Sejarah Penemuan Insektisida dan Perkembangannya

Diposting pada

Sejarah Penemuan Insektisida

Hama adalah organisme yang merusak sumber daya, yang terpenting dapat menganggu perkembangan dan tumbuhnya tanaman pangan. Sehingga penemuan atas insektisida sebagai kelompok utama pestisida dalam pemanfaatan bahan kimia anorganik atau organik, baik alami atau sintetis, untuk membunuh hama serangga.

Kondisi tersebut sangatlah bermanfaat bagi keberlangsungan lahan pertanian yang menghasilkan. Oleh sebab itulah pada artikel ini akan menjelasakan terkait sejarah insektisida dan perkembangannya.

Insektisida

Insektisida adalah zat kimia yang digunakan untuk membunuh serangga dan artropoda lainnya. Insektisida bisa mempengaruhi pertumbuhan, perkembangan, tingkah laku, perkembangbiakan, kesehatan, sistem hormon, sistem pencernaan, serta aktivitas biologis lainnya hingga berujung pada kematian serangga pengganggu tanaman. Insektisida termasuk salah satu jenis pestisida.

Insektisida tertentu telah dilarang karena efek buruknya pada hewan atau manusia. Dursban (chlorpyrifos) adalah salah satu yang telah dilarang.

Dursban menyebabkan kelemahan, muntah, diare dan efek buruk lainnya pada anak-anak. Dursban ada di ratusan produk termasuk beberapa semprotan Raid, Hartz yard and kennel flea spray, dan Black Flag cairan kecoak dan pembunuh semut.

Sejarah Insektisida

Penjelasan tentang sejarah penemuan insektisda ini bermua dari adanya serangga yang tergolong sebagai hama tanaman yang paling sering menyerang. Dari jutaan, atau lebih, spesies serangga, sekitar 10.000 memakan tanaman dan, dari jumlah tersebut, sekitar 700 spesies menyebabkan sebagian besar kerusakan pada tanaman, baik yang tumbuh di ladang atau di gudang setelah panen.

Sementara itu, beberapa serangga bertindak sebagai vektor untuk transmisi mikroba penyebab penyakit. Mungkin yang paling terkenal adalah nyamuk Anopheles yang membawa parasit malaria. Lalat tsetse membawa penyakit tidur, yang termasuk penyakit tropis utama.

Atas permasalahan tersebut penemuan atas insektisida paling awal berasal dari sekitar 1000 SM, ketika pembakaran belerang digunakan untuk mengusir serangga. Tembakau, cuka, arsenik, air garam, terpentin, dan gas hidrogen sianida juga telah dicoba.

Era insektisida modern dimulai dengan penemuan DDT, dichloro-diethyl-trichloroethane, oleh ahli kimia Swiss Paul Müller (1899–1965) pada tahun 1939.

DDT digunakan secara luas selama Perang Dunia II tepatnya pada Tahun 1939 sampai 1945 untuk melindungi pasukan dari serangga, penyakit yang ditularkan. DDT murah, mudah diterapkan, dan sangat efektif. Ini membunuh berbagai serangga.

Perkembangan Insektisida

Selanjutnya, untuk perkembangan atas penemuan ini berawal pada 1950-an, itu banyak digunakan untuk memerangi serangga, disemprotkan secara bebas pada rumah dan tanaman dan bahkan untuk membersihkan manusia dan hewan.

Penemuan yang dikembangkan oleh musller dianggap sangat penting sehingga ia dianugerahi Hadiah Nobel untuk fisiologi atau kedokteran untuk karyanya pada tahun 1948.

Atas sejarah dalam penemuan tersebutlah. Barulah sejatinya beberapa ahli menjelasakan terkait dengan beragam jenis insektisida. Lebih lanjut, sebagai berikut;

  1. Sudarmo (2005), Insektisida dapat diartikan sebagai subtansi kimia yang digunakan untuk membunuh atau mengendalikan berbagai hama.
  2. Soemirat (2003), Insektisida berasal dari bahasa latin insectum yang artinya potongan, keratan, atau segmen tubuh, seperti segmen yang ada pada tubuh serangga.
  3. Munaf (1995), Insektisida dapat didefenisikan sebagai bahan yang bisa digunakan untuk mengendalikan populasi jasad yang dianggap sebagai vector yang secara langsung ataupun tidak langsung merugikan kepentingan manusia.

Itulah tadi penjelasan secara lengkap kepada segenap pembaca terkait dengan sejarah dalam penemuan insektisida menurut para ahli dan proses perkembangannya. Semoga melalui materi ini bisa memberikan wawasan dan menambah pengetahuan bagi pembaca sekalian. Trimakasih,

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *