pertumbuhannya.

Ada sawah yang sumber pengairannya dari sungai atau waduk melalui sistem irigasi, yang diksebut dengan sawah irigasi. Ada pula sawah yang pengairannya bersumber dari hujan, yang kita kenal dengan nama sawah tadah hujan. Salah satu ciri sawah irigasi yaitu cocok dari segi musim sebab untuk menanam padi tidak harus bergantung pada hujan saja. Contoh pertanian sawah irigasi terdapat di Bali, Jawa, Sumatra, Kalimantan, dan Papua.

Sawah Irigasi

Sawah irigasi dapa didefinisikan sebagai sistem pertanian dengan pengairan teratur, tidak bergantung pada curah hujan, sebab pengairan tersebut bisa diperoleh dari sungai, waduk atau bendungan.

Di Indonesia terdapat kurang lebih 5 juta hektar sawah beirigasi. Sebagai pengguna air terbesar, diperkirakan sebanyak 85%, sawah beririgasi masih dihadapkan kepada masalah efisiensi,  yang  disebabkan  oleh  kehilangan air selama proses penyaluran  air irigasi  (distribution  lossses)  dan  selama  proses  pemakaian  (field  applicationlosses).

Diperkirakan bahwa tingkat efisiensi di saluran primer dan sekunder sebesar 70-87%, saluran tersier antara 77-81% dan apabila digabungkan dengan kehilangan ditingkat petakan, maka efisiensi penggunaan air secara keseluruhan baru berkisar antara 40-60% (Kurnia, 1977dalam Kurnia,   2001).

Angka-angka tersebut, dewasa ini diperkirakan akan lebih rendah lagi. Hal tersebut dikarebakan biaya operasi dan pemeliharaan (OP) dari pemerintah  dikurangi, belum stabilnya penyerahan wewenang dari pemerintah pusat ke kabupaten/kota dan karena belum siapnyapetani di dalam menerima program penyerahan irigasi (Kurnia, 2001).

Pengertian Sawah Irigasi

Definisi sawah irigasi merupakan lahan sawah yang mendaptkan pengairan dari sistem irigasi, baik yang bangunan penyadap dan jaringan-jaringannya diatur dan dikuasai dinas pengairan PU (Pekerjaan Umum) maupun dikelola sendiri oleh masyarakat.

Sawah yang menggunakan sistem irigasi sebagai sumber pengairannya bisa memperoleh beberapa manfaat, diantaranya yaitu:

  1. Mempermudah pengelolaan media tanah sebelum melakukan penanam sebuah tanaman.
  2. Tanaman penangguh lebih mudah diatasi dan dicegah.
  3. Pengaturan temperatur tanah dapat berlangsung sesuai dengan keinginan.
  4. Peningkatan kesuburan media tanah lebih cepat
  5. Memperlancar proses pencucian tanah (leaching)

Pengertian Irigasi Menurut Para Ahli

Adapun definisi irigasi menurut para ahli, antara lain:

Peraturan Pemerintahan No. 22 tahun 1998

Irigasi termasuk kedalam pengertian drainase yaitu pengaturan air dari media tumbuh tanaman agar tidak menganggu pertumbuhan atau produksi tanaman. 

Peraturan Pemerintah No. 23 Tahun 1998

Irigasi  adalah usaha dalam penyediaan dan melakukan pengeturan air nan bertujuan tuk menunjang pertanian.

Hansen et al., (1992)

Irigasi secara umum dapat didefenisikan sebagai penggunaan air pada tanah untuk keperluan penyediaan lengas tanah yang dibutuhkan untuk pertumbuhan tanaman. Pemberian air irigasi bisa dilakukan dalam 5 cara:

  1. Dengan penggenangan (flooding);
  2. Dengan menggunakan alur, besar atau kecil;
  3. Dengan menggunakan air yang terdapat di bawah permukaan tanah melalui sub-irigasi, sehingga akan mengakibatkan permukaan air tanah naik;
  4. Dengan penyiraman (sprinkling).
  5. Dengan sistem curahan (trickle),

Selain itu Hansen et al., (1992) juga menyatakan bahwa ada 8 kegunaan sistem irigasi yaitu:

  1. Menambah air ke dalam tanah untuk menyediakan lengas tanah yang diperlukan untuk pertumbuhan tanaman.
  2. Untuk menyediakan jaminan panen pada saat musim kemarau yang pendek.
  3. Untuk mendinginkan tanah dan atmosfir, sehingga menimbulkan lingkungan yang baik untuk pertumbuhan tanaman.
  4. Untuk mengurangi bahaya pembekuan.
  5. Untuk mencuci atau mengurangi garam dalam tanah.
  6. Untuk mengurangi bahaya erosi tanah.
  7. Untuk melunakkan pembajakan dan gumpalan tanah.
  8. Untuk memperlambat pembekuan tunas dengan pendinginan karena penguapan

Small dan Svenden  

Irigasi adalah sebuah tindakan intervasi manusia tuk mengubah aliran air dari sumbernya dan tak mengganggu produksi pertanian.

Ciri Sawah Irigasi

Karakteristik sawah irigasi diantaranya yaitu:

  1. Sistem pertanian irigasi cocok dari segi musim, dikarenakan waktu penanaman padi tidak bergantung pada air hujan, selam air di waduk atau bendungan masih ada, maka budidaya beragam jenis padi bisa dilakukan kapan saja tanpa harus menunggu musim hujan.
  2. Pada sawah irigasi petani bisa panen 2-3 kali tanaman padi. Pada saat-saat tertentu sawah tersebut ditanami dengan tanaman palawija, seperti jagung, kacang hijau, kacang tanah, dan lain-lain.

Dalam memilih dan merencanakan sistem irigasi untuk areal persawahan, terdapat beberapa faktor yang perlu dipertimbangkan, antara lain:

  1. Kemiringan dan topografi lapangan;
  2. Tanaman yang akan ditanam – persyaratan air, toleransi terhadap garam, tekanan kelembaban, permukaan basah, genangan air, nilai tanaman, tinggi tanaman, dan penanaman yang dibutuhkan;
  3. Ukuran dan bentuk bidang;
  4. Tekstur tanah, struktur, kedalaman, karakteristik infiltrasi, kapasitas penahanan air, erosivitas, dan variabilitas dalam suatu bidang;
  5. Salinitas tanah dan air;
  6. Ketersediaan dan kuantitas air, dan ketersediaan waktu;
  7. Jumlah dan intensitas curah hujan;
  8. Ekonomi – biaya awal, biaya diamortisasi, biaya operasi (bahan bakar, tenaga kerja, pemeliharaan air), ketersediaan modal, pemasaran tanaman, dan profitabilitas bersih; dan
  9. Kendala petani, sosial, dan kelembagaan.

Contoh Sawah Irigasi

Salah satu contoh sawah yang menerapkan sistem irigasi di Indonesia yaitu terdapat di Bali. Di Bali terdapat sebuah organisasi yang dimiliki oleh masyarakat petani di Bali yang khusus mengatur tentang manajemen atau sistem pengairan/irigasi sawah secara tradisional.

Kata “Subak” ialah sebuah kata yang berasal dari bahasa Bali, yang pertama kali dilihat di dalam prasasti Pandak Bandung yang berangka tahun 1072 M. Kata subak mengacu pada sebuah lembaga sosial dan keagamaan yang unik, mempunyai pengaturan tersendiri, asosiasi-asosiasi yang demokratis dari petani dalam menetapkan penggunaan air irigasi untuk pertumbuhan padi.

Bagi masyarakat Bali, subak bukan hanya sekedar sistem irigasi, tapi juga sebagai konsep kehidupan bagi masyarakat Bali itu sendiri. Dalam pandangan masyarakat Bali, Subak merupakan gambaran langsung dari filosofi Tri Hita Karana tersebut.

Atau dapat dikatakan bahwa keberadaan subak adalah manifestasi atau perwujudan dari filosofi/konsep Tri Hita Karana “Tiga penyebab terciptanya kebahagiaan dan kesejahteraan”).

Jaringan Irigasi Subak

Para ahli menyebutkan pula bahwa Subak sebagai sistem teknologi yang telah menjadi budaya di Bali. Subak menjadi metode teknologi dari budaya asli petani Bali.

Fasilitas yang utama dari irigasi subak (palemahan) untuk setiap petani anggota subak yaitu berupa pengalapan (bendungan air), jelinjing (parit), dan sebuah cakangan (satu tempat/alat untuk memasukkan air ke bidang sawah garapan).

Apabila di suatu lokasi bidang sawah ada dua atau lebih cakangan yang saling berdekatan maka ketinggian cakangan-cakangan tersebut adalah sama (kemudahan dan kelancaran air mengalir masuk ke sawah masing-masing petani sama),

Akan tetapi, perbedaan lebar lubang cakangan masih bisa ditoleransi yang disesuaikan dengan perbedaan luas bidang sawah garapan petani. Pembuatan, pemeliharaan, dan pengelolaan dalam penggunaan fasilitas irigasi subak dilakukan secara bersama-sama oleh anggota (krama) subak. Jaringan sistem pengairan dalam subak apabila diurutkan berdasarkan sumber air terdiri dari:

  • Empelan/empangan sebagai sumber aliran air/bendungan
  • Bungas/Buka adalah sebagai pemasukan (in take)
  • Aungan adalah saluran air yang tertutup atau terowongan
  • Telabah aya (gede), adalah saluran utama
  • Tembuku aya (gede), adalah bangunan untuk pembagian air utama
  • Telabah tempek (munduk/dahanan/kanca), adalah sebagai saluran air cabang
  • Telabah cerik, sebagai saluran air ranting
  • Telabah panyacah (tali kunda), dibeberapa tempat dikenal dengan istilah Penasan (untuk 10 bagian), Panca (untuk 5 orang), dan Pamijian (untuk sendiri/1 orang).

Melalui sistem subak inilah, masing-masing petani memperoleh bagian air sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan dalam musyawarah dari warga/krama subak dan tetap dilandasi oleh filosofi Tri Hita Karana. Oleh sebab itu, kegiatan dalam organisasi/perkumpulan Subak bukan hanya mencakup masalah pertanian atau bercocok tanam saja, meliankan juga mencakup masalah ritual dan peribadatan untuk memohon rejeki dan kesuburan.

Sawah, tanaman padi, dan air memiliki peranan penting dalam sistem irigasi Subak bahkan hal tersebut dikaitkan dengan segi religius. Ketiganya berhubungan dengan kekuasaan Dewi Sri (Dewi kesuburan dan kemakmuran). Oleh karenanya, subak bukan hanya semata-mata mengatur masalah teknis pengaturan dan pembagian air semata, tapi juga aspek sosial dan religius (agama).

Setiap Subak biasanya mempunyai pura yang disebut Pura Ulun Carik atau Pura Bedugul, yang secara khusus dibangun oleh para petani untuk memuja Dewi Sri. Sistem pengairan ini diatur oleh seorang tokoh adat dan juga merupakan petani yang dinamakan Kelian (Klian) yang memiliki tugas untuk mengawasi dan mengelola subak.

Nah, itulah tadi serangkain artikel yang sudah kami tuliskan secara lengkap kepada segenap pembaca terkait dengan pengertian sawah irigasi menurut para ahli, ciri, dan contohnya. Semoga melalui materi ini bisa memberikan wawasan serta menambah pengetahuan. Trimakasih,

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *