Pengertian Sawah Tadah Hujan, Ciri, dan Contohnya

Diposting pada

Sawah Tadah Hujan Adalah

Di Indonesia, pada umumnya ada tiga macam sawah yang dikembangkan, yaitu sawah dalam arti irigasi, sawah pasang surut, dan sawah tadah hujan. Secara sederhana, sawah tadah hujan sebagaimana namanya yaitu sawah yangg mendapat air dari air hujan atau dapat dikatakan sebagai sawah tadahan.  Hal itu menunjukkan bahwa curah hujan adalah penentu penting dari hasil padi sawah tadah hujan, tetapi faktor-faktor lain seperti topografi dan kesuburan tanah juga mempengaruhi hasil gabah dan pilihan kultivar.

Pada musim hujan sawah ini biasanya ditanami padi jenis gogo rancah. Untuk memperjelas pemahaman kita tentang sawah tadah hujan, artikel ini akan mengulas tentang pengertian sawah tadah hujan, ciri, dan contohnya.

Sawah Tadah Hujan

Di Asia, yang menumbuhkan 96% dari padi sawah tadah hujan dunia, musim hujan adalah sumber curah hujan yang menjadi faktor penting terhadap keberadaan sawah tadah hujan.  Karakteristik sirkulasi atmosfer monsun barat daya unik untuk Asia. Ini dihasilkan oleh sabuk panas radiasi intens yang menumpuk selama bulan-bulan musim panas (April hingga Juni) di daratan Asia.

Perbedaan suhu antara massa daratan yang terlalu panas dan lautan di selatan dan timur, yang tetap dingin, menciptakan musim hujan. Hujan monsun yang dihasilkan sebagai akibat dari pola sirkulasi udara ini menyapu secara luas ke daratan dalam pola gelombang.

Angin musiman membalikkan diri di akhir tahun ketika massa daratan mendingin lebih cepat daripada lautan, sehingga musim hujan surut, lagi-lagi dalam gelombang. Ada tiga pola monsun yang berbeda: monsun India (Asia Selatan), monsun Melayu (Indonesia, Filipina, sebagian besar daratan Asia Tenggara, dan sebagian besar Cina), dan monsun Jepang (Asia timur).

Panjang musim tanam di sebagian besar Asia ditentukan oleh waktu kedatangan musim hujan barat daya. Sistem klasifikasi agroklimatik untuk padi yang dikembangkan oleh Huke (1982a) mengasumsikan bahwa musim tanam padi terdiri dari bulan-bulan di mana curah hujan rata-rata melebihi 200 mm (Oldeman, 1980).

Hal tersebut mengasumsikan jumlah rata-rata ini mencukupi untuk padi sawah, mengingat tingkat penguapan yang diharapkan, rembesan, dan perkolasi yang biasa diamati di lahan tadah hujan.

Pengertian Sawah Tadah Hujan

Sawah tadah hujan adalah jenis sawah yang sumber pengairannya tergantung pada air hujan. Lahan pada sawah tadah hujan adalah suatu lahan yang mempunyai pematang, tapi tidak bisa diairi degan ketinggian dan waktu tertentu secara berkelanjutan.

Oleh sebab itu, definisi sawah ini mulai dikerjakan jika telah memasuki musim penghujan dan akan berhenti atau tidak ditanami ketika musim penghujan selesai.

Sehingga dapat dikatakan bahwa pengairan lahan sawah tadah hujan sangat bergantung pada curah hujan dan untuk mendapatkan sumber air dikawasan sawah tadah hujan sangat sulit karena jika telah memasuki musim kemarau sering terjadi kekeringan.

Sawah tadah hujan memiliki fungsi yaitu dapat menampung atau menyangga genangan air ketika terjadi hujan atau pada musim hujan, sehingga sawah ini hanya digunakan dalam periode tertentu berdasarkan pada musim hujan.

Sawah tadah hujan juga mengalami perubahan kimia tanah yang diakibatkan oleh penggenangan tanah sawah yang sangat mempengaruhi dinamika dan ketersediaan unsur hara untuk tanaman padi sehingga kebutuhan nutrisinya tercukupi.

Selain itu, fungsi sawah tadah hujan juga baik untuk dikembangkan pada daerah yang berada di wilayah curah hujan yang cukup konsisten dan jauh dari aliran perairan.

Terdapat dua jenis sawah tadah hujan, yaitu ada yang terletak di tempat yang lebih tinggi dan mengalami “pengeringan” selama periode curah hujan rendah dan yang terletak di daerah dataran rendah dan rentan terhadap banjir.

Budidaya penting dan perikanan tangkap ditemukan di sawah dataran rendah, tetapi sawah di dataran tinggi (upland rice-fields) tidak dipisahkan oleh gumpalan dan tidak dapat menahan air untuk waktu yang lama. Tapi, sawah yang di dataran tinggi adalah habitat penting misalnya untuk  katak, serangga, dan tikus sawah.

Pengertian Sawah Tadah Hujan Menurut Para Ahli

Adapun definisi sawah tadah hujan menurut para ahli, antara lain adalah sebagai berikut;

Pirngadi dan Mahkarim (2006)

Lahan sawah tadah hujan ialah lahan sawah yang sumber air pengairannya tergantung atau berasal dari curahan hujan tanpa adanya bangunan-bangunan irigasi permanen. Hasil padi di lahan sawah tadah hujan biasanya lebih tinggi dibandingkan dengan di lahan kering (gogo), sebab air hujan bisa dimanfaatkan dengan lebih baik (tertampung dalam petakan sawah).

Lahan sawah tadah hujan umumnya tidak subur (miskin hara), sering mengalami kekeringan, dan petaninya tidak mempunyai modal yang cukup, sehingga agroekosistem ini disebut juga sebagai daerah miskin sumber daya.

Wikipedia

Sawah tadah hujan ialah sawah yang sistem pengairannya sangat mengandalkan curah hujan. Jenis sawah ini menghasilkan hanya di saat musim hujan. Di musim kering sawah ini dibiarkan tidak diolah karena air sulit diperoleh atau bahkan tidak ada sama sekali.

Oleh sebab itu, sawah tadah hujan umumnya hanya dipanen setahun sekali. Intensitas penggunaan tenaga kerja di sawah tadah hujan lebih tinggi karena petani harus menyulam (menanam kembali) lebih sering dibandingkan sawah beririgasi, akibat suplai air yang tidak stabil.

Ciri Sawah Tadah Hujan

Lahan sawah tadah hujan memiliki ciri-ciri yaitu sebagai berikut;

  1. Pengairan tergantung pada turunnya air hujan;
  2. Kandungan unsur hara rendah maka tingkat kesuburan tanah juga rendah;
  3. Bahan organik relative rendah dan sulit dipertahankan dalam jangka panjang;
  4. Produktivitas rendah (3,0 – 3,5 ton per hektar)

Petani cenderung mengkategorikan budidaya dalam tanaman padi tadah hujan sesuai dengan lingkungan di mana kultivar akan tumbuh; yaitu, kategori didasarkan pada faktor ekologi, seperti kedalaman air, yang membedakan zona adaptasi kultivar.

Kultivar artinya ekelompok tumbuhan yang telah dipilih/diseleksi untuk suatu atau beberapa ciri tertentu yang khas dan bisa dibedakan secara jelas dari kelompok lainnya, serta tetap mempertahankan ciri-ciri khas tersebut jika diperbanyak dengan cara tertentu, baik secara seksual maupun aseksual

Susunan lingkungan yang kompleks yang mendukung makna budidaya padi tadah hujan telah memunculkan banyak istilah deskriptif. Faktanya, 23 sistem terminologi yang berbeda telah dikompilasi dari seluruh dunia (Garrity 1984).

Padi sawah tadah hujan terdiri dari lima lingkungan, yang diklasifikasikan berdasarkan kondisi hidrologisnya – faktor yang paling kuat mempengaruhi pilihan kultivar petani dan praktik manajemen. Klasifikasi tersebut, antara lain adalah sebagai berikut;

  1. Lingkungannya dangkal, menguntungkan (shallow, favorable)
  2. Lingkungan dangkal, rawan kekeringan (shallow, drought-prone)
  3. Lingkungan dangkal, rawan kekeringan dan rawa (shallow, drought- and  submergence-prone)
  4. Lingkungan dangkal, rawan tenggelam (submergence-prone)
  5. Lingkungan menengah yang dalam, tergenang air (medium-deep, waterlogged)

Contoh Sawah Tadah Hujan

Kebanyakan beras tradisional tadah hujan memiliki distribusi geografis yang terbatas; rentang adaptasinya sering terbatas pada satu negara. Di Asia Selatan, konsentrasi utama padi sawah tadah hujan adalah di bagian timur dan timur laut India dan Bangladesh (Lihat peta di bawah).

Sabuk dataran rendah tadah hujan utama meliputi negara bagian India di Uttar Pradesh (timur), Bihar, Madhya Pradesh, Orissa, Benggala Barat, dan Assam dan daerah-daerah yang berdekatan di Nepal selatan dan Bangladesh. Meskipun mereka umumnya dianggap berada di luar sabuk tadah hujan utama, Sri Lanka dan negara bagian Tamil Nadu di India selatan adalah rumah bagi beberapa kultivar dataran rendah tadah hujan yang penting.

Selain di Asia Selatan persebaran sawah tadah hujan, khususnya yang ditanami padi juga berada di wilayah Asia Tenggara. Contoh varietas tradisional padi sawah tadah hujan di Asia Tenggara terkonsentrasi di dataran banjir dan delta sistem sungai besar dan lembah pedalaman di benua Asia Tenggara.

Myanmar (sebelumnya dikenal sebagai Burma) didominasi oleh ekosistem dataran rendah tadah hujan; sehingga banyak dari kultivar tradisionalnya adalah varietas dataran rendah tadah hujan.

wilayah persebaran sawah tadah hujan di dunia
Gambar: Peta Asia Selatan dengan persentase wilayah yang dicakup oleh padi sawah tadah hujan untuk setiap negara

Myanmar memiliki sejumlah kultivar dataran rendah tadah hujan yang penting. Salah satu yang paling menarik adalah Ngwetoe, yang merupakan contoh langka dari kultivar peka cahaya (agak semi-kerdil). Dataran rendah tadah hujan Laos bersebelahan dengan dataran di timur laut Thailand, di seberang Sungai Mekong; jadi, kondisi yang berkembang dan pilihan varietas di kedua daerah itu serupa.

Hampir semua varietas lokal bersifat ketan. Sekitar 30% area ditanami dengan varietas berdurasi pendek, yang kurang sensitif atau tidak peka terhadap penyinaran.

Di dataran rendah tadah hujan Kamboja, varietas padi yang dominan sensitif terhadap fotoperiode dan berdurasi panjang, berbunga dari pertengahan November hingga pertengahan Desember. Banyak kultivar lokal populer di kalangan petani.

Nah, demikianlah serangkaian artikel yang telah kami tuliskan kepada segenap pembaca secara lengkap terkait dengan pengertian sawah tadah hujan menurut para ahli, ciri, dan contoh persebarannya di dunia. Semoga melalui materi ini bisa menambah wawasan. Trimakasih,

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *