Solusi Mengatasi Pertanian Lahan Kering dan Contohnya

Diposting pada

Solusi Mengatasi Permasalahan Lahan Kering

Pengembangan berbagai arti budidaya tanaman pada lahan pertanian kering memerlukan perhatian mengenai pengelolaanya dan sumber air yang digunakan. Sumber air menjadi faktor utama dalam usahanya.

Lahan kering terkadang terdapat di wilayah dengan kategori rawan pangan, dengan ciri-ciri sumber daya manusia rendah, daya dukung lahan pertanian untuk pemenuhan kebutuhan produksi pangan relatif terbatas dan sarana prasarana terbatas. Oleh karena itulah diperlukan stimulasi yang bisa menjadi solusi dalam mengatasi permasalahan ini.

Pertanian Lahan Kering

Lahan kering pada bidang pertanian biasanya terjadi disebabkan curah hujan di wilayah tersebut sangat rendah sehingga ketersediaan air terbatas, suhu udara tinggi dan kelembabanya menjadi rendah. Lahan kering dapat dijumpai di daerah antisiklon tropisme.

Daerah antisiklon tropisme dicirikan dengan adanya perputaran angin di daerah selatan (searah jarum jam) dan perputaran angin di utara garis khatulistiwa (berlawanan arah jarum jam).

Solusi Mengatasi Lahan Kering pada Pertanian                            

Untuk mengatasi lahan kering supaya dapat dikembangkan sebagai salah sat jenis lahan pertanian, terdapat upaya-upaya yang dilakukan antara lain:

  1. Pengelolaan Kesuburan Tanah

Kesuburan tanah harus berkualitas dari segi fisik, kimia, dan biologi tanah. Pengelolaan kesuburan tanah bukan hanya memberikan pupuk saja untuk meningkatkan kesuburan kimia tanah karena meningkatnya unsur hara esensial. Namun, juga diperlukan pemeliharaan terhadap sifat fisik tanah agar areal pertumbuhan tanaman terjaga dan biologi tanah (mikroogranisme tanah/biota tanah) dapat menunjang aktivitas di dalam tanah.

Upaya dalam pengelolaan kesuburan tanah yang penting dilakukan adalah pemupukan berimbang. Hal ini dapat mengoptimalkan produktivitas tanah yang lebih baik. Pemupukan berimbang dan pemantauan status hara harus dilakkan secara skala.

Apabila pupuk kimia diberikan secara tidak tepat akan menyebabkan kehilangan unsur hara sehingga tanaman akan mengalami penurunan baik segi kualitas maupun kuantitas seperti waktu, takaran, dan penempatan pupuk yang salah. Hal seperti inilah apabila dalam jangka panjang dapat menyebabkan ketidakseimbangan unsur hara di dalam tanah sehingga produktivitas tanaman menurun.

Penggunaan pupuk organik sangat diperlukan bagi tanah dan tanaman. Hal ini karena manfaat pupuk organik mengandung unsur hara yang kompleks (makro dan mikro) yang tidak ada di dalam pupuk kimiawi. Pupuk organik penting karena dapat memperbaiki kualitas tanah baik sifat fisik, kimia, dan biologi tanah.

Penggunaan pupuk hayato sekarang juga sudah digunakan oleh banyak petani. Pupuk hayati atau bisa disebut biofertilizer dapat berupa pupu mikroba untuk memacu pertumbuhn dan pengendali hama, pupuk mikroba untuk melarutkan fosfat, dan pupuk mikro flora tanah multiguna.

  1. Konservasi Tanah dan Rehabilitasi Lahan

Adanya erosi dapat menurunkan produktivitas lahan kering apalagi jika lahan tersebut ditanami dengan tanaman semusim berupa tanaman pangan. Tanaman semusim yang ditanam di lahan kering apabila tidak disertai dengan konservasi tanah akan menyebabkan erosi. Konservasi tanah perlu dilakukan di lahan kering supaya usaha tani dapat berkelanjutan.

Sudah banyak teknik konservasi yang dijadikan sebagai alternatif dalam mencegah erosi yaitu membuat teras gulud yang digunakan tanah dangkal, rorak atau konservasi vegetatif misalnya strip rumput dan alley cropping.

Teknik konservasi vegetatif atau rorak memiliki kelebihan yaitu murah, perawatannya mudah dan dapat dijadikan sebagai sumber pakan dan pupuk hijau tergantung komoditas tanaman yang digunakan. Biasanya teknik konservasi vegetatif dipadukan dengan teknik konservasi mekanik agar lebih efektif dalam mengendalikan erosi.

Pola tanam juga perlu diatur supaya permukaan lahan selalu tertutup dengan vegetasi/serasah yang berguna dalam konservasi tanah. Keseimbangan dalam penanaman tanaman semusim dan tanaman tahunan perlu diperhatikan dalam konservasi tanah agar dapat mencegah erosi seperti semakin curam lereng maka seharusnya proporsi tanaman tahunan juga semakin tinggi.

Kegiatan rehabilitasi pada lahan yang telah terdegradasi dapat menunjang lahan kering optimal seperti pemanfaatan tanaman legum penutup ataupun tanaman yang menghasilkan bahan organik lainnya seperti strip cropping ataupun alley cropping. Bahan pembenah tanah baik mineral maupun organik perlu dimanfaatkan untuk merehabilitasi lahan terdegradasi.

  1. Seleksi Teknologi Tepat Guna

Kegiatan seleksi teknologi tepat guna perlu diperhatikan supaya dapat menyesuaikan kondisi lahan (iklim, air, dan tanah) dan petani. Teknologi pengelolaan lahan kering yang umunya digunakan antara lain konservasi tanah, pengelolaan bahan organik tanah, pengelolaan air dan pemupukan berimbang, serta peningkatan kesuburan tanah.

Oleh karena, mengetahui data terkait karakteristifik lahan dan petani supaya dapat memilih teknologi yang tepat guna untuk digunakan. Karaktertistik lahan dapat diketahu dengan melakukan pemetaan skala detail ( 1:25.000) atau lebih detal (1:5.000) sehingga kita dapat memilih teknologi dan komoditas yang akan dibudidayakan. Kondisi petani baik aspek sosial ekonomi juga dapat disurvei secara langsung dengan PRA (Participatory Rural Appraisal).

  1. Diseminasi Teknologi

Biasnya adopsi dan diseminasi teknologi berjalan lambat seperti dalam pengelolaan lahan baik air, tanah, maupun iklim.

Umumnya pengetahuan teknologi tersebut telah diinformasikan melalui seminar, jurnal, media cetak, elektronik, bahkan simposium namun terdapat kendala di akses penyuluh ke petani. Akses yang masih terbatas mempengaruhi informasi yang didapat oleh petani.

Diseminasi perlu dilakukan secara langsung supaya informasi mengenai teknologi pengelolan lahan dapat terserap dengan baik oleh petani dan petani juga dapat berdekatan dengan sumber teknologi. Contoh dari diseminasi teknologi adalah mengembangkan peluang tanaman pangan di lahan kering.

Contoh Pemanfaatan

Meskipun lahan kering hanya mengandalkan hujan sebagai sumber air, namun tetap dapat dimanfaatkan antara lain:

  • Budidaya tanaman pangan

Total luas lahan kering yang ada biasanya terdapat di dataran rendah. Lahan kering di daerah kering dapat dimanfaatkan untuk budidaya pertanian seperti menanam tanaman semusim berupa tanaman pangan. Hal ini seperti pada tanaman berikut ini;

  1. Jagung
  2. Kacang tanah
  3. Kedelai
  4. Padi
  • Perkebunan dan Perikanan

Lahan kering juga potensial untuk dijadikan lahan pertanian dalam arti perkebunan apabia dilakukan pengelolaan teknologi pertanian yang tepat guna. Tanaman perkebunan bisa ditanami dengan kelapa sawit, kopi, dan karet. Bahkan ada beberapa wilayah yang memanfaatkan lahan kering untuk budidaya tebu, kehutanan, peternakan bahkan perikanan (darat).

Itulah bahasan lengkap yang bisa dituliskan pada semua pembaca berhubungan dengan solusi dalam mengatasi permasalahan pertanian pada lahan kering dan contohnya usaha yang bisa dilakukannya. Semoga memberikan edukasi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *