Pengertian Sawah Lebak, Ciri, dan Contohnya

Diposting pada

Sawah Lebak Adalah

Lebak atau disebut juga rawa lebak merupakan suatu areal yang umumnya terletak di dataran rendah sekitar sungai yang terjadi karena adanya luapan air sungai dan air hujan. Areal ini terjadi secara periodik yakni selama musim penghujan. Lahan pertanian lebak ada yang berpotensi untuk ditanami padi yang biasanya kita kenal dengan istilah sawah lebak.

Salah satu ciri khas dari pertanian sawah lebak ialah hanya panen sekali dalam setahun dan proses penanaman dimulai ketika air mulai surut. Di Indonesia sendiri, contoh lahan lebak yang berpotensi menjadi sawah lebak banyak dijumpai di seluruh nusantara, yang tersebar di Pulau Sumatera dan Kalimantan, karena kedua wilayah tersebut memiliki banyak sungai dan berpeluang baik untuk dikembangkan.

Sawah Lebak

Lahan rawa lebak yaitu lahan rawa pedalaman yang kondisi topografinya relatif cekung dan air tidak dapat mengalir ke luar. Pada lahan ini setiap tahun mengalami genangan minimal selama tiga bulan dengan tinggi genangan minimal 50 cm. Ketika musim hujan lahan ini tergenang, sedangkan pada musim kemarau surut. Oleh sebab itu, bisa dikatakan bahwa rawa lebak merupakan wilayah depresi (cekungan).

Sumber air utama pengairan pada lahan ini berasal dari curah hujan, dan surutnya air mengandalkan perkolasi serta penguapan pada musim kemarau. Berdasarkan pada PP Rawa No.73 Tahun 2013 pasal 5 ayat 2, rawa lebak  adalah rawa yang terletak jauh dari pantai dan tergenangi air akibat luapan air sungai atau air hujan yang menggenang seeara periodik atau terus menerus.

Secara umum tingkat kesuburan lahan rawa Iebak lebih baik jika dibandingkan lahan rawa pasang surut. Hal tersebut disebabkan karena tanah di lahan rawa lebak tersusun dari endapan sungai (fluviatil) yang tidak mengandung bahan sulfidik/pirit.

Kecuali pada zona peralihan antara lahan rawa lebak dan lahan rawa pasang surut di Iapisan bawah pada kedalaman lebih dari 1 meter ditemukan Iapisan bahan sulfidik yang merupakan endapan marin.

Lahan rawa lebak mempunyai peluang yang besar untuk dikembangkan sebagai lahan-pertanian melalui pengelolaan yang tepat. Pengelolaan lahan rawa merupakan upaya merencanakan, melaksanakan, memantau, dan mengevaluasi kegiatan pengembangannya.

Sedangkan pengembangan lahan rawa merupakan upaya untuk meningkatkan manfaat sumberdaya lahan dan air yang terdapat di daerah rawa. Oleh karena itu, lahan rawa harus dikelola dan dimanfaatkan secara berkelanjutan untuk kesejahteraan masyarakat.

Lahan rawa lebak memiliki keunggulan spesifik diantaranya yaitu bisa diusahakan sebagai lahan pertanian saat El-Nino, sedangkan agroekosistem lain (sawah irigasi dan sawah tadah hujan) pada kondisi kekeringan (bera). Karena hal itu, rawa lebak disebut juga sebagai tongga prodi (kantong penyangga produksi tanaman padi).

Tanaman sayuran yang ditanam di lahan rawa lebak seperti tomat, cabai, terung, mentimun dan sayuran lainnya dapat ditanam pada off season atau diluar musim, sehingga mempunyai harga jual lebih tinggi karena ditempat lain sedang kekeringan atau puso (Noorginayuwati at ai., 2010).

Rawa lebak juga memiliki potensi untuk budidaya ikan, ternak (itik dan kerbau rawa), dan tanaman perkebunan (kelapa sawit). Pemanfaatan lahan rawa lebak menjadi strategis, mengingat lahan pertanian semakin menyempitnya karena adanya konversi lahan dari pertanian (sawah) menjadi non pertanian.

Selain itu, berkurangnya lahan pertanian juga disebabkan oleh meningkatnya permintaan pangan dan hasil pertanian lainnya akibat jumlah penduduk yang terus bertambah (Noorginayuwati dan Rina, 2006).

Pengertian Sawah Lebak

Sawah lebak adalah sawah yang berada di kiri dan kanan sungai yang biasanya ditanami berbagai macam tanaman padi. Sawah jenis ini jarang dikembangkan karena mengingat resiko yang sangat rentan terhadap banjir.

Para petani pun sudah jarang yang memanfaatkan sistem sawah lebak ini sebagai lahan pertanian padi, tapi mereka kebanyakan mengalihfungsikan sawah lebak menjadi lahan perkebunan seperti sawit.

Pengertian sawah Lebak  Menurut Para Ahli

Adapun definisi sawah lebak menurut para ahli, antara lain:

  1. Badan Pusat Statistik, Lahan sawah lebak ialah lahan sawah yang pengairannya berasal dari reklamasi rawa lebak (bukan pasang surut).

Ciri Sawah Lebak

Salah satu karakteristik yang menonjol dari sawah di lahan rawa lebak yaitu pada periode tertentu (minimal satu bulan) tergenang air dan rezim airnya dipengaruhi oleh hujan, baik yang turun setempat maupun di daerah sekitarnya.

Ditinjau dari tinggi dan lama genangan airnya, lahan rawa lebak bisa dikelompokkan menjadi 3, yaitu :

  1. Lahan lebak dangkal, yaitu lahan lebak yang tinggi genangan airnya kurang dari 50 cm selama kurang dari 3 bulan. Lahan lebak dangkal pada umumnya memiliki kesuburan tanah yang lebih baik, dikarenakan adanya pengkayaan dari endapan lumpur yang terbawa luapan air sungai.
  2. Lahan lebak tengahan, yaitu lahan lebak yang tinggi genangan airnya 50-100 cm selama 3-6 bulan. Lahan lebak tengahan neniliki genangan air yang lebih dalam dan lebih lama daripada lebak dangkal, sehingga waktu surutnya air pun lebih lama. Oleh sebab itu, masa pertanaman padi pada wilayah ini lebih belakang daripada lebak dangkal.
  3. Lahan lebak dalam, yaitu lahan lebak yang tinggi genangan airnya lebih dari 100 cm selama lebih dari 6 bulan. Letak lahan lebak dalam tentunya lebih dalam dibandingkan dua jenis yang telah disebutkan sebelumnya.

Ketika musim kemarau dengan iklim normal, lahan lebak dalam umumnya masih tergenang air dan ditumbuhi oleh beragam gulma terutama jenis Paspalidium. Sehingga wilayah lahan lebak dalam merupakan reservoir air dan sumber bibit ikan perairan bebas.

Akan tetapi, lahan ini umumnya jarang digunakan untuk usaha tanaman, kecuali pada areal yang periode tidak tergenang airnya lebih dari 2 bulan atau bila terjadi kemarau panjang.

Jenis Tanah dan Karakteristik Lahan Lebak

Jenis tanah yang umum dijumpai di lahan lebak yaitu tanah mineral dan gambut. Tanah mineral tersebut dapat berasal dari endapan sungai atau dari endapan marin, sedangkan tanah gambut di dapat berupa lapisan gambut utuh atau lapisan gambut berselang seling dengan lapisan tanah mineral.

Tanah mineral bertekstur liat dengan tingkat kesuburan alami sedang-tinggi dan pH 4 sampai dengan 5 serta drainase terhambat-sedang. Setiap tahun, pada umumnya lahan lebak memperoleh endapan lumpur dari daerah di atasnya, sehingga meskipun kesuburan tanahnya tergolong sedang, tapi keragamannya sangat tinggi antar wilayah atau antar lokasi.

Lahan gambut merupakan lahan yang mempunyai lapisan tanah gambut, yaitu tanah yang terbentuk dari bahan organik atau sisa-sisa pepohonan, yang bisa berupa bahan jenuh air dengan kandungan karbon organik sebanyak 12-18% atau bahan tidak jenuh air dengan kandungan karbon organik sebanyak 20%.

Tingkat keasaman atau pH tanah gambut biasanya tinggi karena adanya asam-asam organik, mengandung zat beracun H2S, ketersediaan unsur hara makro dan mikro terutama P, K, Zn, Cu dan Bo yang rendah, serta daya sangga tanah yang rendah.

Lahan gambut dengan karakteristik tanah yang demikian membutuhkan teknologi pengelolaan dan pemilihan jenis tanaman atau varietas tertentu agar tanaman bisa tumbuh dengan baik dan memberikan hasil yang memadai.

Contoh Sawah Lebak

Contoh sawah lebak yang ada di Indonesia misalnya:

  1. Di Sumatera

 Lahan rawa lebak telah diupayakan oleh petani Melayu di Sumatera sejak ratusan tahun yang lalu. Salah satu provinsi di Pulau Suamtera yang telah mengelola lahan rawa lebak menjadi areal persawahan adalah Sumatera Selatan.

Sumatera Selatan merupakan provinsi yang mempunyai lahan rawa lebak cukup besar, yaitu mencapai 2,98 juta ha. Berdasarkan jumlah tersebut, yang telah dimanfaatkan sebanyak 368.690 ha, yang terdiri atas 70.908 ha lebak dangkal, 129.103 ha lebak tengahan, dan 168.67 ha lebak dalam (Noor 2007, Yunita 2011 dalam Yunindyawati dkk 2014).

Dua kabupaten yang mempunyai luas lahan terbesar yaitu Ogan Komering Ilir (27,8 %) dari total lahan lebak di Sumatera Selatan. Lahan rawa lebak tersebut dimanfaatkan untuk beebagai jenis kegiatan pertanian, terutama untuk budidaya padi.

Di wilayah tersebut, petani padi sawah lebak telah menjalankan proses pertanian padi secara turun-temurun. Padi yang mereka tanam adalah padi lokal yang disebut dengan padi pegagan. Jenih padi ini telah mereka akui sebagai benih padi yang memiliki ketahanan terhadap serangan-seragam beragam contoh hama. 

  1. Di Kalimantan

Selain petani Melayu di Sumatera, lahan rawa lebak juga telah diupayakan oleh petani Banjar dan petani Bugis secara tradisional di sepanjang pedalaman sungai di Kalimantan. Usahatani, khususnya padi di lahan rawa lebak tersebut semakin berkembang setelah pemerintah membangun polder di sepanjang sungai sehingga air banjir bisa dikontrol, seperti halnya polder Alabio dan polder Manteren di Kalimantan.

Di lahan rawa lebak tersebut petani bisa melakukan penanaman padi dua kali setahun bahkan tiga kali dengan diselingi penanaman palawija dan sayuran. Dalam terminologi petani Kalimantan,  lahan rawa lebak yang ditanami padi ketika musim hujan dinamakan sawah barat dan jenis padinya dinamakan padi surung atau disebut juga padi air dalam (deepwater rice).

Padi surung atau padi air dalam ini  memiliki sifat khusus, yaitu bisa memanjang (elongate) mengikuti kenaikan genangan air dan dapat bangkit kembali apabila rebah. Kemampuan memanjang itu disebabkan karena pertumbuhan buku akar yang terus menerus yang pada padi sawah umumnya tidak ditemukan.

Sedangkan  lahan rawa lebak yang ditanami padi ketika musim kemarau dinamakan sawah timur dan jenis padinya dinamakan padi rintak atau padi rawa lebak.  Jenis padi ini tidak bergantung musim seperti padi lokal pada umumnya yang dibudidayakan di lahan rawa dan berumur pendek (4 bulan).

Nah, itulah tadi materi lengkap yang dapat kami berikan kepada segenap pembaca terkait dengan pengertian sawah lebak menurut para ahli, ciri, dan contohnya di sistem pertanian Indonesia. Semoga melalui artikel ini bisa memberikan wawasan serta menambah pengetahuan mendalam. Trimakasih,

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *