Teknologi EM (Effective Microorganisms) dalam Pertanian

Diposting pada

Teknologi EM Pertanian

Teknologi EM yang juga dikenal dengan dalam Bahasa Inggris dengan effective microorganisms metupakan bagian tak terpisahkan dari manajemen pertanian terpadu. Dimana dalam sistem manajemen pertanian dengan mempergunakan EM ini secara keseluruhan yang bertujuan untuk memberikan dan mengelola beragam jenis lahan pertanian yang lebih berkelanjutan.

Lantas apa yang dimaksud dengan pengertian teknologi EM (effective microorganisms) dalam pertanian. Berikut penjelasan lengkapnya;

Teknologi EM (Effective Microorganisms)

Sejatinya teknologi EM (Effective Microorganisms) telah dikembangkan dengan cukup baik oleh oleh Institut Pengembangan Sumber Daya Alam (IPSA) di Bali. Model ini memadukan beragam arti budidaya tanaman, perkebunan, petemakan, perikanan, dan pengolahan daur limbah secara selaras, serasi, dan berkesinambungan.

Budidaya tanaman yang dipilih dengan pemanfaatan teknologi EM ini pada umumnya adalah jenis tanaman semusim dan tahunan. Antara lain seperti;

  1. Berbagai jenis tanaman padi
  2. Beragam macam tanaman palawija
  3. Buah-buahan
  4. Sayur-sayuran
  5. Cengkeh
  6. Kopi
  7. Tanaman Kelapa
  8. Dan sebagainya

Alasan melakukan rotasi tanaman tersebut ialah melihat kebutuhan inputbudi daya tanaman menggunakan prinsip penggunaan masukan luar rendah (low external input), yaitu misalnya penggunaan pupuk kimia dan pestisida seminimal mungkin atau bahkan tanpa menggunakan pupuk kimia dan pestisida sama sekali.

Penerapan sistem pertanian model terpadu dengan memanfaatkan limbah organik dari kotoran temak dan sisa-sisa tanaman difermentasikan dengan teknologi EM menjadi pupuk organik terfermentasi atau bokhasi dalam waktu yang cepat.

Metode Teknologi EM (Effective Microorganisms) Pertanian

Adapun untuk metode yang dipergunakan dalam pemanfaatan melalui teknologi EM, antara lain sebagai berikut;

Bokhasi

Bokhasi yaitu sebuah metode pengomposan yang bisa dilakukan dengan menggunakan starter aerobik maupun anaerobik untuk mengkomposkan bahan organik, yang biasanya berupa campuran molasses, air, starter mikroorganisme, dan sekam padi.

Pupuk kompos yang sudah jadi bisa digunakan sebagian untuk proses pengomposan berikutnya, sehingga proses ini bisa dilakukan secara berulang dengan cara yang lebih efisien.

Starter yang bisa digunakan sangat bervariasi, diantaranya yaitu bisa diinokulasikan dari material sederhana seperti kotoran hewan, jamur, spora jamur, cacing, ragi, acar, sake, miso, natto, anggur, bahkan bir, sepanjang material tersebut mengandung organisme yang bisa melakukan proses pengomposan.

Keseimpulan

Dari serangkaian penjelasan diatas, dapatlah dikatakan bahwa teknologi EM (effective microorganisms) dalam pertanian lebih melakukan kajian pendekatan dinamis, sehingga dapat diterapkan pada sistem pertanian di seluruh dunia.

Tentusaja hal ini melibatkan perhatian pada detail dan peningkatan berkesinambungan di semua bidang usaha pertanian melalui proses manajemen informasi. Dimana pada pertanian terpadu menggabungkan alat dan teknologi modern terbaik dengan praktik tradisional sesuai dengan lokasi dan situasi tertentu. Dengan kata sederhana, itu berarti menggunakan banyak cara budidaya di ruang kecil atau tanah.

Bahkan, menurut Preston (2000) dalam Bagas A. dkk (1993) memaksimalkan teknologi EM pada sistem pertanian terpadu dapat dilakukan untuk pengelolaan tanaman, hewan tenak dan ikan dengan lingkungannya untuk menghasilkan suatu produk yang optimal dan sifatnya cendrung tertutup  terhadap  masukan  luar.

Itulah tadi penjelasan secara lengkap kepada segenap pembaca terkait dengan pengertian teknologi EM (effective microorganisms), metode, dan contohnya. Semoga melalui artikel ini memberikan wawasan dan menambah pengetahuan bagi pembaca sekalian. Trimakasih,

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *