Macam Sistem Budidaya Polikultur dan Contohnya

Diposting pada

Sistem Polikultur

Dalam dunia pertanian sering kita jumpai beragam teknik budidaya tanaman, baik itu tanaman pangan, tanaman sayur dan buah, tanaman dalam jenis perkebunan, maupun tanaman kayu atau kehutanan. Tanaman-tanaman tersebut dibudidayakan polikultur dan monokultur dengan tujuan utama yaitu komersialiasi pertanian. Sedangkan untuk metode tersebut tentu saja ditentukan dengan kondisi lahan, jumlah dan skala produksi, serta banyaknya permintaan untuk menjaga suplai bahan-bahan pertanian.

Beberapa kondisi yang cocok untuk pertanaman monokultur adalah sistem pertanian  dengan orientasi perkebunan dan indsutri yang intensif sekaligus skala besar. Sementara polikultur berupa kebutuhan skala rumah tangga yang dapat dipanen menyesuaikan musim dan juga kebutuhan di pasaran.

Polikutlur

Polikultur atau metode pertanaman majemuk merupakan metode budidaya tanaman yang menggunakan sistem pertanaman dengan lebih dari satu jenis atau banyak varietas tanaman pada suatu area lahan pertanian.

Pada sistem polikultur jarak pertanaman yang renggang menjadikan keuntungan bagi sistem pertanaman ini. Ruang-ruang kosong diantara baris pertanaman yang belum terisi dapat dimanfaatkan untuk menanam tanaman lain yang berpotensi menjadi pendukung tanaman utama seperti tanaman penaung atau tanaman penutup lahan.

Metode polikultur sendiri dalam implementasiannya memiliki manfaat seperti pengendalian hama penyakit, fungsi ekologi, dan juga kemampuan dalam memanajemn tanaman seperti halnya pemanenanan berdasarkan jumlah yang dibutuhkan dan kesesuaian permintaan pasar.

Sistem Pertanaman Polikultur

Terdapat beberapa contoh dan juga penjelasan mengenai sistem pertanaman polikultur dalam arti budidaya untuk pertanian. Antara lain;

  1. Tumpang gilir

Sistem Polikultur Tumpang gilir
Tumpang gilir

Tumpang gilir atau secara isitlah dapat disebut dengan sistem rotasi tanaman. Sistem rotasi tanaman adalah suatu metode penanaman berdasarkan waktu dan kondisi lahan dan disesuaikan dengan tanaman yang cocok untuk pertanaman. Secara teknis tumpang gilir biasanya dilakukan pada tanaman palawija dan sayur-sayur untuk digilir waktu penanamannya.

Contoh penamanan seperti setelah dilakukan penaman tanaman umbi-umbian dilakukan penanaman tanaman kacang-kacangan untuk memperbaiki suplai hara dalam tanah, setelah itu tamanan kacang-kacangan yang sudah panen dapat digilir dengan tanaman sayur yang memerlukan kondisi ideal pertanaman.

Dan setelah tanaman  sayur dan kondisi cuaca kurang mendukung dapat diganti dengan tanaman palawija. Siklus ini dapat diubah sesuai dengan kondisi dan waktu.

  1. Tumpang sari

Polikultur Tumpang sari
Tumpang sari

Tumpang sari atau bisa disebut dengan multiple crop adalah metode pertanaman dengan pengelolaan jarak tanam dan juga efisiensi dari lahan karena terdapat ruang kosong yang masih dapat diisi dengan varietas lainnya. Varietas pada tumpang sari biasanya dapat berisi dua hingga tiga pada setiap areal pertanaman.

Tanaman yang paling sering digunakan sebagai tanaman tumpang sari adalah tanaman berjenis sayura-sayuran atau merupakan tanaman semusim. Hal ini karena tanaman semusim daya panenya lebih cepat dan serempak.

Selain itu, syarat dari tumpang sari adalah antar tanaman saling bersimbiosis, toleransi antar tanaman tinggi,  dan tidak bersifat alelopat terhadap tanaman lain. Contoh dari tumpang sari adalah tanaman kacang tanah dengan ketela pohon, tanaman kacang panjang dengan kangkung darat, sawi dengan selada, dan tanaman-tanaman sayuran lainnya.

  1. Agroforestri

Sistem Polikultur Agroforestri
Agroforestri

Agroforestri atau biasa disebut dengan nama lain wanatani yang berarti perpaduan antara pertanian dengan kehutanan. Agroforestri merupakan sistem pertanian yang dilakukan dengan cara polikultur dengan maksud agar terjadinya keselarasan lingkungan dengan alam.

Pertanian dengan konsep kehutanan memadukan tanaman hutan dengan tanaman pangan agar dapat mengefisiensikan sisa ruang dan juga adanya keberagaman.

  1. Tanaman Bersisipan

Polikultur Tanaman Bersisipan
Tanaman Bersisipan

Metode tanaman sisipan merupakan metode yang hampir sama pada tumpang sari pada umumnya, namun memanfaakan manajemen penanaman yang berbeda pada setiap pertanamannya. Metode ini memanfaatkan perbedaan waktu panen varietas. Biasanya pertanaman dengan metode sisipan merupakan tanaman sayur-sayuran.

Komoditas sayuran merupakan komoditas dengan waktu panen yang relatif singkat sehingga dalam pemanenanya dapat dibedakan. Tanaman sisipan biasanya berupa tanaman yang tidak terlalu mempengaruhi tanaman yang memang sengaja ditanam.

Namun, pada beberapa kondisi tanaman sisipan biasanya merupakan budidaya hasil dari memanfaatkan tanaman buah yang disisipkan tanaman  sayuran yang pada dasarnya adalah tanaman semusim.

  1. Tanaman Campuran

Tanaman Campuran
Tanaman Campuran

Tanaman campuran merupakan salah satu  metode polikultur yang memiliki konsep yang hampir sama seperti tumpang sari. Namun, hal yang membedakan adalah pada varietas utamanya. Pada tumpang sari, tanaman utama diselingi dengan tanaman varietas lain sebagai pengisi.

Sementara pada tanaman campuran memang tidak terdpaat tanaman utama dan tidak terdapat pengaturan jarak tanam.

Contoh pada tanaman campuran adalah kebun rumah atau greenhouse yang memang ditanam tanpa memperhatikan jarak dan keberagaman tanamannya juga lebih banyak.

Demikianlah ulasan lengkap yang bisa kami bagikan pada semua pembaca. Berkaitan dengan macam sistem budidaya polikultur dan contohnya dalam bidang pertanian, khususnya tanaman. Semoga bisa memberikan referensi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *